Heboh Bumbu Cabai Kering Sudah Tewaskan 38 Anak di Jakarta, Ini Faktanya!

• Friday, 22 Feb 2019 - 08:56 WIB
Ilustrasi

WARGANET kembali dihebohkan dengan isu soal kesehatan. Kali ini, informasi yang beredar melalui pesan berantai WhatsApp (WA) dan media sosial Facebook (FB) menyebutkan bahwa di daerah DKI Jakarta dan Jawa Barat tengah dilanda penyakit difteri.

 

Dalam narasi informasi itu juga disebutkan bahwa sudah 600 orang terkena penyakit tersebut dan dinyatakan 38 sudah meninggal dunia. Selain itu, diklaim pula bahwa penyakit itu berasal dari bumbu bubuk cabai yang tempat pengolahannya telah terkontaminasi air seni tikus.

 

Berdasarkan penelusuran, diketahui bahwa 600 orang terjangkit difteri dan 38 orang telah meninggal dunia itu merupakan peristiwa pada Desember 2017. Informasi itu dikemukakan oleh Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 18 Desember 2017.

 

Sebagaimana dimuat di media nasional, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut ada 38 anak yang meninggal dunia karena terserang penyakit difteri. Korban meninggal itu tercatat sejak November-Desember.

 

"Hingga saat ini 38 anak Indonesia dinyatakan meninggal dunia karena terserang penyakit difteri dan lebih 600 anak dirawat di RS karena terserang difteri di 120 kota/kabupaten, kata Ketua PB IDI Ilham Oetama Marsis, di kantor PB IDI Jalan Samatulangi, Jakarta Pusat, Senin 18 Desember 2017.

 

Data jumlah anak yang meninggal karena difteri didapat IDI dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). IDI menilai data dari IDAI akurat. "Itu data-data dari kawan-kawan IDAI, IDAI ini ujung tombak kita PB IDI di daerah. Kadang-kadang laporan dari IDAI kalau saya mengatakan jauh lebih akurat," jelasnya.

 

Ilham mengatakan, banyaknya anak-anak yang menderita difteri karena diduga tidak lengkapnya imunisasi yang diberikan. Imunisasi lengkap artinya imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus) harus dilakukan sebanyak 8 kali sampai usia 19 tahun.

 

"Lengkap itu imunisasi 4 kali sampai usia 2 tahun, sampai umur 5 tahun DPT 5 kali, sampai unur 19 tahun DPT, DT, Td total 8 kali," sambung Ilham.

 

Menurut Ilham, seseorang yang sudah mendapatkan 8 kali imunisasi DPT masih bisa terkena virus difteri. Namun kemungkinan terserang difteri bagi orang yang sudah mendapatkan vaksin lebih kecil.

 

"Dari kutipan pemberitaan itu, diketahui bahwa jatuhnya korban karena penyakit difteri bukan terjadi baru-baru ini. Melainkan pada Desember 2017. Dengan begitu, klaim bahwa daerah DKI Jakarta dan Jawa Barat tengah kejadian luar biasa (KLB) difteri di tahun ini tidak benar," tegas Muhammad Khairil, salah satu moderator grup FB Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH).

 

Lalu, untuk klaim sumber penyakit difteri adalah tikus, spesifiknya adalah air seni tikus, juga tidak benar. Sebab, penyebab penyakit difteri ialah bakteri Corynebacterium, bukan air seni tikus.

 

"Difteri merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium dan bukan berasal dari air seni tikus. Adapun, penyakit dari air seni tikus disebut leptospirosis. Dengan demikian, klaim pada narasi tidak benar," ujarnya.

 

Sebagaimana kutipan penjelasan tentang penyakit difteri, difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit.

 

Penyakit ini menyebabkan kematian karena bakteri menyumbat saluran pernapasan, menimbulkan komplikasi miokarditis atau radang pada dinding jantung bagian tengah, dan berakhir dengan gagal ginjal serta gagal sirkulasi.

 

Penyakit yang disebabkan Corynebacterium diphtheriae ini sangat menular dan termasuk infeksi yang berpotensi mengancam jiwa. Sepanjang Desember saja, sebanyak enam orang meninggal akibat bakteri yang menyerang saluran pernapasan bagian atas itu. Jumlah kematian akibat difteri meningkat menjadi 38 dari 32 kasus selama Januari-November 2017.

 

Untuk mencegah penyakit ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan imunisasi ulang bagi anak berusia 0-19 tahun, yang dilakukan serentak sejak 11 Desember lalu.

 

Dari paparan itu, ditegaskan kembali oleh Khairil, bahwa sudah jelas bahwa penyakit difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium. Sedangkan, untuk penyakit terkait air seni tikus ialah leptospirosis.

 

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri leptospira yang dapat menyerang manusia dan hewan. Bakteri ini bisa menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi. Jenis hewan yang membawa bakteri ini antara lain babi, kuda, anjing, dan tikus.

 

Saat hewan ini terinfeksi, mereka mungkin tidak memiliki gejala penyakitnya. Namun, hewan dapat terus mengeluarkan bakteri ke lingkungannya secara terus-menerus selama beberapa bulan sampai beberapa tahun.

 

Pada manusia, bisa terinfeksi melalui kontak dengan air kencing atau cairan tubuh lainnya, kecuali air liur, dari hewan yang terinfeksi. Bisa juga dari kontak dengan air, tanah, atau makanan yang terkontaminasi dengan urine hewan yang terinfeksi.

 

Bakteri bisa masuk ke tubuh melalui kulit atau selaput lendir (mata, hidung, atau mulut), terutama jika kulit pecah dari luka atau goresan. Minum air yang terkontaminasi juga bisa menyebabkan infeksi.

 

Wabah leptospirosis biasanya disebabkan oleh paparan air yang terkontaminasi, seperti banjir. Penularan orang ke orang jarang terjadi.

 

Dari kutipan itu, sudah jelas bahwa leptospirosis-lah penyakit yang disebabkan oleh air seni tikus. Dengan demikian, konteks hubungan penyakit difteri dengan air seni tikus tidak ada. "Berdasarkan paparan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa klaim pada narasi informasi yang tersebar tidaklah benar," ujar Khairil.

 

Selain itu, dalam salah satu postingan di atas, ada salah satu akun yang menyeratakan video cabai kering yang tengah dikerubungi oleh sejumlah tikus. Postingan itu sebelumnya juga sudah pernah di-debunk pada 22 Desember 2017.

 

"Dengan demikian, informasi tentang penyakit difteri di bumbu bubuk cabai kering termasuk kategori false context atau konten yang salah," tutup Khairil.