Memaafkan dengan Latihan Hening

• Wednesday, 31 Oct 2018 - 18:39 WIB

Sikap memaafkan mempunyai manfaat besar bagi hidup manusia. Memaafkan bisa menghilangkan stres, depresi, serta terhindar dari gangguan mental.

Jakarta - Kata orang, memaafkan itu sulit. Betapa tidak, maaf itu biasanya terkait dengan hati yang tersakiti. Ketika hati sudah terlukai, perihnya bakal sulit terobati.

Padahal, memaafkan itu mempunyai manfaat besar, terutama untuk kesehatan, baik fisik dan psikis. Sebuah penelitian yang dirilis oleh Journal of Health Psychology, menemukan fakta bahwa memaafkan bisa menghilangkan stres, depresi, serta menghindarkan kita dari gangguan mental.

"Dan, seperti kita tahu, mental atau jiwa yang sehat adalah pangkal dari fisik yang sehat pula," kata Mindfullness Practitioner, Adjie Santosoputro, di Jakarta, Kamis (12/10).

Menurut Adjie, memaafkan itu berarti kita berhenti berharap mempunyai masa lalu yang lebih baik atau yang berbeda dari yang sudah terjadi.

"Ini artinya, ketika tidak bisa memaafkan, sebenarnya kita sedang terjebak pada masa lalu. Padahal, kalau mau disadari, dari istilahnya saja sudah jelas, masa lalu-artinya masa yang sudah berlalu," katanya.

Adjie menjelaskan, tak akan pernah ada kabar baru dari masa lalu. Jadi, sia-sialah kita kalau mengharapkan perubahan terhadap masa lalu. Kita tak akan pernah maju jika terjebak pada masa lalu.

"Maka, solusinya adalah mengikhlaskan masa lalu. Ketika di masa lalu ada orang yang menyakiti kita, maafkanlah dia. Dan ketika kita mampu memaafkan, maka kita akan menemukan kedamaian dan kebahagiaan. Inilah indahnya memaafkan," Adjie menguraikan dalam sebuah video berjudul “Seni Memaafkan” yang bisa dilihat pada channel bit.ly/CelebratingPeace-Memaafkan.

Latihan Memaafkan

Sering kita mendengar anjuran untuk melupakan saja apa yang sudah diperbuat orang lain kepada kita. Namun, menurut Adjie, memaafkan tidak sama dengan melupakan. Melupakan adalah menyangkal bahwa satu hal telah terjadi, sedangkan memaafkan adalah mengakui dan menerima apa adanya bahwa satu hal telah terjadi.

"Bagaimana kita bisa menyangkal jika hal tersebut memang sudah terjadi," kilah Adjie. "Otak kita merekam setiap kejadian, dan kita tidak bisa memerintahkan untuk menyangkalnya. Yang bisa dilakukan otak adalah menerimanya."

Jangan Paksakan Diri

Sangat manusiawi jika kita merasa sulit untuk memaafkan. Karena itu kita tidak perlu terlalu memaksakan diri untuk melakukannya. Menurut Adjie, jika memang kejadiannya baru saja terjadi atau kenangan pahitnya masih begitu kuat, maka langkah awalnya adalah mengambil jarak dari orang yang telah menyakiti hati kita.

"Jika kita tidak ingin terserang penyakit, tentu kita sebaiknya menghindari sumber penyakit. Ini pula yang kita lakukan untuk menghilangkan sakit hati. Dan ini adalah proses awal untuk menerima kenyataan pahit," ujar Adjie.

Setelah hati merasa siap, maka latihan di atas bisa dilakukan. Disarankan untuk melakukan latihan tersebut di tempat yang nyaman dan tenang, jauh dari gangguan.

Kita Adalah Satu

Kita semua saling terhubung. Jadi, membahagiakan orang lain sejatinya sama dengan membahagiakan kita juga.

Ketika terlontar pertanyaan “apakah yang paling diinginkan dalam hidup?” maka jawaban yang paling sering muncul adalah “kebahagiaan”. Ingin sehat, ingin kaya, ingin kuasa, dan bermacam ingin lainnya, hanyalah merupakan anak tangga yang bisa kita lalui untuk mencapai puncaknya, yaitu bahagia.  Sebab, hanya dengan rasa bahagialah kedamaian akan terwujud.

