IDI Tunda Putusan MKEK Terkait Pemecatan dr Terawan

• Monday, 9 Apr 2018 - 13:11 WIB

JAKARTA, 9 April 2018 - Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menunda pelaksanaan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) karena keadaan tertentu. Sikap ini diambil setelah menggelar rapat Majelis Pimpinan Pusat (MPP) yang dihadiri Ketua Umum PB IDI, Ketua MKEK, Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), dan Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK).

"Oleh karenanya, ditegaskan bahwa hingga saat ini dr Terawan masih berstatus sebagai anggota IDI. Selain itu, MPP merekomendasikan penilaian terhadap tindakan terapi dengan metode DSA/Brain wash dilakukan oleh Tim Health Technology Assesement (HTA) Kementerian Kesehatan RI," ujar Ketua Umum PB IDI, Dr Ilham Oetama Marsis, Sp.OG, di PB IDI, Jalan Sam Ratulangi, Menteng, Jakarta Pusat, (9/4/2018).

Pada kesempatan itu dia menyampaikan tiga poin atas polemik pemecatan dr Terawan. Dia menyebutkan, pertama pihaknya menyesalkan tersebarnya surat keputusan MKEK yang bersifat internal dan rahasia, sehingga menimbulkan keresahan di masyarakat.

"Menyikapi hal ini, PB IDI selaku level eksekutif di tingkat pusat perlu dan wajib menyampaikan beberapa hal," ucapnya.

Kedua, tindakan terapi menggunakan metode digital subtraction angiography (DSA) atau dikenal dengan sebutan Brain Wash telah menimbulkan perdebatan secara terbuka tidak pada tempatnya di kalangan dokter. Ketiga, kata dia, berdasarkan ART IDI Pasal 8 terkait hak pembelaan anggota IDI, maka PB IDI telah melaksanakan forum pembelaan terhadap Dr dr Terawan Agus Putranto Sp Rad (K) pada 6 April 2018.

"Menindaklanjuti hal di atas, berdasarkan Anggaran Dasar IDI Pasal 17 butir 4 dan Anggaran Rumah Tangga IDI Pasal 18 ayat (1) butir c yang memberikan kewenangan kepada Ketua Umum PB IDI, maka dilaksanakan rapat MPP pada 8 April 2018," katanya.

 

(Annisa Ramadhani-Kurnia Ilahi/Inews.id)