LIPI Sarankan Tiga Cara Turunkan Emisi Karbon

• Monday, 4 Mar 2019 - 19:35 WIB
eknisi melakukan perawatan instalasi panel listrik tenaga surya di Hotel Wujil, Ungaran, Jawa Tengah, Rabu (30/10/2016)

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan menurunkan emisi karbon. Hal ini sesuai dengan komitmen pada kesepakatan Paris Agreement, yaitu mencapai bauran energi terbarukan (EBT) sebesar 25% pada 2025.

 

Peneliti Pusat Penelitian Ekonomi LIPI Maxensius Tri Sambodo mengatakan bahwa hingga saat ini upaya pemerintah mencapai target bauran EBT masih belum optimal. "Sepertinya fokus pemerintah untuk EBT masih setengah hati ya, tidak serius," kata dia pada "Seminar Energi" di kantor pusat LIPI, Jakarta, Jumat (1/3).

 

Grafik:

 

Berdasarkan data LIPI pada 2004, pembangunan pembangkit EBT mencapai 16,35 gigawatt (GW). Dari angka itu, PLN membangun 12,1 GW, sisanya produsen listrik swasta (IPP).

 

Di tahun yang sama, pembangunan energi fosil mencapai 103,8 GW. Perusahaan setrum negara mendirikan 84,1 GW pembangkit dan IPP mencapai 19,7 GW.

 

Pada 2017, pembangkit EBT yang dibangun naik sebanyak 32 GW. Namun, angka itu masih lebih jauh dibandingkan pembangunan pembangkit fosil yang mencapai 222,6 GW.

 

Grafik:

 

Maxensius menganjurkan tiga solusi untuk masalah ini. Pertama, pemerintah perlu mengembangkan jaringan listrik pintar (smart grid). Teknologi tersebut dapat mengakomodir peran pembangkit listrik EBT dengan optimal.

 

Teknologi smart grid membuat pengelolaan listrik berjalan dua arah. Tak hanya PLN yang menyediakan, pemilik rumah yang memiliki pembangkit EBT pun bisa memasok listrik ke jaringan yang sudah ada.

 

Dana untuk membuat smart grid sekitar Rp 238 triliun per tahun. Tapi untuk jangka panjang, Indonesia tak lagi bergantung pada energi fosil.

 

"Jadi kita tinggal pilih. Murah tapi terus seperti ini. Atau mahal sedikit tapi lebih baik untuk ke depannya," kata Maxensius.

 

Selain itu, menurut dia, pemerintah perlu memberi insentif kepada industri yang memakai teknologi ramah lingkungan. Sektor industri menjadi konsumen energi fosil terbesar pada 2017, sebesar 43,8%. Di 2007, angka itu hanya 25%.

 

Pengembangan kendaraan berbahan bakar listrik juga perlu dikebut untuk mengurangi bahan bakar fosil. Transportasi juga menjadi penyumbang emisi karbon kedua yang terbesar di Indonesia. Pada 2007 sektor ini mengonsumsi sekitar seperempat dari pemakaian bahan bakar fosil tanah air. Angka itu naik menjadi 39%

 

Di Tiongkok, Maxensius mengatakan, pemerintahnya telah memberi subsidi untuk mobil listrik dan insentif untuk industrinya. "Kita punya potensi di sini karena transportasi (pribadi) yang jumlahnya banyak," ujarnya.