Mahasiswa Dituntut Kembangkan Aplikasi Startup Yang Dibutuhkan Masyarakat

• Monday, 2 Jul 2018 - 07:34 WIB

Jakarta - Perguruan tinggi harus terus didorong untuk membekali mahasiswanya dengan berbagai macam keterampilan dan inovasi, yang merupakan modal penting guna menghadapi tantangan di era revolusi industri 4.0.

Untuk itulah, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Mercu Buana (Fasilkom UMB) secara berkesinambungan menggelar kegiatan lomba, seminar dan pameran akbar karya mahasiswa, yang tahun ini digelar di Aula Kampus UMB Meruya Jakarta, pada 29-30 Juni 2018.

Dalam rangkaian kegiatan ini, mahasiswa Fasilkom UMB dituntut untuk mengeluarkan ide-ide inovatifnya dalam hal pemrograman, sehingga sanggup menciptakan aplikasi atau startup yang dibutuhkan oleh dunia industri.

"Mahasiswa yang mampu menerjemahkan ide-ide inovatifnya tersebut, diyakini mampu bersaing di dunia kerja," ujar Wakil Dekan II Fasilkom UMB Bidang Inovasi dan Kemahasiswaan, Yaya Sudarya Triana, M. Kom, Ph.D, kepada RRI di sela-sela Seminar Nasional "Creating Startup, Developing Connection" di Kampus UMB Meruya Jakarta, Sabtu (30/6/2018).

Menurut Yaya, kegiatan ini telah dilaksanakan untuk ketujuh kalinya, dan sejauh ini merupakan yang terbesar karena menampilkan 177 aplikasi karya mahasiswa UMB. 

"Kami cukup terkejut dengan tingginya antusiasme mahasiswa Fasilkom UMB dalam menunjukkan aplikasi karya mereka, sekaligus bingung karena apabila tren seperti ini terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, maka Aula Kampus UMB di Meruya ini tidak akan cukup untuk memamerkan karya-karya mereka. Mungkin tahun depan kami harus menyewa Gedung ICE (Indonesia Convention Exhibition-red) di Serpong," guraunya.

Sebelumnya, Ketua Pelaksana Pameran Akbar Karya Mahasiswa Fasilkom UMB, Wachyu Hari Haji mengungkapkan, pihaknya mewajibkan setiap mahasiswa UMB untuk membuat setidaknya satu aplikasi sebelum mereka lulus.

"Ini sebagai bekal mereka untuk menguasai bahasa pemrograman sehingga mereka siap bekerja atau menciptakan lapangan kerja sendiri," ujarnya.

Aplikasi karya mahasiswa Fasilkom UMB sendiri sudah banyak yang diambil oleh perusahaan swasta atau BUMN sebagai software solusi mereka. Tahun lalu saja, dua perusahaan teknologi besar, yaitu Fujitsu dan Dell membeli aplikasi yang dibuat mahasiswa UMB.

Menanggapi banyaknya fenomena startupyang banyak jalan di tempat, bahkan mati, Yaya Sudarya menegaskan bahwa harus ada pembinaan yang berkesinambungan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk dari perguruan tinggi serta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti).

"Mendirikan startup itu sebetulnya sama dengan mendirikan bisnis yang lain. Jadi, ada yang untung, ada yang rugi, jatuh-bangun begitu. Nah, yang terutama harus dipersiapkan itu adalah faktor mental. Kemudian soal permodalan juga, karena bisnis startup itu tidak bisa mengambil untung dalam waktu yang singkat. Misalnya dalam waktu enam bulan kita ingin mengambil untung sekian juta, itu tidak berlaku di bisnis startup," tuturnya.

Menurut Yaya, untuk menjaga suatu startup bisa terus bertahan, harus ada pembinaan dan partisipasi dari berbagai pihak, terutama dari perguruan tinggi. 

"Selain itu, startup juga dapat memanfaatkan skema-skema insentif yang ditawarkan oleh pemerintah, antara lain lewat Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti. Alhamdulillah, tahun kemarin UMB berhasil mendapatkan insentif Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) Karsa Cipta dari Kemristekdikti. Didapatkannya insentif ini tentunya tidak terlepas dari kesinambungan UMB menggelar pameran akbar karya mahasiswa semacam ini," pungkasnya. (ANP)