Kenapa Hoax Diciptakan dan Sangat Disenangi Masyarakat?

• Friday, 8 Feb 2019 - 14:06 WIB
Ilustrasi Hoax atau Berita Bohong (foto: Shutterstock)

PONTIANAK - Sebaran informasi setiap detiknya begitu cepat menyebar ke semua lini. Apalagi di era zaman sekarang, kebutuhan akan media sosial menjadi suatu keharusan hampir semua kalangan.

 

Bijak, secara tepat menggunakan media sosial tentu akan berdampak positif. Akan tetapi, jika disalahgunakan justru akan menjerumuskan bagi penggunanya.

 

Diskusi Milenial Anti Hoax di Pontianak (foto: Ade Putra/Okezone)	 

 

Untuk itulah, Kapolda Kalbar Irjen Didi Haryono mengajak semua kalangan harus jadi agen perubahan. Termasuk kaum milenial. Caranya adalah melawan berita bohong atau hoax.

 

"Kecepatan informasi bukanlah segalanya. Namun, pengecekan secara teliti dari informasi itu penting dilakukan oleh penerima informasi," ujar Didi ketika berdiskusi dengan penggiat media sosial dalam kegiatan bertajuk 'Milenial Anti Hoax’ di sebuah cafe Jalan Zainudin, di Kota Pontianak, beberapa hari lalu.

 

Ia menjabarkan, di era sekarang banyak orang yang sengaja menyebarkan hoax untuk mencapai tujuan mereka. "Jika masyarakat percaya, maka penyebar akan merasa senang karena apa yang diharapakan akhirnya terjadi,” tuturnya

 

Lanjut jenderal bintang dua itu menjabarkan, ada empat tujuan para penyebar hoaks. Yakni, untuk menvadu domba, menyebarkan fitnah-fitnah dan mencemarkan nama baik, membuat cemas, dan perang menggunakan jaringan (mempengaruhi orang lain).

 

“Hoaks paling banyak disebar adalah sosial politik, kesehatan dan SARA. Isu inilah dianggap paling paten dan mempan untuk memecah belah," ujarnya.

 

Sementara, hoax paling sering disebar dan diterima dalam bentuk tulisan ada 62,10 persen, gambar 37,50 persen, video 0,40 persen. Sedangkan saluran penyebaran paling banyak ada di media sosial 92,40 persen.

 

Diskusi Milenial Anti Hoax di Pontianak (foto: Ade Putra/Okezone)	 

 

Didi mengungkapkan, kasus hoax di tahun 2018 relatif banyak jika dibandingkan tahun 2017. Tahun 2018 ada 38 kasus yang ditangani Polda Kalbar. Karena situasi pada saat itu memang agak ‘panas’. Dimana dalam masa Pilkada Serentak.

 

Pada 2019 ini, hanya ada lima kasus yang diungkap. Kasus itu, karena pelaku dengan sengaja men-sharing (membagikan) suatu informasi yang melanggar Undang-undang Informasi Transaksi Elektronik (ITE). “Karena memang ada aturan undang-undang harus ditegakkan. Karena ada yang melaporkan,” ujarnya.

 

Di tempat yang sama, Akademisi sekaligus Jurnalis, Leo Prima menjelaskan beberapa hal kenapa hoax mudah tersebar. Pertama, karena si pembuat hoax memang punya niat jahat. Kedua, butuh eksistensi. Di mana, sebagai manusia butuh pengakuan.

 

“Yang tidak memiliki eksistensi inilah biasanya yang mudah menyebarkan berita hoax. Mereka memposting berita heboh biar kelihatan keren. Itu sebenarnya berbahaya," terangnya.

 

Kepada semua kalangan, termasuk kaum melinial, Leo menyarankan agar menciptakan eksistensi diri yang positif. "Maka ciptakanlah eksistensi sesuai bakat," ucapnya.

 

Kemudian hal yang ketiga, karena kurangnya membaca. Tingkat minat baca masyarakat Indonesia cukup rendah. “Rendah literasi inilah mudah termakan hoax. Jadi benar-benar ditelan mentah. Perbanyak lah membaca, sehingga ada yang membentengi," ungkap fotografer senior ini.

 

Ketua Hoax Crisis Center (HCC) Kalbar Reinardo Sinaga menambahkan, hoax semakin kuat menyebar sejak tahun 2014 saat Pilpres. Kala itu, calonnya juga sama dengan sekarang. Dimana, masyarakat dibuat bingung akan informasi.

 

Karena ada beberapa media yang mendukung kedua pasangan calon presiden saat itu. Artinya, media pendukung selalu menyajikan informasi di satu sisi. Begitu juga sebaliknya.

 

"Atas kegelisahan itu, kami menyadari bahwa kepolisian wajib dibantu dalam melawan hoax. Sejak itu, kami sering men-debunk atau mencari fakta terhadap informasi yang berkembang,” ujarnya.