Menyeruput Secangkir Kopi Seharga Rp90 Ribu

• Senin, 25 Peb 2019 - 13:25 WIB
Kopi mahal di Doha (Foto:Ist)

PERNAH minum kopi seharga Rp90.000 per cangkir? Jika belum, datanglah ke Doha, Qatar. Di sana harga secangkir kopi memang tidak murah.Perlu merogoh kocek agak dalam jika ingin menikmatinya.

 

Survei yang dilakukan perusahaan keuangan UBS baru-baru ini menyebutkan, Doha menjadi kota termahal di dunia untuk urusan kopi. Mahalnya harga kopi di ibu kota Qatar itu sejalan dengan biaya hidup di kota itu yang le bih tinggi 20-30% dari rata-rata biaya hidup di kota-kota lain di Uni Emirat Arab (UEA). Dalam survei UBS, Doha berada di urutan kota dengan harga kopi termahal, yakni USD6,4 per cangkir (Rp90.000, kurs Rp14.000 per dolar AS). Kota-kota lainnya yang menawarkan harga kopi termahal adalah Kopenhagen (USD6,24 per cangkir) dan Dubai (US D5,7 per cangkir).

 

Sementara harga rata-rata secangkir kopi di Jakarta, menurut survei tersebut, sebesar USD4,1. Selain menyajikan data kopi termahal, UBS juga merilis kota-kota dengan harga kopi termurah di dunia. Lagos menjadi kota dengan harga kopi termurah dengan banderol secangkir kopi hanya USD0,62 (Rp8.700). Lihat infografis. “Riset menemukan bahwa kopi latte atau cappuccino di salah satu kafe di Kopenhagen dijual senilai USD6,24. Itu dua kali lipat harga secangkir kopi di New York yang harganya rata-rata USD3,12,” ungkap la - poran UBS baru-baru ini. Di beberapa kota di dunia lainnya, harga secangkir kopi bervariasi. Misalnya saja di Zurich USD4,98 per cangkir, Moskow USD4,31, Beijing USD4,42, Istanbul USD1,41, Kai ro USD1,36, Shanghai USD4,60, Mumbai USD1,06, Du bai USD5,70, Sao Paulo USD1,50, dan Johannesburg USD1,49.

 

Menurut UBS, saat ini lebih dari 70 negara menanam kopi. Brasil, Vietnam, Kolombia, Indonesia, Honduras, dan Ethiopia menyumbang sekitar setengah dari produksi global kopi dan Uni Eropa merupakan se tengah konsumsi global untuk kopi. Khusus Indonesia, ber dasarkan data Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), setiap tahunnya produksi kopi dalam negeri mencapai 630.000 ton lebih. Dari jumlah tersebut sekitar 70%-nya diekspor. Data Badan Pusat Statistik (BPS) bahkan menyebutkan, pada 2017 ekspor kopi nasional mencapai 464.000 ton. Menteri Per ind ustrian Airlangga Hartarto dalam keterang an tertulisnya me nyatakan, akan terus men do rong di ver sifikasi produk in dustri untuk mengisi pasar ekspor.

 

Dia melihat industri se makin agresif un tuk membuka akses pasar baru dan me ningkatkan nilai eks pornya. “Ini seiring komitmen pe merintah menciptakan iklim usaha yang kondusif dan memberikan kemudahan perizinan ter masuk prosedur ekspor,” tuturnya. Di kancah global, data Ke - menterian Perindustrian me nyebutkan ekspor produk kopi olahan nasional terus me ning kat setiap tahun nya. Pada 2016, ekspornya mencapai 145.000 ton atau senilai USD428 juta, kemudian meningkat hingga 178.000 ton atau senilai USD487 juta di tahun 2017. Pa da 2018, terjadi lonjakan pe ning katan ekspor hingga 21,49% atau sebanyak 216.000 ton dengan pe ning kat an nilai 19,01% atau mencapai USD580 juta.

 

Ekspor tersebut didominasi oleh kopi olahan berbentuk instan sebesar 87,9% dan si sa nyaberbasis ekstrak dan essence. Tujuan ekspor utama industri pengolahan kopi na sional, antara lainFilipina, Ma lay sia, Iran, China dan Uni Emi rat Arab. Airlangga juga menyebutkan, Indonesia merupakan negara penghasil biji kopi terbesar keempat di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Hal ini menjadi potensi pengem bang - an industri pengolahan kopi di dalam negeri. “Produksi kopi kita sebesar 639.000 ton pada 2017 atau 8% dari produksi kopi dunia dengan komposisi 72,84% merupakan kopi jenis robusta dan 27,16%$ kopi jenis arabika,” ujarnya.

