Paska Pemilu Pariwisata Thailand Tetap Berjaya
Senin, 08 April 2019
Paska Pemilu Pariwisata Thailand Tetap Berjaya

Bangkok - Paska pemilu perdana Thailand paska kudeta militer pada medio 2014, kehidupan di ibukota Thailand, Bangkok dan sekitarnya masih aman terkendali, meski kubu oposisi yang dikomandoi partai Pheu Thai terus menggalang kekuatan menggugat hasil pemilu.

 

Sektor pariwisata yang selama ini menjadi andalan Thailand bagi pertumbuhan ekonomi, dijaga betul oleh pemerintahan junta militer yang dipimpin Jenderal Prayuth Chan-Ocha sebagai Perdana Menteri sementara sejak 4 tahun terakhir.

 

Destinasi wisata andalan seperti Chak Tu Chak market, mall MBK, Grand Palace, Wat Arun, Asiatique, Chaopraya River – 3D Art In Paradise – Nong Noach Village – Laser Budha – Silver Lake maupun kota-kota pariwisata andalan lain seperti Pattaya maupun Ayutthaya berdenyut normal. Bahkan kunjungan turis mancanegara terus mengalir menikmati keindahan alam maupun kuliner di kota bangkok sekitarnya.

 

"Kami (rakyat) masih menunggu hasil penghitungan suara oleh KPU hingga awal Mei, biarlah itu urusan pemerintah. Kami yakin jika ada sesuatu raja (Maha Vajiralongkorn) akan mengambil keputusan bijaksana" kata Pracharn Makarnchat, driver salah satu agen travel di kota Bangkok, Senin(8/4).

 

Sebelumnya, Partai Phalang Pracharat, yang mengusung Jenderal Prayuth Chan-ocha sebagai Perdana Menteri, meraih lebih dari 7,3 juta suara dari 91 persen kertas suara yang dihitung hingga Minggu (24/03/2019) malam WIB, dalam pemilihan umum pertama sejak kudeta militer tahun 2014.

 

Perolehan suara tersebut, menurut Komisi Pemilihan Thailand, sekitar setengah juta lebih besar dibandingkan perolehan suara Partai Pheu Thai (Untuk Rakyat Thailand) yang mendukung mantan Perdana Menteri Thaksin Shinawatra.

 

Unggulnya partai pro militer di luar dugaan banyak pihak termasuk dunia internasional, di mana awalnya diduga partai tersebut akan berada di posisi ketiga.

 

Salah satu wisatawan asal medan, Putra (25 tahun) yang biasa berkunjung ke Bangkok mengatakan tidak terlalu khawatir plesiran, mengingat Thailand terlalu sering terjadi gejolak politik dan anehnya tidak berpengaruh terhadap pariwisatanya.

 

"Ini yang menarik, bahkan empat tahun lalu saya menyaksikan sendiri demontrasi massa kaus merah (pro Thaksin) dan kaus kuning (pro militer) di jalan jalan utama kota Bangkok, meski sempat takut tapi malah jadi atraksi "wisata baru" bagi turis untuk melihat langsung, karena lokasi demo yang dilokalisir" kata Putra.

 

Sejarah Thailand juga tak bisa dilepaskan dari kudeta militer. Sejak tahun 1932, sedikitnya telah terjadi 12 kali pengambilalihan kekuasaan oleh para pemilik senjata itu. Pakar Asia Tenggara dari Chiang Mai University, Paul Chamber, mengatakan sedikitnya ada 30 upaya kudeta sejak 1912. Sebagian ada yang berhasil dan ada juga yang gagal. Yang jelas, proses intervensi militer dalam politik di Thailand, nyaris tidak pernah bisa dilepaskan, hingga kini.

 

SAWASDEE in THAILAND

 

Penulis : Arief Sinaga