Jaja Jaelani Pimpin Lasqi DKI

• Thursday, 22 Nov 2018 - 21:01 WIB

JAKARTA - Sekretaris Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), Drs. H. Jaja Jaelani, MM, terpilih sebagai Ketua Umum DPW Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (Lasqi) Provinsi DKI Jakarta. Mantan Direktur Pemberdayaan Zakat, Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama  ini, menjadi Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Lasqi Jaya periode 2018-2023.

"Banyak cara atau media untuk melakukan dakwah, salah satunya lewat seni qasidah. Kepengurusan DPW Lasqi DKI Jaya harus fokus mengembangkan dakwah di bidang seni qasidah ini," kata Ketua Umum DPP Lasqi, Tarmizi Tohor, usai melantik pengurus DPW Lasqi Jaya 2018-2023, di Asrama Haji, Pondokgede, Jakarta Timur, Rabu (21/11/2018).

Tampil sebagai Ketua Harian DPW Lasqi Jaya, Dr. HM. Sholahi, MM, MA; Sekjen, Drs. H. Ahmad Supandi, MT dan Bendahara Umum, Hj. Habibah Azhari, M. Acara ini dihadiri sejumlah pejabat Kementerian Agama dan pengurus DPP dan DPW Lasqi.

Dalam sambutannya, Tarmizi berpesan agar para pengurus yang dilantik dapat berkhidmat dengan ilmu, seni dan agama, sebagai bukti kesungguhan dalam melaksanakan tugas dan pengabdian. “Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah dan dengan agama hidup menjadi terarah,” tutur dia.

Tarmizi Tohor yang juga Sekretaris Ditjen Bimas Islam Kemenag, mengajak berbagai kalangan menggairahkan seni dan budaya Islam. “Para pengurus merupakan kader dan pelopor seni Islam serta ujung tombak perkembangan seni qasidah. Karena itu, mari kita lestarikan seni yang diwariskan leluhur ini sebagai bagian dari khazanah budaya bangsa kita,” ujar mantan kepala Kanwil Kemenag Provinsi Riau ini.

Lebih lanjut,,ia menegaskan, bahwa menjadi pengurus DPW Lasqi Jaya merupakan ibadah, sehingga setiap kegiatan dalam rangka mengimplementasikan program organisasi akan menjadi ladang pahala.

Sementara itu, Ketua Umum DPW Lasqi Jaya 2018-2023, Jaja Jaelani, menambahkan, selain sebagai sarana dakwah, seni dan budaya Islam juga harus bisa dikembangkan menjadi prestasi yang membawa harum nama bangsa, baik di ajang nasional maupun internasional.

Menurut dia, pengembangan seni qasidah di tengah masyarakat turut berperan membentengi remaja atau generasi milenial dari perilaku menyimpang seperti kekerasan, pergaulan bebas dan narkoba.

"Qosidah ini bagian dari sarana media kita untuk mendorong potensi generasi milenial agar tidak terjerumus ke hal-hal negatif. Bahkan seni qasidah justru menjadi sarana dakwah, bahkan ada banyak lagu yang berisikan nasihat bahaya narkoba," ucap dia.

Jaja menjelaskan, pada awal eksistensinya, Lasqi secara khusus membina dan memfasilitasi seni kasidah. Terbentuk tahun 1970 di Jakarta, dalam keberadaannya diperkuat SK Gubernur DKI dengan nama Lasqi Jaya pada 1985.

“Setelah itu beberapa daerah di Kalimantan dan Sumatera ikut mendirikan lembaga yang sama. Pada 1992, Lasqi di daerah-daerah inilah yang melahirkan kepengurusan dewan pimpinan pusat (DPP). Satu demi satu, provinsi-provinsi yang ada mendirikan Lasqi. Hingga kini LASQI ada di 34 provinsi di Indonesia,” kata Jaja. Secara hierarki kepengurusan LASQI mulai dari DPP, DPW, dewan pimpinan daerah (DPD), dewan pimpinan cabang (DPC) hingga dewan pimpinan kelurahan/desa. (ANP)