Galang Ketahanan Nasional Untuk Kelangsungan Hidup Bangsa

• Wednesday, 7 Nov 2018 - 18:35 WIB

JAKARTA - Menggalang Ketahanan Nasional Untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa. Begitu tema hasil diskusi panel seri (DPS) yang diselenggarakan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), Aliansi Kebangsaan dan Forum Komunikasi Putra dan Putri Purnawirawan TNI/Polri (FKPPI) — tiga organisasi di bawah komando Pontjo Sutowo.

Hasil DPS itu dimoderatori Prof. Dr. Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Universitas Indonesia, dengan para panelis di antaranya Mayjen Purn (TNI) I Dewa Putu Rai, Achmad Chodjim, Laksda (Purn) TNI Dr Yani Antariksa, dan Dr Bambang Pharma Setiawan. Dalam pemaparan hasil DPS, Dr Bambang Pharma Setiawan, mengatakan, budaya dan peradaban adalah dua sisi mata uang yang sama. Dan, Indonesia unggul dalam dua hal ini.

“Kondisi dinamik suatu bangsa berisi keuletan, ketangguhan yang mampu mengembangkan kekuatan nasional di dalam mengatasi dan menghadapi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri,” tandasnya, Sabtu (3/11)

Menurutnya, diperlukan ketahanan nasional dalam satu perkembangan budaya dan peradaban. Salah satunya dengan terwujudnya kondisi dinamik bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan menghadapi ATHG, serta mampu mengembangkan kekuatan nasional sebagai suatu kondisi prasyarat untuk mencapai cita-cita dan tujuan negara.

Selain itu, kemampuan mengidentifikasi setiap bentuk ATHG yang membahayakan identitas, integritas dan kelangsungan hidup bangsa dan NKRI. Juga bagaimana menghadapi dan melawan ATHG yang membahayakan identitas, integritas dan kelangsungan hidup bangsa dan NKRI?

“Upaya lain yang mesti dilakukan yaitu kemampuan mengaktualisasikan keuletan dan ketangguhan seluruh aspek kekuatan nasional secara optimal untuk mencapai cita cita dan tujuan nasional. Aspek-aspek itulah yang bisa identifikasi dalam upaya mencegah ATHG,” ucap Bambang.

Dia menegaskan, kata kunci dalam menggalang ketahanan nasional untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa tiada lain adalah dengan membangun kebudayaan dan peradaban bangsa Indonesia yang tinggi, yang dapat menciptakan ketahanan nasional Indonesia.

Sayangnya, dalam menciptakan ketahanan nasional kita tak punya blue print dan road map yang jelas seperti apa terhadap ATHG tersebut. Bahkan Dewan Ketahanan Nasional sejauh ini belum terbentuk sama sekali begitu juga legasi yang mengaturnya.

“Karenanya, kita harus kembali menjadi manusia Indonesia yang berwatak keindonesiaan yang rasionalis dan sepiritualis. Tanpa harus menjadi individualis, rasionalis yang sekuler atau individualis komunal yang kita sebut komunis matrialis,” tandasnya. (ANP)