Jangan Asal Pakai Tabir Surya, Inilah Caranya

• Friday, 25 Aug 2017 - 22:10 WIB

Jakarta - Penggunaan tabir surya penting untuk melindungi kulit dari penuaan dini sampai kanker kulit yang disebabkan sinar UV dari matahari. Tapi, penggunaannya tidak boleh asal jika Anda mengharapkan perlindungan yang maksimal.

Sekretaris Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI), dr Sri Prihianti Gondokaryono SpKK, mengatakan, perlindungan sinar UV oleh tabir surya tidak hanya ditentukan oleh pemilihan nilai SPF, tapi juga cara penggunaannya.

"Nilai SPF dalam tabir surya yang tersedia di pasaran sangat beragam, dari yang 15 sampai 100. Untuk di negara tropis, minimal nilai yang direkomendasikan adalah yang SPF 30. Tapi supaya nilainya tidak berkurang, tabir surya harus sering direplikasi dan digunakan dalam dosis yang cukup, yaitu dua sendok atau jari untuk seluruh tubuh," kata dokter dari RS Pondok Indah tersebut.

Dalam talkshow peluncuran kampanye NIVEA #ILoveMyBody, di Mal Taman Anggrek, Jakarta Barat, Jumat (25/8/2017), dokter yang biasa disapa Yanti ini menyampaikan satu studi di negara Asean tentang kebiasaan penggunaan tabir surya di masyarakat.

"Ini yang jadi perhatian juga karena sering kali orang enggak pakai tabir surya sesuai dosis. Satu penelitian di negara Asean yang diukur setiap hari menemukan bahwa orang-orang hanya memakai tabir surya 30 persen sampai setengah dari dosis yang disarankan. Jadi kalau pakainya asal, tabir surya yang punya SPF 25 bisa jadi sama dengan SPF 12," pungkasnya.

Untuk diketahui, penggunaan tabir surya yang disarankan adalah dipakai terutama pada waktu 10.00 - 14.00 siang. Tabir surya baiknya dipakai sebelum keluar rumah dan diaplikasikan kembali 2 jam sekali.

Menurutnya, penggunaan tabir surya atau losion pelindung kulit dari sinar matahari penting untuk melindungi kulit dari paparan ultraviolet (UV) yang berbahaya. Tapi, ketika penggunaan tabir surya tetap membuat kulit gelap bukan berarti itu tak berguna.

Dr Sri Prihianti Gondokaryono SpKK, kulit yang menjadi gelap setelah lama terpapar sinar matahari adalah respon alami kulit, yang tidak bisa dihindari oleh penggunaan tabir surya sekalipun.

"Kulit yang menjadi gelap itu adalah natural response dari kulit kita terhadap paparan sinar UV," jelasnya.

Penggunaan tabir surya yang berhasil setelah berjemur di bawah sinar matahari dalam waktu tertentu menurutnya dicirikan seperti dengan kondisi kulit yang menjadi tidak terlalu kering dan perih.

Sementara itu, efek buruk dari sinar UV pada kulit biasanya akan dirasakan jika paparan diterima kulit yang tak terlindungi dalam jangka panjang.

"Kalau kulit jarang dilindungi dengan sun protection dalam jangka panjang kita selalu terpapar sinar matahari, ini bisa menyebabkan beberapa hal. Efek sinar UV ke kulit adalah mempercepat penuaan, munculnya kerutan, flek tidak merata, kulit bertambah kasar, dan kendur. Yang paling membahayakan adalah kanker kulit," paparnya.

Meski kulit gelap orang Indonesia lebih terlindungi, namun penggunaan sunscreen atau sunprotector tetap penting untuk mencegah kerusakan kulit lebih lanjut.

"Orang berkulit gelap memang punya proteksi tinggi terhadap sinar matahari daripada orang dengan kulit terang, begitu juga dengan risiko penuaan dini dan kanker. Bagaimana pun penggunaan tabir surya tetap penting. Yang direkomendasikan minimum SPF 30," katanya. (ANP)