Lady Bird: Jungkir Balik Film Remaja

• Saturday, 3 Mar 2018 - 18:38 WIB

Genre: Drama

Sutradara: Greta Gerwig

Pemain: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf

Durasi: 1,5 jam

Distributor: United International Pictures Indonesia

Mulai tayang di bioskop Indonesia: 28 Februari 2018

 

Amerika Serikat bukan hanya New York dan Washington, DC. 
Negara Bagian California tak sekadar Los Angeles dan San Francisco. 
Murid SMA di AS tak semuanya berseragam bebas.
Kisah remaja tidak selalu tentang cinta pertama dengan segala rayuannya. 
Cerita keluarga bisa saja tanpa keakraban, kemewahan, kebersamaan, bahkan minus kebahagiaan. 

Semua persepsi soal indahnya kehidupan anak SMA dijungkirbalikkan dalam "Lady Bird". 

Bukan berarti menjadi suram dan gelap, sutradara dan penulis Greta Gerwig mendekatkan kembali dengan pengalaman pada umumnya. Menjadi biasa, menjadi sangat wajar dan nyata.

Lady Bird adalah nama julukan yang dipakai oleh tokoh utama Christine McPherson (Saoirse Ronan).

Berkeinginan untuk berkuliah di universitas bergengsi, belajar seni, berteman dengan anak-anak populer, berpacaran, Lady Bird sebenarnya orang biasa. Bukan lady, keturunan bangsawan. Prestasi sekolahnya tak istimewa, apalagi latar belakangnya. 

Diceritakan di Sacramento, Lady Bird menjalani masa belianya di wilayah tengah California pada tahun 2002-2003, pascaperistiwa 911, di mana AS menginvasi Irak, dan resesi ekonomi terjadi.

Untuk menunjukkan semangat pemberontakannya, bahkan nama yang diberikan orang tuanya pun diganti. Sebagai murid SMA homogen Katolik, Lady Bird merasa sebagai seniman liberal, yang sangat berambisi segera keluar dari kampung halamannya. 

Namun, keadaan tak memungkinkan. Status sosial ekonomi orang tuanya tak memungkinkan membiayai Lady Bird ke kampus impiannya di wilayah Pantai Timur, di mana para artis berkarya.

Hubungan dengan teman-temannya juga tidak seindah yang dibayangkan. Apalagi relasi dalam keluarga. 

Lady Bird tak terlalu dekat dengan saudara-saudara angkatnya, terlebih dengan ibunya. Kerap berdebat di setiap kesempatan, hubungan ibu-anak itu menjadi sentral cerita yang ditampilkan sangat alami. 

Dengan kesederhanaan alur, "Lady Bird" yang ber-setting 15 tahun lalu menyentuh keseharian kita, di antaranya tentang bullying, seks pranikah, depresi, kesenjangan, homoseksualitas, dan elemen lainnya. 

Lewat dialog-dialog yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, "Lady Bird" pun mengajak khalayaknya bernostalgia sekaligus menertawakan kekonyolan masa remaja. 

Kekuatan dialog serta adegannya, yang menggambarkan sisi lain masyarakat AS, ikut mengantar "Lady Bird" masuk nominasi Academy Awards ke 90 di kategori film, aktris, aktris pendukung, naskah asli, dan sutradara terbaik.

(MAR)