Uniknya Sumur Sibuddaoinan dan Keelokan Hutan Bakau di Mentawai

• Tuesday, 19 Mar 2019 - 14:46 WIB
Hutan Bakau di Dusun Sibudda Oinan di Mentawai (Foto: Rus Akbar/Okezone)

Laju perahu mesin tempel agak bergoyang saat keluar dari pintu muara Desa Saibi Samukop, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Saat di pintu muara ombak agak lebih besar karena sering pecah membentur pintu.

 

Namun setelah lepas kondisi ombak sudah tenang dan terus menuju ke Dusun Sibudda Oinan masih di wilayah Desa Saibi Samukop. Sebenarnya ada dua jalur menuju ke dusun tersebut, namun jalan darat kondisinya sudah hancur sehingga memilih jalur laut.

 

Perahu sedikit diperlambat karena saat menuju ke Sibudda Oinan operator mesin tempel ini melepas pancing sambil berjalan. Sekira setengah jam lamanya perjalan di laut akhirnya bersandar di pelabuhan mini yang terbuat dari kayu. Sekira empat orang bocah bermain-main di pelabuhan mini tersebut.

 

 

Namun perahu tidak bisa tertambat di pelabuhan tersebut lantaran anggarnya terlalu tinggi untuk perahu kecil. Kemudian operator melabuhkan perahu ke pantai dengan pasir yang putih dan bersih, air laut yang jernih, dan karang-karang yang warna-warni di sekitar pelabuhan itu.

 

Dusun Sibudda Oinan ini berada di tepi pantai yang dipenuhi oleh tanaman kelapa subur. Di sisi kiri pelabuhan kayu itu ada sumur yang menjadi andalan wisata daerah itu. Meski baru perencanaan oleh Pemda Mentawai, namun sumur itu sudah terkenal jauh sebelum berdiri Kabupaten Kepulauan Mentawai.

 

 

 

Ajaibnya sumur ini letaknya hanya 10 meter, bahkan dulu sempat abrasi jaraknya 5 meter saja namun airnya tetap tawar tidak pernah asin. Saat pasang, air tersebut tetap saja tawar dan tidak pernah asing padahal air laut sudah masuk dalam sumur itu.

 

Saat Okezone bertandang ke sumur itu, seorang ibu-ibu paruh baya sedang mencuci pakaiannya. Dia mengatakan sumur ini airnya tetap ada dan jernih meski dilanda kemarau panjang.

 

Plt Kepala Dusun Sibuddaoinan Linus Sanenek mengatakan nama sumur itulah nama daerah itu, Budda artinya 'muncrat' atau keluar dari dasar tanah, sedangkan Oinan adalah 'air', atau air yang keluar dari tanah atau sama dengan mata air.

 

 

 

“Dulu pernah air ini disedot oleh salah satu pengelola sagu di sini, siang dan malam tapi airnya tidak pernah habis. Pernah juga kami bersihkan dan menyemen pinggir sumur ini biar pasir tidak terkikis, saat di bersihkan malah tambah kotor, jadi dibiarkan saja saat ini sampai berlumut namun airnya tetap bening,” tuturnya.

 

Saat libur biasanya warga dari pusat desa datang mengunjungi daerah tersebut, bahkan dari kecamatan tetangga juga datang ke lokasi tersebut untuk berwisata saja sambil mandi-mandi di laut, setelah mandi laut langsung mandi di sumur itu. “Sampai saat ini tidak ada dipungut retribusi,” ujarnya.

 

 

 

Linus menambahkan sudah banyak parah ahli meneliti sumur itu tapi belum tahu dari mana sumber air ini apakah dari bukit atau laut, pasalnya bagian belakang kampung itu juga rawa-rawa jadi tidak tahu dari mana sumber air.

 

“Sampai sekarang belum ada laporan para ilmuwan soal dari mana asal air ini,” terangnya.

 

Sebelah selatan daerah itu ada tanjungnya yang dipenuhi hutan bakau yang rimbun. Jadi meskipun cuaca panas, karena menyusup di sela-sela tidak akan membuat pengunjung kepanasan. Pohon-pohon bakau terlihat lurus seperti prajurit berdiri melihat yang menyambut yang datang ke tempat tersebut. Sungai kecil berliku dan aroma alami akar bakau menambah suasana damai, burung-burung bakau berkicau mengisi keheningan.

 

(tam)

Source : Okezone.com