Sudah dilecehkan, Perempuan ini Diperkarakan ke Pengadilan

• Tuesday, 9 May 2017 - 08:01 WIB

Jakarta - Bukannya dapat keadilan, Baiq Nuril Maknun malah diseret ke pengadilan oleh mantan atasannya, yang diduga melakukan pelecehan seksual terhadap dirinya. Perempuan asal Pulau Lombok itu dituntut ke pengadilan dengan pasal UU ITE karena dituduh menyebarkan materi asusila berupa rekaman yang berisi perkataan atasannya, H Muslim, soal perbuatan asusilanya. Akibatnya, Nuril sudah ditahan sejak 24 Maret 2017.

Meminta Nuril dibebaskan, Southeast Asia Freedom of expression Network (SAFEnet) memulai petisi online change.org/SaveIbuNuril yang kini sudah didukung lebih dari 18 ribu orang. Dalam petisinya, SAFEnet menilai bahwa Nuril sesungguhnya adalah korban dari atasannya yang berperilaku seperti predator dan sistem hukum yang tidak berpihak kepada yang lemah.

“Jika merujuk pada kronologi yang disampaikan ibu Nuril, materi yang melanggar hukum tersebut sebetulnya adalah rekaman perkataan H Muslim yang menceritakan kepada Ibu Nuril perbuatan asusilanya sendiri dengan perempuan selain istrinya. Selanjutnya rekaman tersebut beredar bukan karena disebarkan oleh Ibu Nuril melainkan disalin oleh orang lain yang meminjam HP milik Ibu Nuril. Kemudian rekaman tersebut beredar luas dan H Muslim kemudian dimutasi dari jabatannya sebagai kepala sekolah SMAN 7 Mataram. Karena dendam dimutasi itulah, H Muslim berupaya mengkriminalisasi Ibu Nuril dengan memakai pasal 27 ayat 1 di dalam UU ITE,” terang Regional Coordinator SAFEnet, Damar Juniarto salam petisinya.

Menurutnya, ancaman pidananya tidak main-main karena Nuril bisa dipidana 6 tahun penjara dan denda maksimal 1 miliar rupiah sebagai penyebar materi asusila. Dalam catatan SAFEnet sejak 2008 sampai Mei 2017 tercatat paling tidak ada 37 pengaduan (19,37% dari total 191 pengaduan) yang menyeret perempuan ke ranah hukum dengan pasal-pasal represif di dalam UU ITE. Kasus-kasus yang menerpa perempuan ini kebanyakan tidak layak secara hukum dan melukai asas keadilan.

SAFEnet juga mencatat belakangan ini jumlah pengaduan dengan UU ITE di Provinsi Nusa Tenggara Barat melonjak sangat tinggi dan kebanyakan tidak memenuhi unsur pemidanaan sebagaimana yang diatur dalam penjelasan UU ITE. Kasus UU ITE terakhir juga menimpa seorang perempuan bernama Yusniar yang kini sudah bebas karena terbukti tak bersalah di pengadilan.

Gianinda Prila, penandatangan petisi #SaveIbuNuril menyatakan dukungannya, “Saya menuntut keadilan bagi kaum lemah seperti ibu nuril, dan penjarakan kepala sekolah mesum.”

Sementara itu Yohanes Dhysta, pendukung petisi lainnya juga mengomentari, “sebagai seorang ASN, seharusnya Bp. H. Muslim tidak cukup dimutasi, tetapi seharusnya diberhentikan tidak hormat. Selain itu, pemerintah sudah seharusnya mencabut pasal karet dalam UU ITE.”

Di petisi itu juga Damar menceritakan kondisi Nuril yang saat ini mengalami tekanan psikologis selama hampir dua bulan di penjara. “Dampak negatif dari penahanan Ibu Nuril adalah kesulitan keluarganya yakni suami dan 3 anaknya yang kini dilanda kesulitan keuangan karena suaminya yang tadinya bisa bekerja di Pulau Gili Air, terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya untuk mengurus ketiga anaknya yang masih kecil-kecil di Mataram dan sampai sekarang masih kesulitan menemukan pekerjaan baru.”

*Karena petisi baru dimulai, perubahan angka bisa cepat. Untuk mengetahui jumlah terakhir penandatangan petisi #SaveIbuNuril, klik di sini  

Change.org adalah wadah petisi online yang terbuka, bagi siapa saja dan di mana saja yang ingin memulai kampanye sosial demi perubahan positif. Dampak dari gerakan sosial melalui petisi online bisa dilihat di sini.

(MAR)