Ratusan Benih Rempah Berpenyakit Asal India Dimusnahkan

• Friday, 25 Jan 2019 - 15:44 WIB

TANGERANG - Sebanyak 561 benih ilegal impor dan 1 kilogram umbi jahe dari India, dimusnahkan oleh Kementerian Pertanian di Instalasi Karantina-Soekarno Hatta, Tangerang pada Kamis(25/1/2019).

 

Benih rempah ilegal berupa benih lada dan umbi jahe tersebut, disita dari seorang warga negara India, yang datang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat Malindo Air.

 

"Yang bersangkutan (warga India pembawa benih ilegal) tersebut membawa 561 batang benih lada dan 1 kilogram umbi jahe tanpa disertai surat jaminan kesehatan atau phytosanitary certificate dari otoritas Karantina di India," ujar Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Banun Harpini.

 

Dikatakan Banun, setelah melalui proses pemeriksaan laboratorium, pada benih ilegal tersebut terdapat hama penyakit atau organisme penganggu tumbuhan karantina (OPTK). Hal itu berupa serangga Longitarsus nigripennis, cendawan Rosellinia necatrix dan Phytophthora citropththora.

 

Pemusnahan Rempah

 

Tak hanya itu, benih-benih ilegal itu membawa bakteri Pseudomonas syringae pv. syringae serta gulma Cirsium arvense untuk lada dan cendawan Macrophomina phaseolina pada jahe.

 

Banun menjelaskan, berdasarkan Permentan nomor 31/2018 tentang Jenis OPTK, benih ini masuk ke dalam media pembawa OPTK yang berpotensi menyebarkan penyakit.

 

"Sebagian OPTK ini merupakan golongan satu, artinya belum ada di Indonesia dan tidak dapat disembuhkan dengan perlakuan. Ini akan sangat bahaya bagi budidaya rempah kita," tuturnya.

 

Selain itu, lanjut Banun, menurut pengakuan pemilik, benih tersebut rencananya akan ditanam di wilayah Republik Indonesia. Namun begitu, saat dimintai phytosanitary certificate, pemilik tersebut tak dapat menunjukkannya.

 

Atas hak tersebut, Banun mengapresiasi kinerja tim intelejen di Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta yang telah berhasil mencegah masuknya berbagai media pembawa yang berbahaya tersebut.

 

"Tren upaya pemasukan media pembawa yang berpotensi membahayakan kelestarian alam kita meningkat. Untuk itu selain penguatan sistem pengawasan perkarantinaan menjadi satu keharusan, juga adanya kepedulian dan partisipasi masyarakat sangat diperlukan," tukasnya.