Dinas Kesehatan DKI Jakarta Gerakkan Kader PKK Perangi Kanker Serviks

• Thursday, 7 Sep 2017 - 14:39 WIB

PREVALENSI kanker serviks di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan survei yang dilakukan pada tahun 2012, Indonesia kini menduduki posisi pertama dengan jumlah penyandang kanker serviks terbanyak di Asia Tenggara. Padahal beberapa tahun sebelumnya, Indonesia ada di posisi ketiga.

Setidaknya setiap hari ada 58 kasus baru dan 26 orang meninggal dunia. Untuk itu, masyarakat Indonesia diminta semakin waspada terhadap penyebaran penyakit ini. Terlebih kanker serviks lebih banyak menyerang wanita usia reproduktif yaitu 35-55 tahun.

Kanker serviks sebenarnya penyakit yang bisa dicegah. Namun sayangnya kesadaran masyarakat akan hal ini belum begitu baik. Untuk itu Koalisi Indonesia Cegah Kanker Serviks (KICKS) dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, hari ini, Kamis (7/9/2017) menyelenggarakan kegiatan “Lokakarya & Sosialisasi Vaksinasi HPV” kepada kader-kader PKK seluruh DKI Jakarta di kawasan Sunter, Jakarta Utara.

Kegiatan ini dimaksudkan agar ibu-ibu PKK bisa mengajak ibu-ibu atau perempuan yang belum menikah di lingkungan sekitarnya untuk vaksinasi HPV guna mencegah terjadinya kanker serviks. Ibu-ibu ini diberi bekal pengetahuan mengenai pentingnya vaksinasi HPV dan pengertian mengenai kanker serviks. Ibu-ibu PKK merupakan usaha paliatif dari pemerintah untuk mengajak masyarakat di lingkungannya agar lebih peduli terhadap kesehatan termasuk kanker serviks. Harapannya, dengan adanya penyuluhan dari ibu-ibu PKK, DKI Jakarta bisa terbebas dari penyakit kanker serviks.

Bekal pengetahuan yang diberikan kepada ibu-ibu PKK antara lain cara penyebaran kanker serviks, cara mencegah, dan cara pengobatan. Penyebaran virus HPV sendiri bisa menyebar melalui kontak seksual atau kegiatan lain yang ada kontak dengan vagina seperti buang air kecil di toilet umum. Kebanyakan wanita masih banyak yang belum menyadari bahayanya virus dan bakteri yang ada di toilet umum.

Virus HPV biasanya tidak langsung menginfeksi penderitanya ketika terkena. Virus tersebut bertahan dulu di dalam tubuh 2-5 tahun atau bahkan hingga 15 tahun. Infeksinya pun tidak menunjukkan gejala pada stadium awal. Maka dari itu banyak kasus di mana penyandang kanker serviks datang ke dokter ketika kankernya sudah berada di stadium lanjut.

“Jika sudah stadium lanjut, kanker serviks tersebut sudah tidak bisa dioperasi. Cara satu-satunya untuk sembuh harus melakukan kemoterapi. Tapi sayangnya, banyak penyandang kanker yang beralih ke pengobatan alternatif untuk menyembuhkan penyakit daripada menjalani kemoterapi karena merasa takut. Akibatnya penyakit semakin parah,” ungkap dr Cindy Rani Wirasti, SpOG dari Klinik Ginekologi Jakarta saat ditemui dalam acara yang sama.

Dr. Cindy menyarankan agar para wanita yang belum melakukan vaksinasi HPV untuk segera melakukannya karena efeknya seumur hidup. Kanker serviks bisa dicegah bila rajin berkonsultasi kepada dokter kandungan secara berkala, melakukan vaksinasi, dan pap smear atau tes IVA.

Konsultasi ke dokter bukan hanya dilakukan saat sedang hamil melainkan kapan saja. Karena konsultasi itu berguna untuk menjaga kesehatan alat reproduksi. Sedangkan pemeriksaan melalui pap smear atau tes IVA wajib dilakukan oleh wanita yang sudah menikah atau sudah aktif secara seksual selama tiga tahun. (ade)