Effendi Simbolon Apresiasi sikap tegas Kapolda Sumut terhadap Pelaku Begal

• Thursday, 12 Oct 2017 - 08:43 WIB

Medan - Aksi begal dan maraknya perampokan di Sumatera Utara khususnya Kota Medan harus segera diberantas, sebab jika dibiarkan berlarut-larut dapat mengganggu kegiatan investasi dan laju perekonomian. 

Konon pula, menurut  survei satu lembaga tingkat kriminalitas di Kota Medan sangat tinggi, bahkan  kota ini disebut paling tak aman di negeri ini, mengalahkan Jakarta, Surabaya, Bandung, Makassar, dan kota lainnya.

Effendi  Simbolon, anggota DPR RI  mengatakan selama ini Kota Medan, ibukotanya Provinsi Sumatera Utara Medan dikenal sebagai pusat perekonomian dan investasi Indonesia di luar Pulau Jawa. 

"Kita harus mempertahankan prestasi itu, bahkan meningkatkannya, jangan sampai direbut  kota-kota lain yang sedang berusaha mengembangkan iklim investasinya lewat berbagai cara, termasuk dengan menekan  kriminalitas  untuk meningkatkan keamanan guna memikat investor,” katanya, Kamis (12/ 10).

Pihak kepolisian mencatat, khususnya Kota Medan telah terjadi  77 kasus begal sepanjang  Januari-September 2017, dimana 62 kasus berhasil diungkap. 

Namun, kasus begal itu tetap saja terjadi, sebagaimana sepekan lalu tiga  warga  Kota Medan  kembali menjadi korban aksi begal. Mereka adalah Wita Astuti  (32 tahun) yang bekerja sebagai karyawan PT Ace Hardware, lalu seorang  wiraswasta bernama Supriyanto (45 tahun), dan  Lily (49 tahun) yang merupakan seorang guru SMA swasta Sutomo I. Ketiga korban mengalami luka parah bahkan ada yang patah tulang, sedangkan harta bendanya dilarikan para begal.

Para begal seolah tidak jera meski  Kapolda Sumut Irjen Pol Paulus Waterpauw sudah turun tangan  menginstruksikan kepolisian di daerah ini untuk melakukan tindakan tegas terukur dalam memberantas para begal. Hasilnya, tiga orang terduga pelaku perampokan dan pembegalan terhadap dua driver angkutan berbasis daring (online) ditembak mati karena melakukan perlawanan saat ditangkap. 

Meski sudah dilakukan tindakan tegas, pembegalan tetap juga terjadi, karena itu Polda Sumut mengaktifkan kembali Tim Khusus Anti Begal untuk upaya pencegahaan dan pemberantasan tindak kriminal tersebut.

Effendi Simbolon memuji  kebijakan tegas Kapolda Sumut  Irjen Pol Paulus Waterpauw dalam memberantas  kasus begal tersebut.  Tetapi, dia mengimbau,  selain menumpas  pembegalan, pihak  kepolisian juga  mesti  mengejar sumber  penyebab  maraknya aksi  kriminal.  

Effendi Simbolon, figur pemimpin yg mendapat banyak dukungan menjadi gubernur Sumut itu menambahkan, polisi juga  harus mengedepankan hukum dalam pemberantasan aksi begal. “Proses hukum  perlu ditegakkan dengan membawa  terduga  pelaku begal  ke pengadilan, kecuali dia tertangkap tangan melakukan kejahatan itu dan memberikan perlawanan terhadap petugas polisi yang hendak mengamankannya,” tuturnya.

Soalnya, kata Effendi Simbolon, penegakan hukum  yang  tegas juga menjadi perhatian investor. “Penegakan hukum yang  sesuai  prosedur dan berkeadilan  menjadi  perhatian  investor  untuk berinvestasi,   karena mereka  membutuhkan  kepastian hukum  dan  jaminan keamanan dalam menjalan bisnis di daerah ini,” ungkapnya. 

Terpisah, pengamat Hukum Sumatera Utara (Sumut) ‎Redyanto Sidi SH, MH. menjawab ada 2 faktor penyebab dan sekaligus menjadi tugas bagi pihak kepolisian untuk menciptakan kembali rasa aman dan nyaman. Dia mengemukakan, polisi  harus meningkatkan kegiatan pemberantasan  begal sekaligus menekan peredaran narkoba dengan segera menangkap para bandar pengedarnya. 

"Itu sebabnya kita sangat mendukung tindakan Kapolda yang mengaktifkan kembali Tim Anti Begal, dengan begitu Sumatera Utara kembali aman sehingga kegiatan perekonomian meningkat," kata Redyanto. (ANP)