Tekan Jumlah Korban Bencana Banjir Bandang, BMKG Akan Terapkan Sistem FFGSP

• Thursday, 13 Jul 2017 - 19:16 WIB

Jakarta - Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) menunjuk Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi proyek percontohan (pilot project) pengembangan sistem peringatan bencana banjir bandang.

Indonesia dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, dinilai sering mengalami bencana alam hidrometeorologi. Salah satunya, kejadian banjir bandang yang sering melanda.

Berdasarkan data WMO tahun 2008 dari 139 negara, terdapat 105 negara terindikasi berpotensi terjadi banjir bandang. Guna mengurangi risiko kejadian bencana alam banjir bandang, maka perlu ditingkatkan sistem peringatan dini banjir bandang di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik yang disebut Flash Flood Guidance System Project (FFGSP).

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Yunus S Swarinoto mengatakan, dengan sistem yang dikembangkan diharapkan dapat memprediksi banjir bandang kurang dari tiga jam sebelum kejadian. Sebab, tatkala curah hujan ekstrem terjadinya, dalam waktu tiga jam kemudian banjir bandang bisa datang menyapu dan menyebabkan banyak korban dan kerugian.

"Model yang dikembangkan ini didesain internasional dan hasil akurasinya akan tinggi. Sistem yang ada di BMKG akan diintegrasikan dengan sistem ini," katanya di Jakarta, Rabu (12/7).

Sistem prakiraan curah hujan BMKG saat ini tersedia dalam bulanan, mingguan dan harian. Namun ketika berbicara banjir bandang terkait curah hujan ekstrem yang kejadiannya bisa terjadi dalam kurun waktu 3 jam hingga peristiwa terjadi.

Di samping itu, berkurangnya tutupan hijau di atas membuat air hujan menjadi air limpasan (run off) dan sungai tidak lagi mampu menampung air maka banjir bandang bisa terjadi.

"Jika sistem ini telah melalui evaluasi dan kajian mendalam, segala informasi yang diperoleh akan kita sampaikan ke instansi terkait seperti PU, BNPB atau BPBD," ucapnya.

Pematangan dan peningkatan kesiapsiagaan bencana banjir bandang ini diharapkan bisa mengurangi dampak dan korban dari bencana tersebut.

Peneliti Hidrologi WMO, Ayhan Sayin, menyebut, banjir bandang sebagai bencana mematikan setelah gempa bumi.

"Sudah ada 16 negara yang menggunakan sistem ini termasuk negara-negara Asia," ucapnya.

Menurutnya, BMKG dipilih menjadi pilot project karena dinilai sangat baik dalam memberikan informasi cuaca numerik yang telah berstandar internasional. BMKG pun memenuhi syarat menjadi regional center di kawasan Asia Pasifik.

"Ditargetkan beberapa tahun ke depan sistem ini bisa dimanfaatkan," ujarnya.

Sebelum sistem ini akhirnya diluncurkan, diperlukan inventarisasi data-data terkait meteorologi dan informasi pendukung dari negara-negara terkait yang nantinya akan intergrasikan dengan radar dan satelit.

FFGSP ini bertujuan mengurangi kerentanan wilayah dari dampak bencana hidrometeorologi khususnya banjir bandang dan memperkuat prediksi peringatan banjir bandang secara tepat, akurat serta mengembangkan dan mengimplementasikan Regional Flash Flood Guidance System.

FFGSP mencakup wilayah Amerika Serikat, Haiti, Republik Dominika, Afrika Selatan, Laut Hitam dan Timur Tengah, Eropa Tenggara, Asia Tengah, Asia Selatan, Sungai Mekong dan Asia Tenggara Oceania.

Tahun ini Indonesia diwakili BMKG menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan para ahli Southeastern Asia- Oceania Flash Flood Guidance 10-12 Juli 2017. Para ahli yang hadir dalam pertemuan itu antara lain berasal dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Papua Nugini, Timor Leste dan Brunei Darussalam. (ANP)