A Private War : Perjuangan Jurnalis Yang Menegakkan Kebenaran

• Jumat, 8 Mar 2019 - 17:41 WIB

A Private War adalah film Drama Biografi dari salah satu seorang jurnalis dan wartawan muda yang berasal dari Amerika serikat. Disutradarai oleh Matthew Heineman dan diproduseri oleh Matthew George, Basil Iwanyk, Marissa Mcmahon, dan Charlize Theron.

 

Film A Private War di bintangi oleh sejumlah aktor dan aktris Hollywood. Mulai dari Rosamund Pike, Stanley Tucci, Tom Hollander, Jamie Dornan, Faye Marsay, Nikki Amuka – Bird, Alexandra Moen, Greg Wise, Correy Johnson, Fady Eksayed, Imogen King, Amanda Drew, Raad Rawi, Jeremie Laheurte, Hilton, Jesuthasan Antonythasan Michele Belgrand dan masih banyak banyak lagi.

Film ini didasarkan pada artikel 2012, di laman Vanity Fair yang berjudul " Marie Colvin’s Private War”.

Sang penulis yaitu Arash Amel yang menuliskan naskah film ini. Film ini merupakan biografi dari salah satu wartawan bernama Marie Colvin yang selalu menyuarakan kebenaran. Karenanya, film A Private War ini telah mendapatkan banyak pujian baik dari para penonton maupun dari kritikus film. Pada Golden Globe Awards ke-76, film ini mendapat nominasi untuk Aktris Terbaik bagi Rosamund Pike sebagai Marie Colvin. Sementara sutradara Matthew Heineman menerima nominasi untuk Pencapaian Direktur Luar Biasa dari sebuah Sutradara Film Fitur Pertama Kali dari Director Guild of America.

Marie Colvin adalah seorang jurnalis muda Amerika yang diangkat menjadi The Sunday Times di mana dia mulai berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang paling berbahaya dan mendokumentasikan perang saudara mereka. Dia selalu di tempatkan di negara-negara yang dalam kawasan konflik seperti di timur tengah.

 

Marie Colvins juga sering meliput tempat – tempat perbatasan yang rawan konflik. Sehingga dapat dikatakan bahwa Marie Colvin merupakan seorang wartawan yang sangat berani. Karena hal ini sampai – sampai Marie Colvin harus kehilangan mata kirinya akibat dari ledakan granat ketika adanya konflik di sri lanka. Tepatnya pada tahun 2001, saat melakukan perjalanan Macan Tamil, Colvin dan krunya disergap oleh Angkatan Darat Sri Lanka. Meskipun dia berusaha untuk menyerah, RPG menembaknya arah, melukainya sampai ia kehilangan mata kirinya. Namun itu tidak membuat Marie Colvin s berhenti menyuarakan kebenaran sebagai wartawan dan jurnalis. Ia bahkan rela mengorbankan kehidupan percintaannya demi hal tersebut.

Setelah itu, Colvin terpaksa memakai penutup mata. Didiagnosis dengan PTSD, Colvin masih bertekad untuk mencari cerita baru dan berdebat dengan bosnya, Sean Ryan, ketika dia menolak untuk membiarkannya melakukannya. Pada 2012, Colvin merekrut seorang jurnalis lepas Inggris untuk membuat cerita tentang kota Homs. Tidak menyadari bahwa kota ini melakukan kudeta besar-besaran, Colvin dan fotografer perang Paul Conroy terjebak dalam baku tembak. Wanita yang lahir di Queens tidak segan meliput di tempat – tempat seperti Afghanistan,Irak, Libya, Sri Lanka. Dimana dia kehilangan mata kirinya. Serta suriah dimana dia akan kehilangan nyawanya karena pemboman di Homs.

 

Film ini diawali dengan Flashback pada awal karir Marie Colvin yang terkenal sebagai seorang perokok, peminum dan memulai hubungan asmara yang bernasib buruk, termasuk dengan mantan suaminya sendiri. Dalam Film ini Pike sebagai Marie Colvins di gambarkan menjadi wanita yang temperamental. Kilas balik yang menjadi serangan dan kecemasan yang akhirnya mengirim colvin ke rehabilitasi mengatasi pasca trauma yang ia miliki akibat kehilangan matanya.

Di awal invasi tahun 2003 saat berada di irak, Marie bertemu dengan seorang jurnalis foto yang bernama Paul Conroy ( Jamie Doman) dan juga bersama – sama mereka melakukan perjalanan menuju Ramallah, mengekspos kuburan massal yang membuktikan kekejaman pasukan Saddam Hussain pada bangsanya sendiri.

 

Editor dan teman Colvin yang bernama Sean Ryan ( Tom Hollander) sering terlihat memohon agar marie keluar dari area semacam itu, namun marie tetap terus mengumpulkan penghargaan sebab ia melaporkan di tempat rawan konflik seperti itu atas nama The Sunday Times.

Karena wilayah sedang di bombardir dan mereka tidak dapat kembali, keduanya pun melakukan penyelamatan nyawa pria, wanita, dan anak-anak Suriah dengan mengevakuasi mereka dari kota. Ketika Marie, Paul, dan reporter lainnya, Rémi Ochlik, melarikan diri dari gedung mereka telah digunakan sebagai pusat media, jalan dibumbui dengan ledakan.

Paul, terluka dan terguncang, terbangun untuk menemukan rekannya, Colvin dan Ochlik terbunuh dari ledakan dan tumpukan puing-puing berikutnya. Film berakhir dengan gambaran kota Homs yang hancur, diikuti oleh sebuah wawancara dengan Marie Colvin yang asli, dengan kutipan "Anda tidak akan pernah sampai ke tempat yang Anda tuju jika Anda mengakui rasa takut."