Ratna Dewi: Mendorong Pemenuhan Hak Anak di LPKA

• Friday, 29 Mar 2019 - 19:16 WIB

“Hati saya langsung tergerak melihat mereka. Tidak bisa pergi bersekolah, bermain di luar sel, atau melakukan hal lain yang sewajarnya dilakukan anak-anak.” 

“Saya diajak oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengunjungi [Lembaga Pembinaan Khusus Anak] LPKA. Di sana, saya tercengang dan sungguh kaget,” ujar Ratna yang tidak menyangka bertemu dengan 80 anak yang kondisinya jauh berbeda dengan putra-putrinya di rumah. 

Sembilan tahun sudah Ratna Dewi menjabat sebagai Kepala Bidang Perlindungan Anak Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Bengkulu. Namun baru dua tahun belakangan Ratna aktif dalam penanganan anak yang berada di LPKA dengan berbagai capaian dan perubahan yang diwujudkan. 
Sejak kunjungan pertamanya tersebut, ia mulai berupaya melakukan sesuatu bagi anak-anak di LPKA.

“Anak-anak ini kan rutinitasnya hanya makan, tidur, seperti itu, jadi saya berniat membuatkan aktivitas untuk mereka,” tutur Ratna. 

Banyak LPKA di kota lain dalam kondisi yang tidak baik. Kebanyakan, anak-anak berada bersama orang dewasa. Hal tersebut menciptakan kondisi yang semakin riskan bagi anak-anak. “Jika digabung, anak-anak bisa diajarkan hal-hal yang buruk,” ujar Ratna.

Di Kota Bengkulu sendiri, LPKA hanya berbeda blok dengan penjara untuk orang dewasa. Namun kepengurusan struktural berbeda sehingga pembinaan terhadap anak-anak tidak terbagi dan lebih fokus.

Ratna mulai bergerak merealisasikan inisiatifnya dengan membentuk Satuan Tugas (Satgar). Bersama sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lainnya seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, dan Dinas Perpustakaan dan Arsip, ia merencanakan kunjungan rutin ke LPKA. “Mereka inisiatif sendiri memberikan sumbangan ide, misalnya Diknas berinisiatif untuk mengadakan les rutin demi kejar Paket A, B, dan C,” ujar Ratna.

Dinas Perpustakaan dan Arsip berinisiatif membawa mobil perpustakaan keliling setiap bulan ke LPKA sehingga anak-anak dapat membaca buku-buku yang mereka suka. 

Tidak cukup itu, Ratna juga terus mengusahakan agar anak-anak dapat mengakses fasilitas kesehatan. Sampai saat ini hanya tersedia Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) terdekat. Ratna berusaha agar Dinas Kesehatan menyediakan tenaga kesehatan untuk anak-anak di LPKA. 

Forum Anak juga dibentuk. Forum anak memiliki program yang terintegrasi dengan program-programnya. Forum Anak Kota Bengkulu ini banyak bergerak di dalam LPKA untuk menjalin hubungan dan menciptakan suasana kondusif. “Forum Anak ini juga sudah ditetapkan dengan dikeluarkannya Surat Keputusa dengan program-programnya yang rutin,” tutur Ratna.

Berbagai kegiatan diadakan di LPKA, mulai dari bermain sepak bola bersama, forum berbagi, kegiatan kesenian, dan banyak lainnya. 

Saat ini terdapat 84 anak-anak yang berada di LPKA Kota Bengkulu. Ratna bercerita bahwa kebanyakan anak-anak itu tersandung kasus pencurian dan sedikit sekali yang karena perkosaan atau pembunuhan. Itu pun karena pengaruh faktor ekonomi dan pendidikan di lingkungan mereka. 

Bagi Ratna, semestinya anak-anak ini tidak perlu langsung masuk divonis dan menjalani pidana. “Kan ada keadilan restoratif, seharusnya anak-anak bisa dibina di Dinas Sosial. Kalau di luar negeri kan begitu, mereka dapat hukuman kerja sosial sekian jam dalam seminggu selama masa hukuman, lalu dibebaskan dengan wajib lapor,” jelas Ratna.  Keadilan restoratif adalah pengaturan hukum pidana dalam perspektif dan pencapaian keadilan kepada perbaikan maupun pemulihan keadaan setelah peristiwa dan proses peradilan pidana. Sayangnya, Dinas Sosial belum mampu mengakomodir hal ini lebih jauh, selain karena fasilitas juga karena sistem yang belum mendukung.

Ia terus berharap bahwa anak-anak nantinya dapat kembali ke masyarakat dan memiliki kehidupan yang lebih baik. Ratna juga berharap masyarakat tidak lagi memelihara stigma terhadap anak-anak yang telah keluar dari LPKA karena anak-anak seharusnya memiliki masa depan dan dapat memperbaiki kualitas hidup mereka. 

--- 
Ratna Dewi merupakan salah satu Pandu Inklusi Nusantara (PINTAR), tokoh inspiratif yang mendedikasikan tenaga dan waktunya untuk mewujudkan inklusi sosial. Ratna  merupakan salah satu kader Program Peduli, sebuah program yang bertujuan meningkatkan inklusi sosial bagi enam kelompok paling terpinggirkan di Indonesia, yang kurang mendapatkan akses terhadap layanan pemerintah dan program perlindungan sosial. Program Peduli dikelola oleh The Asia Foundation dengan dukungan dari Pemerintah Australia di Indonesia. Salah satu kelompok marginal penerima manfaat Program Peduli adalah anak dan remaja rentan, termasuk anak yang menjalani pidana penjara (AMPP). Program Peduli subpilar AMPP diimplementasikan oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Informasi lebih lanjut mengenai Program Peduli dapat diakses di www.programpeduli.org. Informasi lebih lanjut mengenai PKBI dapat diakses di http://pkbi.or.id

(*)