Keponakan Setnov Akui Serahkan USD100 Ribu ke Aziz Syamsuddin

• Tuesday, 23 Oct 2018 - 17:42 WIB

JAKARTA - Keponakan Setya Novanto (Setnov), Irvanto Hendra Pambudi mengaku‎ telah menyerahkan uang sebesar USD100.000 kepada Politikus Golkar, Aziz Syamsuddin. Namun, Irvanto tidak menjelaskan terkait apa uang yang diberikan kepada Aziz.

"Saya serahkan 100.000 (dolar Amerika) ke Pak Aziz Syamsuddin," kata Irvan saat menjalani sidang pemeriksaan terdakwa perkara korupsi e-KTP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Selasa (23/10/2018).

Irvanto menjelaskan, uang tersebut diberikan kepada Aziz atas perintah Andi Agustinus alias Andi Narogong. Diduga, uang tersebut berkaitan dengan proyek pengadaan e-KTP yang saat ini menjadi bancakan sejumlah pihak.

Irvanto menyatakan penyerahan uang dilakukan di kediaman Aziz Syamsuddin. Saat itu, Irvanto datang kerumah Aziz Syamsuddin bersama dengan Vidi Gunawan dan Dedi Priyono yang merupakan adik dan kakak Andi Narogong.

Pada persidangan sebelumnya, tim Jaksa pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berupaya menggali kesaksian Aziz soal kedekatannya dengan Irvanto. Namun, Aziz mengklaim tidak pernah bertemu secara langsung dengan keponakan Setya Novanto (Setnov) tersebut.

"Tidak pernah. Saya sampaikan tidak pernah (tidak pernah bertemu langsung dengan Irvanto)," kata Aziz menjawab pertanyaan Jaksa, Selasa, 2 Oktober 2018.

Aziz mengakui memang mengenal sosok Irvanto. Kata Aziz, Irvanto merupakan salah satu pengurus Golkar yang juga saudara dekatnya Setnov. ‎Aziz mengungkapkan bahwa kenal dengan Irvanto karena selalu bersama dengan Setnov.

Tapi Aziz membantah pernah menerima hadiah atau janji dari Irvanto. Jaksa pun kembali mempertanyakan soal aliran uang untuk Rapimnas Partai Golkar ‎di Bogor sebesar Rp5 miliar. Aziz menjawab tidak tahu sama sekali. "Tidak. Saya tidak tahu," singkatnya.

Dalam perkara ini, Irvanto Hendra Pambudi Cahyo selaku mantan Direktur PT Murakabi Sejahtera, didakwa turut serta melakukan korupsi proyek e-KTP yang merugikan keuangan negara sebesar Rp2,3 triliun. Dia didakwa bersama-sama dengan seorang pengusaha Made Oka Masagung.

Irvanto didakwa berperan menjadi perantara dalam pembagian fee proyek pengadaan barang atau jasa e-KTP tahun 2011-2013 ‎untuk sejumlah pihak. Irvanto bersama-sama dengan Made Oka juga turut serta memenangkan perusahaan tertentu dalam proyek itu.‎

 

Source: okezone.com