IAI Akan Kembangkan Apoteker Spesialis

• Monday, 4 Sep 2017 - 18:21 WIB

Jakarta - Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) bekerjasama dengan PD Banten menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) dan Rakernas IAI bertema ‘Improving an Accessible and Trusted Pharmacist’ pada 5-8 September 2017 di ICE BSD, Tangerang Selatan, Banten.

Ketua Umum PP IAI, Nurul Falah Edi Pariang menjelaskan, kegiatan tahunan IAI ini sebagai ajang komunikasi masyarakat farmasi dari lintas sektor meliputi praktisi, akademisi, dan birokrat.

“Ini menjadi salah satu sarana untuk menjaga dan meningkatkan kompetensi apoteker dengan menghadirkan praktisi professional dari dalam dan luar negeri serta regulator. Membahas aturan-aturan organisasi dalam rangka menyiapkan layaway prima bagi anggota,” terangnya, di Jakarta, Sabtu (2/9).

Diharapkan Menteri Kesehatan Nila Juwita Moeloek membuka kegiatan ini dan memberikan arahan. Menteri Pemberdayaaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abrur juga akan memberikan arahan khususnya terkait keberadaan apoteker yang berkedudukan sebagai pegawai pemerintah.

Selain itu, isu menarik yang akan dibahas adalah rencana dikembangkannya apoteker spesialis melalui dibentuknya KIFI (Kolegium Ilmu Farmasi Indonesia) yang dilantik pada tahun lalu. KIFI berkoordinasi dengan IAI-APTFI (Asosiasi Perguruan Tinggi Farmasi Indonesia) dan KFN (Komite Framasi Nasional) telah menyusun naskah akademik pengembangan dan peningkatan profesionalitas apoteker berupa apoteker spesialis untuk farmasi klinik.

“Farmasi klinik itu menjelaskan setelah obat ditelan apa efek sampingnya bagi tubuh, dosisnya berbeda bagi anak-anak dan orang dewasa. Di luar negeri perkembangan farmasi klinik sudah sangat maju. Disana dokter yang mendiagnosa penyakit sementara apoteker spesialis dari farmasi klinik yang akan merekomendasikan obatnya,” tegas Ketua Umum PP IAI, Nurul Falah Edi Pariang.

 

frame frameborder="0" id="twitter-widget-0" scrolling="no" title="Twitter Timeline">

Menurutnya, farmasi klinik ini dapat dikembangkan di Indonesia, karena pendidikan di bidang tersebut sudah ada semenjak 10 tahun lalu di beberapa di universitas seperti di Unair, dan menjadi program magister farmasi klinik di 12 universitas. Tahapan menjadi apoteker spesialis mirip dengan dokter, pada awalnya berasal dari minat kemudian dokter-dokter tersebut berkumpul membentuk Kolegium dimana mereka akan dikukuhkan berdasarkan keahlian dan pengalamannya.

Setelah itu dokter akan bergabung dnegan universitas untuk membuat engembangan akademik di bidang yang menjadi spesialisasinya itu. Untuk ke depan IAI sendiri, berharap sudah dapat membentuk apoteker spesialis yang bergerak di bidang Farmasi Klinis yang terbagi dalam beberapa sub spesialis seperti onkologi, sebab obat untuk kanker itu sangat spesifik dan toxic serta pediatri mengingat berbedanya dosis obat untuk anak-anak juga jenis penyakit yang diderita mereka. (ANP)