Pada 2030 Diperkirakan 23,3 Juta Kematian di Indonesia Akibat Stroke

• Wednesday, 25 Oct 2017 - 20:41 WIB

Jakarta –  Stroke adalah gejala-gejala deficit fungsi syaraf yang diakibatkan oleh penyakit pembuluh darah otak. Stroke dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang akan menurunkan status kesehatan dan kualitas hidup penderita stroke, disamping itu akan menambah beban biaya kesehatan yang ditanggung keluarga dan negara.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan RI, dr. Lily S. Sulistyowati, MM mengatakan stroke sesuai tingkatannya bisa sampai menyebabkan kematian atau kecacatan yang otomatis mampu menurunkan status kesehatan dan kualitas hidup penderitanya stroke. Selain itu akan ada beban tambahan bagi keluarga terkait biaya kesehatan yang tentunya tidak sedikit.

"Penyakit stroke termasuk salah satu penyakit mematikan yang sudah terdengar akrab di telinga setelah penyakit jantung," tegasnya di Jakarta, Rabu (25/10/2017).

Menurut Lily, karena termasuk penyakit mematikan, stroke mendapat perhatian lebih oleh dunia kesehatan. Setiap tanggal 29 Oktober selalu diperingati Hari Stroke Sedunia yang tujuannya untuk mengingatkan masyarakat akan bahayanya penyakit stroke sehingga lebih perduli pada kesehatan agar terhindar dari stroke.

Sementara itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Profesor Dr dr Mohamad Hasan Machfoed SpS(K) MS, mengatakan, agar masyarakat mewaspadai kondisi tubuh ketika terasa lumpuh selama beberapa saat yang bisa mengarah pada serangan stroke.

"Serangan Stroke Selintas itu Transient Ischemic Attack (TIA), terjadi karena pembuluh darah menutup sementara. Itu bahaya, merupakan tanda dini terjadi stroke," kata Hasan dalam keterangannya di Jakarta, Rabu.

Umumnya serangan stroke selintas terjadi selama 30 menit hingga dua jam dan kemudian penderitanya kembali normal. Serangan selintas itu menyebabkan kebas atau tak merasakan sebagian tubuh, gerak tubuh melemah tiba-tiba, kesemutan, dan berbicara tidak nyambung atau kata-katanya tidak terstruktur.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, setiap tahunnya lebih 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler, terutama penyakit jantung koroner dan stroke. Jika melihat tren saat ini, diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 23,3 juta kematian pada tahun 2030.

Selanjutnya penyakit diabetes mellitus, influenza dan pneumonia, tuberkulosis, liver, dan paru-paru juga termasuk dalam daftar penyakit mematikan. Bersama stroke dan jantung koroner, tujuh penyakit tersebut menjadi penyebab lebih dari 58 persen kematian di Indonesia.

Stroke terjadi ketika pembuluh darah yang secara alamiah bertugas membawa oksigen dan juga nutrisi ke otak, justru terhalang oleh adanya penggumpalan darah atau bahkan pecahnya pembuluh darah. Hal ini berakibat pada beberapa bagian jaringan otak kekurangan asupan oksigen, sehingga menjadikan sel atau jaringan tersebut tidak bekerja (mati). Karena itu, tidak mengherankan, jika orang yang memiliki penyakit darah tinggi, obesitas dengan banyak lemak yang menempel di pembuluh darah serta kolesterol kemungkinan mengalami penyakit komplikasi stroke.

Secara umum, menurut data Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi stroke di Indonesia 12,1 persen. Artinya, ada 12,1 persen orang Indonesia yang tercatat menderita stroke. Angka itu naik dibandingkan tahun 2007 yang hanya sebesar 8,3 persen. (ANP)