Jakarta, Waspada Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue

• Monday, 4 Mar 2019 - 14:43 WIB
Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Sri Widyastuti memberikan keterangan terkait jumlah warga Jakarta yang terserang penyakit demam berdarah, Senin (4/3/2019). (Foto: iNews.id/ Willdan Catra Mulia).

Jakarta - Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang menginfeksi bagian tubuh dan sistem peredaran darah manusia ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty yang terinfeksi.

Gejala penyakit ini biasanya diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik merah/ruam di kulit disertai mual dan nyeri ulu hati, pada kasus yg parah dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.

Salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan nyamuk dan penyakit DBD adalah kondisi iklim. Iklim berperan dalam memberikan lingkungan yang kondusif untuk nyamuk berkembang, sehingga Iklim menjadi faktor sangat penting terutama diawal masa perkembangan nyamuk. 

Adapun kasus DBD di DKI Jakarta dari bulan Januari sampai dengan 2 Maret 2019 tercatat 2.282 kasus (IR = 21,61/100.000 penduduk) dan 1 kematlan (CFR =0,04%). 

Pada tahun 2018 tercatat 2. 963 kasus DBD (IR=28,31/100. 000penduduk) dengan 2 kematian (Case Fatality Rate=0, 07%).

Pada tahun 2017 dilporkan 3.352 kasus dengan lnsidence Rate (IR) sebesar 32,41/1 00. 000 penduduk dan 1 kematian (CFR=0, 03%).

Pada tahun 2016 tercatat 20.432 dengan IR 198,80/100.000 penduduk dan 14 kematian (CFR=0,07%). 

Upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta dalam pengendalian DBD melalui tiga prinsip dalam upaya mencegah Penyebaran Demam Berdarah yakni;

1. Upaya Promotif 
Melalui Kegiatan Penyuluhan, Promosi kegiatan Pengendalian DBD dengan menyebarluaskan lnformasi ke masyarakat menggunakan media KIE, melalui TV, Radio, ataupun media sosial yang ada tentang Waspada DBD dan pengendaliannya yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Plus. 

Kerjasama antar lembaga dalam melakukan kajian DBD melalui berbagai disiplin ilmu yang melibatkan Institusi akademi seperti UI, 1PB dan lnstitusi lainnya seperti BMKG dan BPPD untuk mencari strategi terbaik penanggulangan kasus DBD di Privinsi DKI. Saat ini pemda DKI bekerjasama dengan BMKG dalam pengembangan model Prediksi angka DBD berbasis lklim yang dapat dakses melalui http://dbd.bmkg.go.id/. Pemodelan ini merupakan bentuk sistem kewaspadaan dini yang dapat diakses seluruh Iapisan masyarakat dalam rangka antisipasi.

2. Upaya Preventif
a. Penguatan Regulasi melalui kebijakan sebagai upaya pengendalian DBD diantaranya Perda Nomor 6 tahun 2007 tentang pengendalian DBD dan Instruksi Gubernur Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penanganan Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue.

b. Memetakan daerah rawan DBD hingga tingkat RW sehigga pengendalian kasus DBD lebih fokus dalam rangka memutus mata rantai penularan DBD. 

c. Pemantauan ketat melalui system surveilans DBD berbasis Web sejak tahun 2005 dengan melibatkan 160 Rumah Sakit dan Puskesmas diseluruh DKI Jakarta, sehingga dapat mempercepat Informasi untuk pemutusan mata rantai penularan berdasarkan nama dan alamat.

d. Melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) pada kasus DBD dan Pengasapan atau fogging fokus pada daerah terjangkit kasus DBD dengan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) positif. 

e. Melakukan pengendalian vector nyamuk melalui pelaksanaan PSN 3M Plus (Menguras, Menutup, Mendaur Ulang) plus kegiatan lainnya untuk mengurangi gigitan nyamuk seperti penanaman tanaman anti nyamuk, penaburan ikan pemakan Jentik, dengan metoda Self Jumantik telah dilaksanakan sejak tahun 2010 di DKI Jakarta, yang sekarang menjadi program nasional dengan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

f . Melakukan kegiatan pelatihan kepada para Jumantik sekolah yang dilaksanakan oleh Puskesmas bekerjasama dengan organisasi profesi maupun perguruan tinggi dibeberapa sekolah di wilayah Provinsi DKI Jakarta dengan tujuan Jumantik cilik tersebut dapat melakukan kegiatan PSN disekolah maupun ditempat tinggalnya.

g. Peningkatan kerjasama lintas sektoral khususnya pengelola gedung pada 7 (tujuh) tatanan (Pemukiman, Perkantoran, Tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, lnstitusi pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas olahraga) dalam pelaksanaan PSN.

h. Mengoptimalkan sarana dan prasarana untuk pengobatan kasus Demam Berdarah.

i. Mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam Gerakan 1 rumah 1 Jumantik (G1R1J) dan melaksanakan PSN 3 M Plus dl tempat tinggal masing-masing minimal seminggu sekali sebagai berikut : 

Menguras dan menyikat tempat tempat penampungan air seperti bak mandi/wc, tempayan, penampungan air minum, penampungan air buangan ac, ember, drum dan lain-lain.

Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, seperti gentong air, tempayan, dan lain lain. 

Memanfaatkan atau mendaur ulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.

Menutup lubang-lubang pada pohon, bambu, pagar rumah dengan tanah atau lainnya.

Mengganti air di vas bunga, tempat minum burung dan sejenisnya. 

Menaburkan Iarvasida atau memelihara ikan pemakan jentik pada tempat yang sulit dikuras.

Menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk.

Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang cukup dalam ruangan.

Menghindari kebiasaan menggantung pakaian.

Memakai repelant yang dapat mencegah gigitan nyamuk. 

3. Upaya Kuratif
Upaya yang dilakukan dalam memberikan tatalaksana yang baik dan benar bagi pasien DBD dengan Penguatan kompetensi SDM melalui pembekalan kembali tata laksana klinis DBD kepada para dokter puskesmas/klinik, RS maupun tenaga kesehatan masyarakat. 

Melalui upaya pengendalian Penyakit DBD yang komprehensif diharapkan efektif dalam menurunkan angka kesakitan akibat DBD di DKI Jakarta.

 

 

 

(FZR)