Gandeng NOAA, BMKG Gelar Pelatihan Karyawan Guna Tingkatkan Akurasi Prediksi Cuaca
Jumat, 29 Juni 2018
Gandeng NOAA, BMKG Gelar Pelatihan Karyawan Guna Tingkatkan Akurasi Prediksi Cuaca

JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerjasama dengan National Oceanic and Atospheric Administration (NOAA) dan Kedutaan Besar Amerika di Indonesia, menggelar 13th Annual Indonesia-U.S. Ocean and Climate Observations, (AIU OCO) Analysis and Applications Partnership Workshop. AIU OCO merupakan pelatihan untuk meningkatkan kualitas pegawai BMKG dalam memprediksi cuaca. AUI OCO diresmikan langsung oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, Susan Shultz dari Acting Deputy Chief of Mission perwakilan Kedutaan Amerika Serikat, dan Sydney Thurston dari Overseas Program Development NOAA. Pelatihan berlangsung selama 2 hari, mulai dari 27 Juni hingga 29 Juni di Hotel Grand Mercure Jakarta.

“Sejak 2006 BMKG dan NOAA sudah berkolaborasi dalam observasi Samudera Hindia dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas karyawan BMKG. Peserta workshop adalah 35 forecaster klimatologi dan 25 forecaster meteorologi maritim termasuk dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan BMKG dan Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). Acara ini sangatlah bermanfaat karena menghadirkan pakar iklim dan kelautan dari NOAA serta Universitas di Amerika”, tegas Dwikorita.

Pada tahun ini, BMKG AUI OCO mengambil tema “Improving Seasonal Predictability and Marine Weather Services Capacity Over Maritime Continent. Pelatihan tahun ini berfkous pada peningkatkan pengetahuan dan kemampuan guna menghasilkan tingkat akurasi prakiraan iklim dan pelayanan cuaca maritim. “Prediksi cuaca dan iklim maritim perlu ditingkatkan guna memberikan peringatan dini dengan cepat, tepat dan akurat. Oleh karena itu, BMKG  secara rutin mengirimkan dua orang staf teknis (Forecaster) untuk melakukan pelatihan selama tiga bulan di kantor NOAA Wasington DC”, papar Dwikorita.

Selain analisa dari para karyawan, BMKG pun membutuhkan alat observasi yang canggih karena perubahan iklim global yang mengakibatkan fenomena atmosfer dan ocean sangat cepat berganti. Contohnya musim kemarau namun terjadi hujan badai. “Perubuhan cuaca global menuntut BMKG untuk terus melakukan lompatan-lompatan inovasi dan kapasitas daya analisa serta pembaharuan instrument teknologi. Tahun ini, BMKG berhasil melakukan lompatan inovasi prakiraan cuaca. Jika sebelumnya presisi untuk ketelitian hanya sampai tingkat kabupaten, maka tahun ini akurasinya bisa hingga tingkat kecamatan. Pengamatan di Samudera yang dulunya menggunakan satelit dan radar cuaca, maka saat ini ditingkatkan dengan sistem Big Data dan Artificial Intelligence sehingga dapat menghasilkan data yang lebih akurat untuk 1 tahun kedepan. Sementara Early Warning System, yang semula hanya 3 jam sebelum kejadian menjadi 6 jam sebelum fenomena”. Saya berharapkan kerjasama ini dapat meningkatkan kualitas alat, sistem dan daya analisa numerik dari para karyawan”, ujar Dwikorita.

Sementara perwakilan dari NOAA, Sidney Thurston, mengutarakan bahwa kegiatan ini untuk membangun kerjasama dalam observasi cuaca dan iklim global di Samudera Hindia. “Kegiatan ini bertujuan untuk membantu BMKG dalam memprediksi cuaca. Prediksi tidak hanya sekedar 3 hari atau 6 hari kedepan, tetapi dapat mencapai 6 minggu kedepan”, ungkap Sidney. (ANP)