Bekerja Terlalu Keras Berisiko Lebih Cepat Meninggal, Benarkah?

• Wednesday, 6 Sep 2017 - 14:17 WIB

TUMPUKAN pekerjaan yang dikejar deadline tak jarang menyebabkan seorang pegawai merasa stres. Bila stres itu terus berlanjut dalam jangka panjang, tentunya akan menimbulkan masalah bagi kesehatan mental karyawan. Maka dari itu, karyawan sering memanfaatkan waktu libur akhir pekan atau mengambil cuti beberapa hari hanya untuk sekadar melepas penat.

Tapi jangan salah, ada juga karyawan yang tidak masalah walaupun memiliki seabrek pekerjaan yang harus diselesaikan. Mereka malah terlihat menikmati pekerjaannya. Karyawan tersebut sering dikenal dengan istilah workaholic. Karyawan yang masuk dalam kategori workaholic adalah mereka yang sering terlihat kecanduan dan menghabiskan waktu untuk pekerjaannya.

Beberapa waktu lalu, sebuah penelitian mengungkapkan seseorang yang workaholic memiliki risiko lebih cepat untuk meninggal dunia. Sebuah hasil penelitian terbaru kini menentang fakta tersebut. Penelitian dari Kanada mengatakan orang-orang yang mencintai pekerjaannya tidak memiliki masalah kesehatan akibat kerja lembur dan menjawab email sepanjang hari.

Hasil ini didapatkan setelah peneliti dari Simon Fraser University's Beedie School of Business berkolaborasi dengan peneliti dari University of Pennsylvania dan University of North Carolina Charlotte. Tim peneliti menganalisis tanggapan kuesioner dari 1.277 karyawan di sebuah perusahaan. Pertanyaan yang diajukan seputar jam kerja, tingkat kerja keras, keterlibatan dalam pekerjaan, serta kesehatan dan kesejahteraan karyawan.

Tanggapan kuesioner kemudian dianalisis dengan cara membagi data ke dalam beberapa kelompok. Hasilnya menunjukkan bahwa bekerja selama berjam-jam bukanlah indikator yang meningkatkan seseorang terkena sakit kepala, sakit perut, diabetes, dan penyakit jantung. Hasil ini berbeda dengan anggapan yang sering mengaitkan memang workaholic dengan keluhan fisik terkait stres.

Menurut para peneliti, orang yang gila kerja dan terlibat dalam pekerjaannya tidak menunjukkan adanya risiko gangguan kesehatan yang serius. Malah, faktor risiko mereka tergolong lebih rendah dibanding dengan orang-orang yang tidak gila kerja. Hal itu dikarenakan orang yang workaholic bekerja secara kompulsif.

“Karyawan yang sering mengeluh stres dan kesengsaraan lainnya harus bertanya lagi pada dirinya sendiri. Apa alasan saya bekerja begitu keras? Sebab, bila mereka mencintai pekerjaannya, tidak akan ada masalah dengan pekerjaannya. Sebaliknya, bila ada masalah kesehatan maka harus dilakukan perubahan,” tutur salah seorang peneliti seperti yang dikutip dari Daily Mail, Rabu (6/9/2017).

(hel)