Dirjen Perhubungan Udara Paparkan Capaian Kinerja 2018

• Friday, 21 Dec 2018 - 21:43 WIB

JAKARTA - Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menutup akhir tahun dengan memaparkan capaian tahun 2018 dan outlook 2019, persiapan menghadapi Nataru dan rencana peresmian bandara baru dan terminal baru di Sulawesi melalui konferensi pers.

Bertempat di Ruang Mulawarman, Gedung Karsa, Kementerian Perhubungan, acara dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Perhubungan Udara Polana B. Pramesti. Hadir pula Sesditjen Perhubungan Udara Nur Isnin Istiartono, Direktur Bandara M. Pramintohadi Sukarno, Direktur Navigasi Penerbangan Elfi Amir dan Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Capt. Avirianto serta para pejabat lainnya.

Capaian 2018 dan Outlook 2019

Pada tahun 2018 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah membangun 3 bandara baru yaitu Bandara Kertajati, Bandara Samarinda Baru dan Bandara Tebelian. Total bandara yang telah dibangun selama periode 2015-2018 adalah sebanyak 10 bandara dari total target pembangunan bandara sampai akhir tahun 2019 sebanyak 15 bandara. Tahun 2019, 5 bandara lainnya yaitu Bandara Siau, Bandara Tambelan, Bandara Muara Teweh, Bandara Buntukunik, dan Bandara Pantar akan selesai pula.

Pada tahun 2018 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara juga telah melakukan revitalisasi bandara di perbatasan sebanyak 24 bandara, revitalisasi bandara di daerah rawan bencana sebanyak 59 bandara, revitalisasi bandara di daerah terisolasi sebanyak 48 bandara, dan rehabilitasi runway sebanyak 39 bandara. Pembangunan dan rehabilitasi terminal di 15 lokasi bandara dan meningkatkan total kapasitas di bandara-bandara tersebut menjadi 36 juta penumpang per tahun.

Dalam rangka mengurangi beban dan ketergantungan terhadap APBN, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub memulai kerja sama alternatif pembiayaan dengan skema sebagai berikut:

1. Melalui Kerja Sama Pemanfaatan (KSP), yaitu

Bandara Sentani Jayapura, Bandara Fatmawati Bengkulu, Bandara RadinInten II Lampung

dan Bandara Hanandjoeddin TanjungPandan.

2. Melalui Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), yaitu Bandara Bali Utara, Bandara Komodo Labuan Bajo, Bandara Singkawang Baru dan Bandara Juwata Tarakan.

3. Melalui Penyertaan Modal Negara (PMN), yaitu Bandara Banyuwangi, Bandara Wirasaba dan Bandara Jember.

Konektivitas pada daerah yang sulit dijangkaupun menjadi salah satu program yang diamanatkan pada Ditjen Hubud, sehingga diharapkan penumpang dan barang dapat menjangkau seluruh wilayah nusantara.

"Pada tahun 2018, terdapat 22 korwil jaringan rute perintis dengan rute perintis penumpang sebanyak 214 rute, rute kargo sebanyak 39 rute dan rute subsidi kargo sebanyak 2 rute", jelas Polana.

Program prioritas Ditjen Hubud pada tahun 2019, yaitu: Pelayanan Angkutan Udara Perintis dan Jembatan Udara meliputi Penyelenggaraan Angkutan Udara Perintis Penumpang sebanyak 190 rute, Penyelenggaraan Angkutan BBM Angkutan Udara Perintis Penumpang sebanyak 8606 drum, Penyelenggaraan Angkutan Perintis Kargo sebanyak 39 rute, Penyelenggaraan Angkutan BBM untuk Perintis Kargo sebanyak 2.005 drum dan Penyelenggaraan Subsidi Operasi Angkutan Udara Kargo sebanyak 2 rute.

"Di tahun 2019 kami akan melaksanakan pembangunan dan pengembangan bandara prioritas nasional di 42 lokasi, hal ini kami lakukan untuk membuka daerah yang sulit jangkau dan masyarakat dapat lebih mudah lagi dalam mendapatkan kebutuhannya dengan distribusi melaui bandara baru nantinya", ujar Polana.

