Perawat dan Bidan Demo, RSUD Panyabungan Lumpuh

• Wednesday, 9 May 2018 - 17:35 WIB

PANYABUNGAN - Ratusan Perawat dan tenaga Bidan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panyabungan, Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara, melakukan aksi unjuk rasa di halaman rumah sakit, Rabu (9/5/2018). Akibatnya, pasien rumah sakit menjadi terlantar.

Aksi demo perawat, tenaga bidan Apoteker dan farmasi ini menuntut 5 bulan Tunjangan Penambahan Penghasilan (TPP), belum dicairkan pihak rumah sakit. Koordinator Aksi, Siti Aisyah, tenaga Bidan Persalinan di RSUD Panyabungan mengatakan, jika uang TPP tersebut tidak dibayar, maka mereka akan mogok kerja.

"Kami akan terus melakukan aksi damai sampai uang TPP kami dibayar oleh pihak manajemen rumah sakit hari ini," ujar Aisyah.

Selain itu, ratusan perawat, bidan, apoteker dan Farmasi RSUD Panyabungan juga menuntut transparansi pihak manajemen terutama pengelolaan anggaran khususnya pembayaran uang TPP.

"Karena dari sebelum-seblumnya uang TPP kami dibayar, kenapa di tahun 2018 ini, TPP kami yang sudah memasuki bulan kelima belum juga dibayar oleh pihak rumah sakit," katanya.

Dokter Paisal yang menampung aspirasi para demonstran yang juga bagian dari RSUD Panyabungan itu meminta tuntutan massa dibuat tertulis agar dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.

"Kami harap para rekan-rekan untuk membuat aspirasi dan permintaan sebagai tuntutannya dibuat secara tertulis agar bisa dipertanggungjawabkan secara tertulis," pintanya.

Para pendemo bersikeras untuk meminta dr Paisal meneruskan aspirasi mereka kepada Direktur RSUD Panyabungan Dr Bidasari. “Iya ini akan kita sampaikan dulu kepada beliau, karena beliau sedang berada di Jakarta. Hasilnya kita akan tunggu bersama," tuturnya.

Aksi demo ratusan tenaga perawat, bidan, apoteker dan farmasi ini sempat membuat pelayanan di RSUD Panyabungan sempat lumpuh. Para pasien pun mengeluhkan karena pelayanan RSUD terhambat.
Ibu Dewi, seorang pasien yang sedang menggendong anaknya untuk berobat ke RSUD Panyabungan mengatakan, sudah hampir 3 jam menunggu untuk dilayani. 

Sayangnya, setiap ruangan kerja tidak ada pegawainya. "Saya sangat kecewa, karena sebelumnya tidak pernah kejadian seperti ini," keluh Ibu Dewi.

(rhs)