lmuwan Kembangkan Vaksin Pencegah Kolesterol Tinggi

• Monday, 4 Sep 2017 - 13:27 WIB

EROPA - Tingginya angka low density lipoprotein (LDL) kolesterol atau kolesterol jahat menyebabkan meningkatnya risiko penyempitan pembuluh darah. Karena itu, ilmuwan di Eropa tengah mengembangkan vaksin untuk mencegah kolesterol tinggi.

Sebuah obat bernama AT04A tengah diuji para ilmuwan untuk mencegah meningkatnya kolesterol dengan cara membentuk antibodi terhadap enzim tertentu yang ada di dalam darah. Enzim bernama PCSK9 ini bisa mencegah tubuh menghilangkan kadar LDL dalam darah, yang menyebabkan kolesterol meningkat.

Dilansir dari EurekAlert, vaksin tersebut akan membuat fungsi enzim PCSK9 berkurang sehingga kolesterol LDL bisa lebih cepat dibuang dari tubuh. Penelitian ini dilakukan oleh dr Gunther Staffler, dari AFFIRis, sebuah perusahaan farmasi yang mengembangkan vaksin. Penelitian dilakukan kepada sejumlah mencit yang diberikan makanan berlemak.

Selanjutnya peneliti menyuntikkan vaksin AT04A kepada mencit dan mengukur kadar kolesterolnya. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kadar kolesterol total mencit turun hingga 53% setelah disuntikkan vaksin. Risiko perlemakan pembuluh darah pun turun hingga 64% dan risiko peradangan pembuluh darah turun hingga 21-28%.

"Menurunnya kadar kolesterol total menunjukkan ada korelasi antara antibodi yang disuntikkan dengan produksi enzim terkait. Jika penelitian tahap lanjut terhadap manusia dilakukan, maka kita bisa berharap adanya terapi, vaksinasi dan booster yang lebih baik untuk penyakit kardiovaskular," papar dr Staffler.

Berbeda dengan vaksin lainnya yang menggunakan antibodi dari protein bakteri atau virus dan benda asing, AT04A menargetkan enzim yang muncul dan dibuat oleh tubuh sendiri. Terapi ini pun dinilai bisa sebagai imunoterapi. Profesor Ulrich Laufs dari Saarland University, Jerman, menilai penelitian ini menjanjikan karena penyumbatan pembuluh darah akibat perlemakan salah satu jenis penyakit kardiovaskular yang kerap terjadi.

Meski demikian tetap ada standar keamanan yang harus dipenuhi. "Selain itu harus dilihat pula efek vaksin ini secara jangka panjang dalam tahap uji klinis," kata Prof Laufs.

(nfl)