Soal Remisi Pembunuh Wartawan, Komnas HAM: Berkelakuan Baiknya seperti Apa?

• Friday, 8 Feb 2019 - 15:04 WIB
Konpers soal remisi Pembunuh wartawan (Foto: Witri Nasuha/Okezone)

JAKARTA – Pemberian remisi kepada terpidana I Nyoman Susrama terkait kasus pembunuhan wartawan Radar Bali, AA Gede Narendra Prabangsa kini tengah menjadi perhatian publik serta kecaman yang datang dari insan pers. Meski pemberian remisi tersebut kini tengah dikaji kembali, beberapa pihak masih mempertanyakan terkait alasan diberikannya remisi kepada Susrama.

 

Seperti halnya, alasan perlakuan baik yang dilakukannya selama menjalani masa tahanan sejak Februari 2009 silam.

 

Hal tersebut turut disampaikan oleh Komisioner Komnas HAM, Amirudin al Rahab dalam diskusi publik bertajuk “Remisi Pembunuh Jurnalis Dalam Perspektif HAM” di Gedung Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (8/2/2019).

 

 

https://img-z.okeinfo.net/okz/500/library/images/2018/05/24/h5js5h7w7w3u64rhyhn4_16042.jpg

 

"Memang perlakuan baik selama masa tahanan itu bentuknya apa? Itu yang dipertanyakan. Kan bisa saja orang yang selama dalam tahanan dia diam saja. Berkelakuan baiknya itu seperti apa?," ujarnya.

 

Menurut Amirudin, dalam pemberian remisi terhadap terpidana kasus pembunuhan wartawan Radar Bali ini memiliki sensitivitas yang rendah di dalamnya.

 

"Saya membacanya, ada sensitivitas yang rendah tentang persoalan ini," ujarnya.

 

Dalam hal ini, Amirudin berharap kepada Menteri Hukum dan HAM agar dapat menjelaskan kepada publik terkait penilaian yang diberikan kepada Susrama. Ia pun mengatakan, perlu adanya pertimbangan atas rasa keadilan dalam peraturan pemerintah yang memberikan remisi tersebut.

 

"Apakah sudah menimbang tentang rasa keadilan itu? terutama kepada publik dan saudara semua, sebagai jurnalis melihat ini seperti apa? Kan ini bisa ditimbang. Itu yang tadi saya bilang ada semacam sensitivitas yang rendah terhadap kasus seperti ini. Karena waktu 2010, proses sidangnya kan sangat luar biasa dapat perhatian," tambahnya.

 

Susrama menjadi terpidana kasus pembunuhan wartawan Radar Bali, AA Gede Narendra Prabangsa pada Februari 2019 silam.

 

Pembunuhan tersebut di latar belakangi atas tidak terimanya Sasrama mengenai pemberitaan dugaan korupsi pembangunan fasilitas di lingkungan Dinas Pendidikan Bangli senilai Rp4 miliar yang diungkap oleh Prabangsa.

 

Ia pun dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Namun, pada Desember 2018, ia menerima remisi berdasarkan keputusan yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Kebijakan itu menuai polemik, salah satunya soal jaminan kebebasan pers di Indonesia.