Menjadi Bangsa Beradab melalui Asian Para Games

• Wednesday, 24 Oct 2018 - 15:47 WIB

Nilai universalisme pada Indonesia Raya! 

Itulah momen paling dinantikan Direktur Humas Media dan PR INAPGOC M.Farhan dalam Upacara Pembukaan Asian Para Games, Sabtu (6/10/2018). Saat lagu kebangsaan dinyanyikan dalam gerak bahasa isyarat oleh sejumlah penari dan murid-murid SD, penonton di Stadion Gelora Bung Karno - Senayan maupun di layar kaca pun tetap melantunkannya secara khidmat. 

Setelah gegap gempita Asian Games 18 Agustus - 2 September 2018, pesta olahraga berlanjut di Asian Para Games 6-13 Oktober 2018 di Jakarta. Farhan awalnya memang berat menyiapkan antusiasme masyarakat terhadap Asian Para Games, khususnya sejak pawai obor, awal September lalu. 

"Kami bersyukur memulainya di Kota Solo, yang dikenal sebagai pusat penelitian dan pengembangan disabilitas di Indonesia, termasuk pelatihan nasional atlet paralimpik dan  National Paralympic Committee (NPC) juga berpusat di Solo. Dari situ kita bisa mengembangkan banyak cerita," kata Farhan. 

Hasilnya, suasana meriah menjelang Asian Para Games pun terasa di berbagai sudut kota. Iklan dan poster membangkitkan animo publik terhadap ajang olahraga, yang baru pertama kali diadakan di Indonesia, bahkan Asia Tenggara. 

Kota-kota yang dilalui pawai obor pun ditetapkan sebagai wilayah yang sudah, dan atau bertekad, menjadi kota ramah disabilitas, yaitu Solo, Ternate, Makassar, Denpasar, Pontianak, Medan, Pangkalpinang, dan terakhir di Jakarta. 

Dengan mengedepankan semangat inspirasi, melanjutkan Energy of Asia yang dibawa sebelumnya oleh panitia Asian Games, INAPGOC pun memanfaatkan momen kemeriahan Asian Games. "Kami sampaikan informasi, ada lagi loh lanjutan Asian Games, yaitu Asian Para Games untuk atlet paralimpik. Apakah kita mengedepankan drama penuh belas kasihan? Tidak sama sekali," tegas Farhan. 

Mereka lebih menekankan pada nilai-nilai kemanusiaan yang didasarkan pada Hak Asasi Manusia, yang menjadikan Asian Para Games sebagai panggung prestasi kelas dunia, bagi atlet disabilitas seluruh Asia. Apakah kesuksesan Asian Games menjadi beban? 

Farhan menjawab, "Tidak menjadi beban, tetapi kesempatan. Melalui Asian Games, kita telah membuktikan sebagai bangsa maju dan modern. Melalui Asian Para Games, tidak hanya menjadi bangsa maju dan modern, melainkan bangsa beradab." 

Menurutnya, ketidakramahan sarana prasarana kota terhadap penyandang disabilitas, justru menjadi peluang untuk diperbaiki lewat Asian Para Games. "Semua kota di Indonesia diharapkan memastikan pembangunan berdasarkan perspektif aksesibilitas, sebagai visi infrastrukturnya," harap Farhan. 

Hasilnya, Asian Para Games telah berlangsung sukses dalam penyelenggara maupun prestasi. Indonesia meraih 37 emas pada Asian Para Gammes 2018, meningkat 28 keping emas dibanding Incheon 2014. 
Apakah momen-momen indah menyanyikan Indonesia Raya, aksi Presiden Jokowi memanah bersama Bulan, atau kemegahan menyalakan api di kaldron, akan berlalu begitu saja? 

Atau yang terpenting, apakah kita mampu menjaga fasilitas umum yang bisa diakses bagi semua orang? Beberapa hari, pekan, dan bulan akan berlalu sejak berakhirnya Asian Para Games. Kita akan membuktikan jawabannya. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(MAR)