Jepang Lirik Lulusan SMK Berprestasi di Jabar, Siswa Miskin Jadi Prioritas

• Monday, 7 May 2018 - 12:14 WIB

BANDUNG - Sejumlah perusahaan ternama asal Jepang melirik para lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) berprestasi di Jawa Barat untuk dipekerjakan di perusahaan-perusahaan, baik di Jepang maupun di Indonesia.

Terbukanya peluang bekerja di perusahaan-perusahaan Jepang menjadi angin segar di tengah-tengah sulitnya mendapatkan lapangan pekerjaan. Terlebih, besarnya jumlah lulusan SMK di Jabar setiap tahunnya, kerap tak sebanding dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. 

"Jepang sudah mulai membuka diri untuk mempekerjakan lulusan SMK asal Jabar," ungkap konsultan pendidikan dari Sentra Global Edukasi (SGE) Rudi Subiyanto di Bandung, Senin (7/6/2018).

Rudi menjelaskan, selama ini, pihaknya telah menjembatani program kerja magang antara Dinas Pendidikan (Disdik) Jabar dan sejumlah perusahaan ternama asal Jepang. Program tersebut kini mulai ditingkatkan, sehingga siswa SMK tidak hanya bekerja magang, melainkan juga bisa berkarier di perusahaan-perusahaan Jepang.

"Melalui progran ini, lulusan SMK jangan sampai berangkat ke Jepang hanya sekadar magang, pulang ke Indonesia izajah tetap SMK, hanya mendapat surat rekomendasi, dan akhirnya kembali menjadi buruh," jelasnya.

Pihaknya bersama Disdik Jabar telah berkomitmen menciptakan lulusan SMK yang lebih profesional dan mampu memenuhi kebutuhan perusahaan-perusahaan asing, khususnya perusahaan asal Jepang melalui seleksi ketat, terutama dalam hal manners dan mentalnya, agar mereka menjadi pekerja yang mandiri, profesional, kuat, dan berakhlak tinggi.

"Alhamdulillah, Oktober nanti kita launching angkatan keempat. Ada 28 siswa SMK berprestasi yang akan diberangkatkan ke Jepang. Mereka telah menjalani seleksi ketat, audisi, termasuk wawancara dengan pihak perusahaan Jepang," papar Rudi.

Menurut Rudi, setiap tahunnya, Disdik Jabar menerima ratusan aplikasi dari lulusan SMK yang tertarik dengan program tersebut. Namun, karena seleksi yang diterapkan sangat ketat, siswa yang lolos jumlahnya hanya puluhan dalam setiap angkatannya. Di antara siswa SMK yang lolos, kata Rudi, tidak sedikit yang berasal dari kalangan tidak mampu.

"Justru kami menyasar siswa SMK berprestasi, namun orang tuanya tidak mampu. Mereka kita bentuk agar menjadi pekerja profesional, tidak lagi menjadi buruh kasar, tapi levelnya lebih tinggi," katanya.
(wib)/Sindonews