The Darkest Minds: Superpower yang Baper

• Thursday, 16 Aug 2018 - 21:43 WIB

Genre: Adventure
Sutradara: Jennifer Yuh Nelson (Kung Fu Panda franchise)
Pemeran: Amandla Stenberg, Mandy Moore, Harris Dickinson, Miya Cech, Skylan Brooks
Durasi: 1,5 jam
Distributor: 20th Century Fox
Mulai tayang di bioskop Indonesia: 15 Agustus 2018

Tokoh utama Ruby Daly terbangun pada hari ulang tahunnya yang kesepuluh. Keanehan mengubah hidupnya. Terdengar suara alarm, dia dikurung orang tuanya di garasi, tak lama kemudian polisi datang membawanya. Pergi dari rumah bapak ibu yang sangat dicintainya. 

Dia dikirim ke kamp rehabilitasi milik pemerintah. Ruby diduga bertahan dari wabah mematikan, yang telah membunuh hampir semua anak di Amerika. Negara tak peduli dengan korban tewas, tetapi yang bertahan hidup, justru dianggap membahayakan. Namun yang lebih menakutkan dari itu, Ruby dan ratusan bahkan ribuan orang sebayanya, mulai menyadari kekuatan super, yang tidak bisa dikendalikan. 

Kini, Ruby berusia 16 tahun. Dianggap paling berbahaya, Ruby berkesempatan kabur dari kamp. Dibantu dokter Cate yang terlihat tulus menolongnya, Ruby masih ragu dan malah kabur bertemu anak-anak seperti dirinya. 

Mereka memiliki kemampuan yang digolongkan dalam warna:
Ruby di kategori oranye, kedua yang paling berbahaya karena mampu mengendalikan pikiran. 
Liam si pemimpin kelompok memiliki kekuatan telekinesis, mengendalikan barang-barang hanya lewat batinnya. 
Chubs alias Charlie termasuk dalam warna hijau, dengan kecerdasan di atas rata-rata.
Zu tuna wicara yang mampu memanipulasi listrik atau elektrokinesis, dengan identitas warna kuning. 

Keempatnya berusaha mencari perlindungan di tengah-tengah Amerika Serikat yang goncang, tanpa ekonomi. Karena anak-anak tersisa sudah dikumpulkan di kamp, orang dewasa memburu siapa saja yang belia dan masih berkeliaran. Harganya pun ditetapkan sangat tinggi oleh pemerintah bagi para pemburu.

Dikomandani Liam, Ruby, Chubs, dan Zu berusaha mencari sekumpulan sesamanya. Menghadapi tantangan demi tantangan, konflik demi konflik, mereka harus menemukan tempat aman yang dipimpin sosok misterius. 

Ruby juga menghadapi pilihan demi pilihan. Apakah ikut bergabung dengan teman-teman barunya? Atau kembali ke dr. Cate yang telah menyelamatkannya dari kamp? Bahkan, pulang ke rumah orang tuanya? 

Seiring berjalan waktu, Ruby dihadapkan dengan problem klasik remaja, tentang pencarian identitas, asmara, persahabatan, dan pembuktian diri. 

Dengan berbagai elemen ditampilkan: action, drama, romance, adventure, dan adu kekuatan, produser Shawn Levy menyebut ’The Darkest Minds’ memberi perjalanan berkesan.

"Saya pikir penonton juga mengharapkan pengalaman emosional yang dalam, karena meski dipenuhi tontonan dan adegan yang 'cool' sebagai intinya, ini juga tentang karakter yang mencari di mana mereka berasal, dan menemukan, sesungguhnya asal mereka adalah satu sama lain," kata Levy yang pernah terlibat dalam "Arrival" dan "Night at The Museum."

Sementara menurut sutradara Jennifer Yuh Nelson, "The Darkest Minds" dapat dimaknai tergantung khalayak. Mereka bisa merasa sesuai dengan perjuangan para tokohnya, dan mampu merefleksikan diri masing-masing dalam mimpi buruk yang dijalani karakternya.

"Film ini tentang anak-anak yang dapat menggunakan kekuatan untuk bertahan hidup, banyak terkait tindakan, tetapi juga berkaitan dengan hati," kata Nelson.

Sineas yang terkenal dengan karya animasi Kung Fu Panda ini ingin, "The Darkest Minds" terasa seperti kenyataan. 

“Itulah yang membuat superpowers menjadi unik, bertolak belakang dengan realitas normal kita. Anda harus dapat membayangkan bisa keluar sekarang dan melihat seseorang melakukan hal-hal menakjubkan, jadi kami tidak ingin menempatkan film ini di suatu periode yang jauh, atau tempat yang futuristik dan tidak jelas. Kami ingin penonton percaya ini bisa terjadi,” tambah Nelson.

Dengan cerita yang diadaptasi dari novel karya berjudul sama Alexandra Bracken, The Darkest Minds merupakan kisah pertama dari trilogi dengan Never Fade dan In the Afterlight. Karenanya, penonton akan diajak penasaran sepanjang alur serunya. Ditambah adegan 'baper' di bagian akhir, rasanya tak sabar untuk menantikan sequel dan lanjutannya sampai akhir.

(MAR)