Sosialisasi Fakta Prestasi dan Potensi BUMN Akan Gerakkan Ekonomi Bangsa

• Wednesday, 20 Feb 2019 - 22:08 WIB
Ketua Pusat Studi BUMN FEB Univ. Prof. DR. Moestopo (Beragama), Dr. Cyrillus Harinowo, Dekan FE Moestopo 1989-1991, Komisaris Independent PT BCA Tbk., saat tampil dalam seminar nasional "Kebangkitan BUMN dalam Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan"

JAKARTA – Universitas Prof DR Moetopo (Beragama) menggelar Seminar Nasional Kebangkitan BUMN dalam Pembangunan Infrastruktur Berkelanjutan, dilaksanakan oleh Pusat Studi BUMN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Moestopo, Selasa (07/02/2019), bertempat di Graha CIMB Niaga Jakarta.

Ketua Pusat Studi BUMN FEB Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Dr. Cyrillus Harinowo mengatakan, tujuan seminar adalah untuk melakukan sosialisasi fakta prestasi an potensi BUMN, terutama dalam membangun infrastruktur dan memacu partisipasi potensi ekonomi swasta dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

"Sosialisasi fakta prestasi dan potensi BUMN untuk mengundang partisipasi potensi ekonomi bangsa", tegas Dr. Cyrillus Harinowo, yang juga Dekan FE Moestopo 1989-1991 dan Komisaris Independent PT BCA Tbk, dalam sambutan pembukaan seminar.

Sementara itu, Ketua panitia seminar, Dr. Ir. H. Tjipta Purwita, MBA., dosen FEB Moestopo, mengemukakan, rangkaian seminar BUMN yang diselenggarakan Pusat Studi BUMN FEB Moestopo merupakan penyajian prestasi kinerja BUMN.

“Untuk disikapi segenap potensi ekonomi bangsa. BUMN yang ditampilkan pada seminar nasional 2019 ini adalah Hutama Karya, Adhi Karya, Wijaya Karya, Jasa Marga, Pembangunan Perumahan, Bank Mandiri, BNI, BRI, Sarana Multi Infrastruktur. Presdir perusahaan swasta BCA, Jahja Setiaatmadja juga hadir sebagai penyaji,” ujarnya.

Menurutnya, seminar dihadiri oleh pimpinan perusahaan BUMN dan swasta terkemuka di seluruh Indonesia, dengan maksud selain studi akademik, juga untuk mengamati peluang usaha terkait bidang pembangunan infrastruktur nasional.

“Hadir juga pusat-pusat studi ekonomi bisnis perguruan tinggi Jakarta,” tambahnya.

Dalam event ini, PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, Ir. Lukman Hidayat menyajikan Market Share Plan 2019 sebesar 5,5 trilyun akan meningkat menjadi 8,62 trilyun pada tahun 2023. Meliputi pembangunan infrastruktur pelabuhan laut, jalan tol, LRT, fiber optick dan backbone, spam, jembatan, irigasi. Pembangunan sumber energi PLTU, PLTS, PLTMH, renewable energy, LPG Plant, dan tangki timbun. PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Dessi Arryani mengemukakan pangsa pasar tol Trans Jawa sepanjang 944,4 km dengan pendapatan yang solid 7,546 milyard pada tahun 2017. Akan menyebar ke sepanjang Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Maluku, Papua.

Pimpinan BCA, Jahja Setiaatmadja mengutarakan, BCA tertarik mendukung pembangunan infrastruktur nasional dengan pertimbangan, anggaran infrastruktur pemerintah meningkat menjadi Rp 415,0 T. Dengan rincian Kementerian PUPR Rp 108,2 T, Kementerian Perhubungan Rp 38,1 T, Transfer ke Daerah - Dana Desa dan lainnya Rp 228,9 T, Investasi Pemerintah Rp 39,8 T. Kebutuhan Infrastruktur 2016-2030 $82 bn / tahun atau Rp 1,148 tn / tahun. Proyek greenfield memiliki risiko besar karena belum melalui barriers seperti pembebasan lahan, AMDAL, dan ada risiko lainnya seperti inkonsistensi regulasi pemerintah atau faktor politik. Namun skema sekuritisasi dari proyek yang sudah beroperasi terlihat memiliki risiko paling rendah. Kredit infrastruktur tumbuh pesat sejak tahun 2015. Porsi kredit infrastruktur terhadap total kredit meningkat dari sekitar 6% di 2013 menjadi sekitar 9 % di akhir 2018. (ANP)