 

Pada 2017, tercatat ada 101 perusahaan kopi olahan yang meliputi skala besar dan sedang dengan jumlah penyerapan tenaga kerja sebanyak 24 ribu orang dan total kapasitas produksi lebih dari 260.000 ton per tahun. Besarnya potensi pasar kopi global harus bisa diman faat - kan produsen kopi seperti In - do nesia. Apalagi saat ini me - ngon sumsi kopi bukan lagi se - kadar kebutuhan, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Wakil Ketua Specialty Cof fee Association of Indonesia (SCAI) Daroe Handojo menga ta kan bahwa selain ekspor, po tensi pasar kopi di dalam negeri juga tinggi.

 

“Untuk per min taan pasar domestik masih akan terus naik. Apalagi se ka rang kopi bukan hanya konsumsi, tetapi juga menjadi gaya hidup,” ujar nya. Sayangnya, menurut dia, permintaan kopi yang tinggi tidak disertai peningkatan produksi kopi. Menurutnya, ada beberapa kendala dalam hal produksi kopi, di antaranya pohon kopi Indonesia yang kebanyakan sudah tua sehingga perlu peremajaan. Daroe mengakui, sekitar 70% kopi Indonesia diekspor. Namun karena permintaan di dalam negeri cukup tinggi, ekspor menjadi turun. “Selain permintaan dalam negeri me ningkat, harga kopi dunia juga turun. Jadi kita kalah bersaing dari harga, tapi dari kualitas me mang kita tetap bagus,” paparnya.

 

Konsumsi Tinggi

Sementara itu data lain yang di rilis World Atlas menunjukkan Denmark menjadi salah satu negara paling mahal untuk membeli secangkir kopi. Se ge las kopi cappuccino di negara itu rata-rata dihargai USD5,2 atau sekitar Rp73.000. Denmark tidak memproduksi kopi, tet a pi mengimpor semua kopi yang mereka konsumsi. Permintaan kopi di Denmark sangat tinggi karena negara itu menjadi kon sumen keempat terbesar kopi di dunia. Negara lain yang harga kopinya termasuk mahal adalah Islandia. Secangkir kopi cap puccino di negara Nordik itu mencapai USD5,05. Adapun konsumsi kopi per kapitanya sekitar 9 kg per tahun. Islandia, seperti negara-negara di sekitarnya, tidak menanam kopi, tapi mengimpor seluruh stok kopi yang dikonsumsi.

 

“Dengan suhu rata-rata minus 10 derajat Celsius saat musim dingin dan 20 derajat Celsius saat musim panas, banyak orang minum kopi untuk menghangatkan diri. Fak tor inilah yang menaikkan per - mintaan dan harga secangkir kopi,“ papar laporan World Atlas. Sementara itu mengenai mahalnya harga kopi di Qatar, hal itu karena pendapatan per kapita per tahun di negara itu ter masuk tinggi, yakni USD124.927 atau yang ter besar di dunia. Karena itu war ga Qatar memiliki pendapatan dua kali lipat dari warga Ame rika Serikat. “Otomatis dengan pendapatan warga yang tinggi, harga kopi sebesar itu tak jadi masalah,” ungkap laporan tersebut.

 

Dalam laporan berbeda, situs perbandingan produk bis nis ke bisnis yang berbasis di Inggris, Expert Market, barubaru ini juga menggelar studi tentang 57 negara terbaik di dunia dalam mendorong pemuda menjadi entrepreneur. Salah satu faktor yang diper timbangkan Expert Market adalah harga secangkir kopi di setiap negara. Dari data itu di temukan bahwa kopi paling murah ada di Bulgaria dan yang paling mahal dijual di Den mark. “Amerika Serikat (AS) memiliki harga secangkir kopi paling mahal ke-11 di dunia, turun di bawah China, Fin landia, dan Korea Selatan (Kor sel),” papar hasil studi Expert Market seperti dilansir Entre preneur.com