Masjid Jami Kebon Jeruk, Masjid Pertama Didirikan Peranakan Cina

• Tuesday, 31 Jul 2012 - 16:04 WIB

Jakarta - Jika anda berkunjung ke jalan Hayam Wuruk Jakarta Barat, maka anda akan menemukan sebuah masjid yang sangat bersejarah bernama Masjid Jami Kebon Jeruk.

Masjid yang berdiri ditengah-tengah pusat kota dan keramaian ibukota itu seakan tidak berpengaruh dengan hiruk pikuk Jakarta. Nuansa relegi, hening, khusuk sangat kental ketika anda memasuki bangunan masjid.

Menurut Petugas berhikmad atau melayani, Masjid Jami Kebon Jeruk Abdu Satar kepada Sindo Radio, Masjid Jami Kebon Jeruk memiliki kelebihan, yaitu adanya amal nabi seperti yang ada di Masjid Nabawi. Maka tidak heran banyak umat muslim dari seluruh Indonesia maupun dunia yang berdatangan ke masjid ini.

Mereka yang ada di masjid bersejarah itu rata-rata berjenggot, mengenakan baju koko, surban atau peci putih, dan celana mereka tidak ada yang menutupi mata kaki.

Dari cara mereka berpakaian nampak sekali bahwa mereka meneladani cara-cara (sunah) Nabi, belum lagi ikatan persaudaraan mereka yang begitu kuat menandakan mereka adalah umat yang taat kepada ajaran Rasulnya. Padahal, kemungkinan besar diantara mereka belum ada yang saling kenal.

Selain itu Jemaah di Masjid Kebun Jeruk ini di kenal dengan sebutan jamaah tabligh, mereka selalu rutin dan khusuk mendengarkan ceramah setiap habis shalat khusus di bulan ramadhan.

Mesjid yang dibangun pada tahun 1786 (Abad ke-18) oleh Tuan Tschoa (Kapten Tamien Dosol Seeng) merupakan masjid pertama yang didirikan bagi masyarakat peranakan China Muslim di Jakarta.

Kini tercatat sebagai salah satu masjid tua di Jakarta. Dinas Kebudayaan dan Permuseuman telah mencanangkan sebagai cagar budaya dan keberadaannya terus dilestarikan.

Masjid yang keaslian arsitekturnya masih terjaga ini, di bangun oleh muslim Cina tahun 1786. Waktu itu Chan Tsin Wa atau Tschoa adalah pemimpin muslim Cina di Batavia yang datang bersama istrinya Fatima Hwu. (ANP/MKS)