Angkutan Udara Natal dan Tahun Baru 2019

Pos Koordinasi (Posko)angkutan udara Nataru 2019 dimulai pada tanggal 20 Desember 2018 sampai 6 Januari 2019, dan akan dilakukan pemantauan untuk penerbangan domestik di 36 bandara domestik dan penerbangan internasional di 7 bandara. Pada periode Nataru 2018-2019 penumpang dalam negeri diprediksi akan naik sebesar 9.12%, penumpang luar negeri naik sebesar 6.45% dan total keseluruhan penumpang naik 8.76% dari tahun sebelumnya.

“Guna mengantisipasi lonjakan penumpang, sampai dengan tanggal 20 Desember 2018 Kemenhub sudah menerbitkan 513 flight approval (FA) untuk penerbangan tambahan domestik dan 129 FA penerbangan internasional selama masa angkutan Nataru 2018/2019. Adapun jumlah kursi tambahan sebanyak 72.971  kursi tambahan domestik dan 35.809  kursi tambahan internasional”, jelas Polana.

Selama nataru 2018-2019 total armada yang beroperasi sebanyak 544 pesawat yang dioperasikan oleh 13 badan usaha angkutan udara.

“Kebijakan yang kami ambil untuk Nataru adalah dengan memprioritaskan keselamatan & keamanan penerbangan, penambahan kapasitas angkutan udara selama periode angkutan Nataru serta peningkatan pelayanan bagi pengguna jasa bandara”, ungkap Polana.

Startegi pun diterapkan oleh Ditjen Hubud untuk menghadapi Nataru, melalui beberapa cara, di antaranya:

a. Ramp Inspection terhadap seluruh armada, personil, sarana dan prasarana serta prosedur.

b. Pengawasan Tarif Batas Atas  dan Tarif Batas Bawah sesuai PM 14 Tahun 2016.

c. Kemudahan dalam penerbitan persetujuan terbang dalam kondisi Kahar.

d. Penambahan jam operasi bandar udara sesuai kebutuhan.

e. Penggunaan pesawat dengan tipe yang lebih besar untuk penerbangan regular dan extra.

f. Penghentian sementara terkait pekerjaan overlay dan sisi udara.

g. Optimalisasi penggunaan Slot Time (terutama pada malam hari dan memastikan airlines tidak keep slot).

 

Rencana Peresmian Bandara Baru dan Terminal Baru di Sulawesi

Kawasan bagian tengah dan timur Indonesia kini telah berkembang pesat dan untuk berbagai ragam kegiatan dengan faktor pendukung keindahan alam, keanekaragaman budaya serta kekayaan sumber daya alamnya yang berlimpah.

Bandara menjadi pintu gerbang udara atau akses menuju tempat-tempat tersebut.

Menutup tahun 2018, direncanakan Presiden RI Joko Widodo akan meresmikan Bandar Udara baru dan terminal baru. Bandara baru yang diresmikan yaitu Bandara Morowali - Sulawesi Tengah, sementara terminal baru yang diresmikan adalah Terminal baru Bandara Syukuran Aminuddin Amir – Luwuk, Sulawesi Tengah, Terminal baru Bandara Aroepalla Selayar – Sulawesi Selatan, Terminal baru Bandar Udara Lagaligo Bua Luwu – Sulawesi Selatan, dan Terminal baru Bandara Udara Betoambari, Bau-bau.

Bandara Baru Morowali dibangun di atas lahan seluas 158 hektar. Bandara ini mempunyai panjang landasan pacu berukuran 1.050 m x 30 m, apron 80 m x 70 m dan  taxiway 192 m x 18 m. Bandara juga memiliki  gedung terminal seluas 1000m2 dengan kapasitas pelayanan untuk 100 orang.

“Bandara ini dioperasionalkan untuk  membuka konektivitas di kawasan Kabupaten Morowali menuju kota-kota besar di sekitarnya seperti Palu, Poso, Kendari dan Makassar. Fasilitasnya sudah berfungsi dengan baik dan sumber daya manusianya juga sudah siap untuk mendukung keselamatan, keamanan dan kenyamanan penerbangan,” ujar Polana.

Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amir adalah bandar udara yang terletak di Desa Bubung, Kecamatan Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Saat ini landasan pacu telah dirubah menjadi 2.250 m x 45 m, taxiway 60 m x 18 m, dan apron 315 m x 85 m. Luas terminal penumpang sebelumnya hanya 1.212 m² mampu menampung penumpang 100 orang pada saat jam sibuk, nantinya setelah diresmikan terminal baru luasnya menjadi 5000m² dengan kapasitas penumpang mencapai 350 penumpang saat jam sibuk

Bandar Udara H. Aroeppala, adalah bandar udara yang terletak di Pulau Selayar, tepatnya di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Bandara ini diresmikan pada tahun 2000, tepat pada Hari Pembangunan Nasional tanggal 17 September 2000 di Kepulauan Selayar. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 1.950 × 30 m, apron 75 m x 98,6 m dan  taxiway 75 m x 20 m dan akan memiliki terminal baru seluas 2000m² dengan kapasitas 200 penumpang per waktu sibuk. Saat ini sudah 3 maskapai yang melayani penerbangan dari dan menuju Selayar, yaitu Wings Air, Garuda Indonesia dan Transnusa dengan menggunakan pesawat jenis ATR 72.

“Kehadiran Bandara Selayar dinilai sangat tepat untuk mendukung pariwisata, mengingat Kabupaten Kepulauan Selayar miliki potensi pariwisata yang sangat luar biasa. Jadi kami mendorong pariwisata melalui kehadiran pelayanan angkutan udara”, jelas Polana.

Bandar Udara Lagaligo merupakan salah satu bandara bertaraf domestik yang terletak di kecamatan Bua, 10 km dari Kota Palopo, Sulawesi Selatan, Indonesia. Sesuai dengan prasasti yang terdapat di gedung terminal bandara, bandara ini diresmikan pengoperasiannya pada tanggal 19 Oktober 2010. Bandar Udara Lagaligo mempunyai runway/landasan pacu sepanjang 1.400 x 30 meter, apron 80 x 60 m dan taxiway 18 m x 191,5 m. Bandara ini memiliki terminal baru seluas 1200m², sementara terminal yang ada sebelumnya seluas 240m² dinilai tidak mampu menampung penumpang yang semakin meningkat jumlahnya. Saat ini 2 maskapai melayani penerbangan dari dan ke Lagaligo, yaitu Wings Air dan Garuda Indonesia dengan jadwal penerbangan setiap hari dengan menggunakan pesawat jenis ATR 72 menuju Makassar.

Bandar Udara Betoambari adalah bandar udara yang berada di dekat Bau-Bau, kota di provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia. Bandar udara ini berada di ketinggian 32 meter (105 ft) di atas permukaan laut. Bandar udara ini memiliki satu landasan pacu dengan arah 04/22 dengan lapisan aspal dengan ukuran 1950 x 45 meter .

Sejak dibangun tahun 1976 berfungsi sebagai bandara perintis sempat telantar dan nyaris tidak dipakai. Pada tahun 2001 landasan bandara ditingkatkan dan pada 2014 dilakukan rehabilitasi gedung terminal dengan menambah luas menjadi 1106 m² dengan kapasitas penumpang 140 orang pada jam sibuk. Tahun ini dilakukan perluasan terminal sehingga luas terminal baru menjadi  menjadi 1.358,82m² seiring dengan penambahan kapasitas menjadi 240 orang pada jam sibuk. Saat ini 2 maskapai melayani penerbangan dari dan menuju Betoambari, yaitu Wings Air dan Garuda Indonesia dengan menggunakan pesawat jenis ATR 72.

“Seiring pertumbuhan penumpang yang berada di Bandar Udara Betoambari, kami optimis dengan adanya rehabilitasi secara berkala, maka aka nada dampak peningkatan penumpang dan meningkatkan pula wisatawan yang menggunakan bandara ini”, pungkas Polana. (ANP)