Pemerintah Targetkan 1000 Startup Akan Tercipta 2019

• Wednesday, 19 Dec 2018 - 21:46 WIB

BOGOR – Di era revolusi industri 4.0, maka kehadiran pengusaha pemula berbasis teknologi (PPBT) atau startup menjadi bidang kewirausahaan potensial. Selain mengandalkan teknologi, PPBT ini mampu mencetak lapangan kerja baru dan secara tidak langsung juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) sejak 2015 terus mendorong lahirnya PPBT. Ditargetkan di tahun 2019, Kemristekdikti dapat mencetak lahirnya 1.000 startup.

Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kemristekdikti, Jumain Appe, mengatakan, jika dari 1.000 PPBT itu butuh lima orang pekerja, artinya membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 5.000 orang. Beberapa inovasi dari PPBT juga erat dengan kehidupan sehari-hari, seperti aplikasi bagi nelayan (smart fishing), petani dan lainnya. Teknologi dari PPBT dapat membantu peningkatan usaha dan hasil masyarakat tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan.

"Sebanyak 65 persen masyarakat kita berprofesi sebagai petani, nelayan dengan pendapatan marginal. Dengan sentuhan teknologi pendapatan mereka bisa naik," katanya di sela-sela ekspos produk inovasi Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi di Bogor, Selasa (18/12/2018).

Kehadiran teknologi bisa membuat hasil tangkapan nelayan, produktivitas beras petani dihargai secara pantas, karena dapat memutus mata rantai tengkulak.

Kehadiran revolusi industri 4.0 tidak hanya perlu direspon usaha menengah dan besar. Industri kecil dan masyarakat wirausaha pun harus siap. Dalam konteks ini, kerja sama dan kolaborasi perlu ditingkatkan agar produk PPBT bisa bersaing hingga skala global.

Tahun 2015, jumlah PPBT yang didampingi dan didanai Kemristekdikti mencapai 52 PPBT, tahun 2016 ada 203 PPBT, tahun 2017 ada 661 PPBT dan tahun 2018 ada 956 PPBT.

Saat ini PPBT yang sudah dewasa atau mature dan tidak memerlukan pendampingan sudah banyak. Hanya saja PPBT dengan omset di atas Rp 1 miliar per bulan baru ada sekitar 6 persen dari jumlah yang ada saat ini.

Sementara itu, ratusan PPBT lainnya beromset di bawah Rp 500 juta per bulan. "Bagi PPBT yang beromset di atas Rp 1 miliar itu dikategorikan sudah mature dan tidak perlu lagi pendampingan," ucapnya.

Startup teknologi ini, selain mendapat pendampingan juga bantuan dana senilai Rp 300 juta hingga Rp 450 juta. Pendampingan dilakukan selama 8 bulan, agar pelaksanaan pengembangan bisnis berbasis teknologi benar-benar berjalan sesuai dengan kaidah kelayakan teknologi dan kelayakan bisnis.

Jumain menambahkan, inovasi merupakan penggerak pembangunan ke depan. Bahkan, lanjutnya, Bappenas mendorong agar produk PPBT tidak hanya sebatas produk lokal tapi bisa merambah ke internasional.

"Beberapa startup didorong untuk ditingkatkan dan dikirim ke Inggris untuk menggali ilmu terkait di sana. Sehingga nantinya menjadi PPBT mature," ungkap Jumain. (ANP)