Ketahui Gejala Virus Rabies dan Cara Mencegahnya

• Friday, 1 Mar 2019 - 14:27 WIB
Biasakan rutin cek kesehatan. (Foto: Healthcheckup)

JAKARTA - Satu gigitan anjing ternyata bisa merenggut nyawa manusia melalui virus rabies yang berpotensi menyebabkan kematian. Virus rabies ini, menyerang sistem saraf pada manusia dan hewan berdarah panas seperti anjing, kucing, serta kera.

 

Direktur Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI dr Siti Nadia Tarmizi mengatakan, virus rabies bisa menular melalui gigitan dan non-gigitan. Contohnya melalui goresan, cakaran atau jilatan pada kulit yang terbuka atau luka pada hewan yang telah terinfeksi virus rabies.

 

"Setelah masuk dalam tubuh, virus rabies bereplikasi dan menjalar dari susunan syaraf perifer ke susunan syaraf pusat," kata Nadia Tarmizi, seperti dikutip dari siaran pers, Jumat (1/3/2019).

 

Dia menjelaskan, gejala-gejala klinis yang muncul setelah virus rabies mencapai susunan saraf pusat dan menginfeksi seluruh neuron terutama di sel-sel limbik, hipotalamus, dan batang otak. Selain itu, virus rabies menyebar melalui sistem saraf, sehingga tidak terdeteksi melalui pemeriksaan darah.

 

"Hingga saat ini, belum ada teknologi yang bisa mendiagnosa dini sebelum muncul gejala klinis rabies," kata Nadia.

 

Gejala

Gejala rabies pada hewan sendiri bervariasi. Di antaranya perubahan tingkah laku seperti mencari tempat yang dingin dan menyendiri, agresif atau menggigit benda-benda yang bergerak termasuk terhadap pemilik, memakan benda-benda yang tidak seharusnya menjadi makanan, hiperseksual, mengeluarkan air liur berlebihan, inkoordinasi, kejang-kejang, dan paralisis atau lumpuh.

 

Hewan yang terjangkit rabies dan memiliki gejala ini, biasanya akan mati dalam waktu 14 hari. Namun, umumnya mati pada dua hingga lima hari setelah tanda-tanda tersebut terlihat.

 

Sementara rabies pada manusia adalah menunjukkan gejala radang otak akut (encephalitis) seperti hiperaktifitas, kejang, atau kelumpuhan (paresis/paralisis). Bahkan, manusia yang terjangkit dapat mengalami koma dan meninggal dunia karena gagal pernapasan pada hari ketujuh sampai 10 sejak timbul gejala pertama.

 

"Apabila penderita rabies telah menunjukan tanda klinis, biasanyaa berujung pada kematian baik pada hewan maupun manusia. Biasanya, hewan rabies akan mudah agresif menyerang manusia tanpa sebab,” kata Nadia.

 

Pencegahan Rabies

 

Sementara itu, pencegahan rabies dilakukan dengan melakukan tatalaksana luka gigitan hewan penular rabies (GHPR), yaitu melakukan pencucian luka gigitan menggunakan air dan sabun selama kurang lebih 15 menit. Pencucian ini harus segera dilakukan setelah terjadi jilatan, cakaran, atau gigitan oleh hewan penular rabies (HPR). Ini untuk membunuh virus rabies yang berada di sekitar luka gigitan.

 

Kedua, memberikan antiseptik setelah dilakukan pencucian luka untuk membunuh virus rabies yang masih tersisa di sekitar luka gigitan. Antiseptik yang dapat diberikan di antaranya povidon iodine, alkohol 70 persen, dan zat antiseptik lainnya.

 

Ketiga, pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dan Serum Anti Rabies (SAR) untuk membangkitkan sistem imunitas dalam tubuh terhadap virus rabies dan antibodi yang terbentuk bisa menetralisasi virus rabies sesuai dengan kriteria.

 

Pemberian VAR dan SAR perlu dipertimbangkan kondisi hewan saat pajanan terjadi, hasil observasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium spesimen otak hewan, serta kondisi luka yang ditimbulkan.

 

Di sisi lain lakukan observasi hewan (kandangkan atau ikat hewan) yang menggigit selama 14 hari. Sebaiknya hentikan pemberian VAR bila hasil observasi hewan menunjukkan hewan sehat, atau hasil pemeriksaan laboratorium terhadap spesimen otak hewan menunjukkan hasil negatif.

 

Editor : Tuty Ocktaviany

Source : iNews.id