Awas! Doyan Nyinyir Bareng Teman-Teman Berisiko Gejala ADHD

• Thursday, 7 Sep 2017 - 12:00 WIB

APAKAH Anda sering berkumpul bareng teman-teman? Obrolan apa pun pasti dilontarkan untuk melumerkan suasana. Ya, di sana juga terselip mencurahkan perasaan.

Ngobrol menjadi kebiasaan banyak perempuan. Mulai dari bahas pakaian, pria idaman, sampai dengan ngegosip. Bahkan, pada mereka yang sudah menikah, obrolannya sudah membahas anak, suami, sampai masalah ranjang.

Nah, kebiasaan ngobrol ini perlu diperhatikan khusus sebetulnya untuk para kaum Hawa. Sebab, jika Anda doyan ngobrol, ternyata itu bisa jadi gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorde (ADHD). Kok bisa?

Perlu Anda ketahui sebelumnya, perempuan ternyata jarang terdeteksi masalah ini. Sebab, perilaku mengganggu kadang tidak terlihat dari kebiasaan perempuan. Seperti kondisi hiperaktif atau kemampuan berkonsentrasi. Makanya, kadang diagnosis ADHD pada perempuan sulit terdeteksi.

Nah, mungkin yang bisa dikenali sebagai gejala ADHD pada perempuan adalah cerewet. Seperti yang dilansir dari Daily Mail, Kamis (7/9/2017), banyak bicara atau bahkan sering melamun adalah gejala dasar yang bisa diidentifikasi sebagai gejala masalah ini.

Berdasar data yang dimiliki, ternyata ada satu dari 20 anak usia sekolah yang memiliki ADHD dengan gejala termasuk hiperaktif dan impulsif.

Sementara itu, terkait dengan pengobatan masalah ini, banyak yang memakai obat untuk menenangkan, termasuk Ritalin. Pada beberapa kasus juga ada yang mengikuti diet khusus, seperti menghindari gula atau perasa buatan. Tetapi beberapa dokter meyakini bahwa kondisi ini bukan diagnosis yang 100 persen tepat, karena kebanyakan anak mengalami kesulitan perilaku dari waktu ke waktu. Jadi sangat general sekali.

Namun, masalah ADHD ini kadang tidak dapat dikenali pada perempuan serta pasien yang sudah memiliki kondisi kesehatan mental.

Dalam penjelasannya, pengawas kesehatan mengharapkan agar dokter lebih waspada untuk menemukan kondisi di kelompok ini, sehingga "pasien" dapat dirujuk untuk perawatan yang lebih tepat. Profesor Mark Baker, direktur pusat pedoman di Nice, menjelaskan, setiap orang dapat memiliki gejala atau masalah yang tidak dikaitkan secara klasik dengan ADHD.

"Panduan draf kami ingin meningkatkan kesadaran orang-orang yang lebih mungkin didiagnosis ADHD. Sebab, pada kasus ini, mereka yang menderita ADHD, ada yang menerima diagnosis salah ada juga mereka yang gejala ADHD-nya dilewatkan sama sekali," ungkap Prof. Mark.

Kemudian, Prof. Mark juga menuturkan bahwa mereka yang tidak memiliki diagnosis akurat dapat memiliki efek negatif pada orang dan keluarga mereka sendiri. Kondisi Ini memungkinkan mereka tidak mendapatkan aksespengobatan dan dukungan yang terbaik. "Kami meminta profesional kesehatan dan perawatan sosial untuk memperhatikan kelompok ini sehingga lebih banyak orang dapat didiagnosis dengan benar," sarannya.

(vin)