APSKI Dukung Program Nasional Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

• Thursday, 27 Apr 2017 - 14:17 WIB

Jakarta - Dalam rangka mempercepat serta mensinergikan upaya promotif dan preventif hidup sehat guna meningkatkan produktivitas dan menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan akibat penyakit, pemerintah lndonesia mengeluarkan instruksi Presiden (inpres) Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masvarakat Hidup Sehat (GERMAS). GERMAS merupakan gerakan yang digagas pemerintah untuk menumbuhkan dan meningkatkan kesadaran berperilaku hidup sehat di kalangan masyarakat indonesia. Fokus utama GERMAS untuk tahun 2016-2017 ini yakni melakukan olahraga secara teratur, konsumsi sayur dan buah, serta memeriksa kesehatan secara berkala.

Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kementerian Kesehatan, Dedi Kuswanda, mengatakan bahwa GERMAS diharapkan dapat membangkitkan kesadaran dan motivasi keluarga dan masyarakat bahwa sehat harus dimulai dari diri sendiri. Sebab, saat ini indonesia menghadapi tantangan berupa perubahan pola gaya hidup masyarakat yang ditengarai menjadi penyebab terladinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi) dalam 30 tahun terakhir. Pergeseran pola penyakit ini akan menjadi hambatan terhadap upaya peningkatan derajat kesehatan dan produktivitas masyarakat dan semakin besarnya biaya pengobatan yang dibutuhkan.

Pergeseran pola penyakit dapat dilihat dari beberapa fakta diantaranya, pada era 1990-an, penyebab kematian dan kesakitan terbesar adalah penyakit menular seperti infeksi Saluran Pernapasan Atas (iSPA), Tuberkulosis (TBC), dan Diare. Namun sejak 2010, penyakit tidak menular (PTM) seperti Stroke, Jantung, dan Kencing manis (penyakit katastropik) memiliki proposi lebih besar di pelayanan kesehatan. Hal ini dipicu oleh perubahan pola gaya hidup masyarakat ke arah gaya hidup tidak sehat antara lain seperti kurangnya aktivitas fisik, kurang mengkonsumsi sayur dan buah, merokok, konsumsi alcohol.

“Produktivitas dan kemajuan negara ini mendapat tantangan dari sisi kesehatan dengan berbagai fakta di atas. Maka dari itu, gerakan positif ini perlu didukung dari berbagai pihak, tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, kementerian dan lembaga pemerintahan serta masyarakat, namun juga pihak swasta dan seluruh pemangku kepentlngan yang ada, Asosiasi Pengusaha Suplemen Kesehatan lndonesia (APSKI) mendukung penuh gerakan ini. Evolusi penyakit juga harus dihadapi dengan evolusi pola gaya hidup masyarakat serta evolusi upaya pemenuhan nutrisi bagi masyarakat,” ujar Patrick A. Kalona, Ketua Umum APSKI.

Sementara, Dewan Pakar ilmiah international Alliance of Dietary Supplement Associations (IADSA), Andrew Show, mengatakan bahwa para berlaku di industry nutrisi telah menyadari akan terjadinya fenomena pergeseran pola gaya hidup yang akan berakibat pada pergeseran pola penyakit. ilmuwan gizi dan pembuat kebijakan di negara maju, telah menggeser fokus mereka dari sebelumnya berurusan dengan penyakit yang disebabkan kekurangan nutrisi ke paradigma baru yang bertujuan untuk mensatasl kondisi kelebihan nutrisi. Keilmuan tentang nutrisi telah melakukan evolusi, mulai dari menggunakan pendekatan reduksionis.

"Pendekatan ini telah diperluas dalam beberapa tahun terakhir untuk menjadi lebih holistik agar masyarakat lebih memahami peran konteks yang lebih luas dari pola diet. Pada akhirnya pendekatan ini akan berujung pada pemahaman penuh dari lanskap diet hubungan interaksi antara faktor gizi, diet, sosial, perilaku dan lingkungan," katanya.

Michelle Stout, pakar dari IADSA memaparkan pengalaman dan pengetahuannya mengenai pendekatan nutrisi untuk mengurangi dan mencegah PTM yang terbukti dapat mengurangi biaya perawatan kesehatan di beberapa negara maju. (ANP)