BMKG Akan Bisa Memprediksi Kapan Terjadinya Gempa Bumi

• Tuesday, 11 Jul 2017 - 20:39 WIB

JAKARTA – Selama ini Indonesia hanya bisa mengetahui daerah rawan gempa, melalui patahan lempengan bumi. Namun ada kabar gembira, mulai tahun depan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan bisa memprediksi kapan terjadinya gempa bumi dengan kekuatan diatas 6 SR dan potensi tsunami.

Hal tersebut karena Pemerintah Republik Indonesia, yang diwakili oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dengan Earthquake Prediction Research Center JAPAN (EPRC JAPAN) untuk melakukan program kolaborasi penelitian dalam bidang kajian prediksi gempa bumi dengan menggunakan pendekatan big data (data besar) dan pemanfaatan artificial intelligence (kecerdasan buatan).

Penandatanganan Nota Keaepahaman kerjasama ini dilakukan oleh Kepala BMKG, Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng., dan Representative Director EPRC, Bapak Katsumi Sato, pada Senin, 10 Juli 2017 di Kantor Pusat BMKG.

Kepala BMKG, Andi Eka Sakya mengatakan kolaborasi penelitian ini dapat memperkuat kapasitas kedua lembaga dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat mengembangkan dan meningkatkan penelitian kajian prediksi dan precursor gempabumi yang telah dan sedang dengan intensif dilakukan oleh BMKG maupun EPRC.

“Dari kolaborasi penelitian ini diharapkan dapat diperoleh hasil yang lebih akurat dalam rangka mengurangi risiko gempa bumi, serta bencana kolateralnya seperti tsunami, yang nantinya dapat meminimalisirjumlah korban jiwa dan harta benda,” katanya.

Pada kerjasama ini, BMKG diharapkan dapat menyediakan data pengamatan intensitas gempabumi, data kejadian gempa bumi, data pengamatan tinggi muka air tanah yang dilakukan oleh-stasiun prekursor gempabumi di Jogja dan Palu, dan data global positioning system (GPS). Lebih lanjut, BMKG akan mengkoordinasikan integrasi berbagai data lainnya seperti suhu tanah, konsentrasi gas radon data magnet bumi, dan data intensitas gempabumi di Indonesia, serta sistem terpadu yang dimililiki oleh BMKG, yaitu lna-TEWS (IndonesiaTsunami Early Warning System). Tidak hanya itu, BMKG pun telah siap menyediakan SDM yang berkompeten di bidangnya untuk melaksanakan kegiatan penelitian bersama ini.

Sampai dengan saat ini, Pemerintah Jepang telah mampu memberikan peringatan dini beberapa detik sebelum terjadinya getaran utama gempa bumi secara real time kepada penduduk terpapar melalui media telekomunikaSi telepon genggam. Namun demikian, hal tersebut belumlah cukup untuk benar-benar mengurangi risiko gempa bumi dan tsunami jika waktu kejadian gempa bumi dan estimasi waktu ketibaan tsunami sangat cepat. Oleh karena EPRC ecara serius dan terorganisir melakukan penelitian integrasi big data dengan menggunakan Superkomputer “K” yang ada di Kobe, Jepang, dan pemanfaatan artificial intelligence dengan visi jangka panjang mampu memberikan prediksi gempa dan tsunami secara akurat sampai dengan tujuh hari sebelum kejadian gempa bumi.

Dalam praktiknya, antara tahun 2013 sampai dengan tahun 2017, secara konsisten EPRC mengeluarkan Laporan Analisis Prediksi Gempabumi untuk wilayah Jepang, setiap satu minggu sekali yang disampaikan kepada Pemerintah, Pemerintah Daerah dan berbagai perusahaan ternama di Jepang. Dari pengalaman yang ada tingkat ketepatan prediksi gempabumi EPRC untuk gempa bumi Magnitude 6 ke atas ialah 82% dan ini telah bermanfaat bagi beberapa perusahaan untuk menjaga keberlanjutan kegiatan pada saat bencana (society and business continuity). Untuk konteks Jepang, prediksi dilakukan dengan menganalisa data dalam jumlah sangat besar atas data observasi pergerakan lempeng, tinggi muka air tanah, synthetic aperture radar serta berbagai data internet-ofthings lainnya seperti produksi protein pada hewan di seluruh Jepang, gelombang elektromagnetik, serta pasang surut.

Gagasan penelitian ini sangat membutuhkan semangat integrasi dan kolaborasi dari berbagai pihak di Indonesia dan Jepang; baik dalam hal data, alih kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. EPRC, sebagai platform dan lembaga penelitian nirlaba yang terdiri atas berbagai institusi dan perguruan tinggi di Jepang, akan memfasilitasi penyediaan alih ilmu pengct'huan dan teknologi, untuk kesuksesan penelitian ini. Di samping itu, sebagai bagian dari “Pengembangan Kemitraan Riset Sains dan Teknologi Jepang yang Berkelanjutan (SA'i'REPS)” atas fasilitasi JST (Japan Science and Technology Agency) dan ii’i‘A (Japan International Cooperation Agency), diharapkan peningkatan kapasitas akan diimplementasi melalui fasilitasi melalui penyediaan beasiswa pendidikan S2 dan S3 dalam bidang prediksi gempa bumi kepada BMKG.

Mempertimbangkan komitmen yang sangat besar terhadap tugas dan fungsinya, BMKG sangat menyambut baik rencana kerja sama penelitian bersama ini, yang hasilnya diharapkan dapat meningkatkan kemampuan Indonesia, dalam hal ini BMKG bersama insitusi nasional terkait lainnya, dalam mensukseskan program pengurangan resiko bencana gempa bumi di seluruh Indonesia maupun dunia. (ANP)