Sistem Reward and Punishment Di Pemkot Surabaya Rancu

• Tuesday, 31 Jul 2012 - 17:11 WIB

Surabaya - Sistem Reward and Punishment di pemerintah kota Surabaya semakin rancu, menyusul dipecatnya 2 Karyawan Rumah sakit Suwandhi yang di tuduh mencuri data USG pasien yang disimpan di dalam disket. Dua karyawan itu adalah, Kepala instalasi pengelolaan sarana Rumah sakit Suwandhi serta Staffnya.

Siang ini Komisi A DPRD Surabaya, melakukan hearing dengan kepala bagian Kepegawaian dan Inspektorat yang telah menyidik dan mengeluarkan keputusan pemecatan 2 karyawan Rumah sakit Suwandhi.

Dalam hearing tersebut, Imam Sugondho inspektorat menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan kedua karyawan tersebut dinyatakan sangat merugikan negara. Sehingga punishment yang diberikan menurutnya sudah cukup akurat. Namun saat diklarifikasi usai hearing oleh sejumlah media , Imam Sugondho memilih tidak berkomentar .

Sementara itu Ketua Komisi A DPRD Surabaya - Armudji menyatakan , keputusan Inspektorat dan Kepegawaian dianggap sangat kental dengan unsur sentiment. Karena masih banyak pejabat yang telah inkrah atas kasus korupsi yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Namun sejauh ini, pemkot tidak memberikan Punishment apapun terhadap pejabat korup tersebut.

Armudji menambahkan, dengan kejadian ini komisi A akan mengeluarkan rekomendasi ke Walikota Surabaya agar bisa meninjau lagi keputusan pemberhentian karyawan Suwandhi.

Data yang diambil 2 karyawan Suwandhi itu tidak begitu penting bagi kelangsungan pelayanan di rumah sakit Suwandhi. Jangan sampai sistem reward and punishment berlangsung lagi kepada karyawan lainnya , yang belum tentu bersalah.

Seperti yang dilakukan kedua karyawan Suwandhi tersebut , yang berniat memback up data pasien ke file yang lain. Hal ini cukup masuk akal karena data USG Pasien Suwandhi tersebut juga tidak laku dijual. (Robi Julianto/MKS)