Shantideca, seorang cendikiawan India, berkata, “Kebahagiaan di dalam hidup ini diakibatkan oleh niat kita untuk membahagiakan orang lain. Sementara penderitaan di dalam hidup ini diakibatkan oleh niat kita untuk membahagiakan hanya diri kita sendiri.”

Cara pandang tersebut sungguh sangat bijak dan mengena, menurut praktisi emotional healing & mindfulness, Adjie Santosoputro, dalam tayangan video yang bisa dilihat pada channel bit.ly/CelebratingPeace-Komitmen.

Hubungan yang harmonis antara diri kita dengan orang lain akan membuahkan kebahagiaan. Dan ini bisa dicapai jika kita membangun komunikasi atau interaksi dengan orang lain dengan didasari oleh cinta, bukan ego. “Karena sesungguhnya kita semua selalu terhubung satu sama lain, satu kesatuan, utuh, interkoneksi. Apa yang dialami satu bagian akan dirasakan dan memengaruhi keseluruhan. Kalau Anda menyakiti orang lain, sebenarnya Anda pun sedang menyakiti diri sendiri,” kata Adjie.

Teori tersebut bukanlah sekadar pernyataan moral, namun telah terbukti secara ilmiah. Pada tahun 1951, ahli Fisika Quantum, David Bohm menyatakan, “Jika partikel atom bisa dipisahkan menjadi dua bagian, lalu ketika satu bagian diubah arah putarannya, maka ia akan memengaruhi arah putaran bagian lainnya.”

Hal tersebut, tandas Adjie, selaras dengan ajaran-ajaran spiritual yang sudah lebih dulu memahaminya. Bahwa meski kita terlihat tidak ada hubungan dengan orang lain, sejatinya justru sebaliknya—kita semua saling terkoneksi, satu keutuhan. Kita semua saudara alias ‘satu udara’.

Dengan begitu, jika ada seseorang menyakiti orang lain, maka sesungguhnya dirinya tidak sadar bahwa orang lain tersebut adalah dirinya juga. Dia masih menggunakan egonya, memikirkan dirinya sendiri dan masa bodoh dengan orang lain. Dan inilah yang memicu banyak masalah dan derita dalam hidup. Betapa tidak, dengan ego kita selalu merasa benar dan orang lain salah. Dengan ego kita menjadi kurang peduli dengan lingkungan, sementara kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam menjalani hidup.

Latihan Buang Ego

Dengan menyadari bahwa kita adalah satu inilah maka kita bisa menghindari untuk menyakiti orang lain ketika berinteraksi. “Orang-orang yang menyadari bahwa hidup ini bukan cuma ‘aku’, tapi ‘kita’, maka akan sedapat mungkin bersikap baik dan welas asih kepada siapa saja. Ia tak akan tega menyakiti hati orang lain, karena ia sadar hal itu akan menyakiti dirinya sendiri,” urai Adjie.

Meski begitu, tak dimungkiri, sikap egois itu manusiawi. Pasti kita tak jarang juga bersikap egois ketika sesekali berhadapan dengan masalah-masalah tertentu, merasa diri kita yang benar dan orang lain salah. Jika hal ini terjadi, Adjie memberi saran untuk melakukan beberapa langkah ini:

  • Berhenti sejenak, tarik napas dalam-dalam, lalu embuskan.
  • Dalam kondisi hening, akuilah bahwa kita memang sedang ‘hilang kesadaran’.
  • Kembalikan kesadaran dengan kembali menarik napas dan mengembuskannya, lalu katakan dalam hati secara tulus, “kamu adalah aku”.

Melakukan langkah-langkah tersebut, dikatakan Adjie, dapat dilakukan di dalam hunian yang menghadirkan konsep ketenangan. Synthesis Residence Kemang sebagai salah satu karya apartemen yang akan dibangun oleh Synthesis Development di Jl. Ampera Raya No. 1 A, Jakarta dalam komitmennya akan menghadirkan kawasan yang mampu menghadirkan harmonisasi ketenangan positif dengan lingkungan dan sesama.

(*)