Dukung World Allergy Week 2019 melalui Kampanye #BundaTanggapAlergi dengan Gerakan 3K

• Kamis, 11 Apr 2019 - 00:52 WIB

Jakarta - Angka kejadian dan risiko alergi pada anak, terutama terhadap makanan, masih terus ada di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pemahaman masyarakat Kenali, Konsultasikan, dan Kendalikan.

 

Data World Allergy Organization (WAO) dalam The WAO White Book on Allergy: Update 2013 menunjukkan bahwa angka prevalensi alergi mencapai 10-40 persen dari total populasi dunia, dimana 7,5% diantaranya adalah anak-anak yang memiliki alergi susu sapi. Padahal, anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang sangat membutuhkan protein sebagai salah satu komponen nutrisi seimbang untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi dan kualitas kesehatannya di masa depan.

 

Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(k), M.Kes. Konsultan Alergi dan Imunologi Anak mengatakan, Alergi susu sapi diakibatkan oleh respon sistem imun yang tidak normal terhadap protein susu sapi (whey dan kasein). Hal ini perlu menjadi perhatian karena susu adalah salah satu sumber protein yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal. "Disini, peran orang tua khususnya Ibu sangat penting untuk mencegah dan menangani kondisi alergi, termasuk pemberian nutrisi yang tepat," katanya

 

Kegiatan edukasi untuk memberikan pemahaman dalam mengenali dan menangani alergi perlu dilakukan kepada orang tua. Untuk itu, Sarihusada melalui brand SGM Eksplor Soya yang memiliki misi mendukung optimalisasi tumbuh kembang anak Indonesia, khususnya yang memiliki alergi terhadap susu sapi, mengajak para Ibu untuk menjadi #BundaTanggapAlergi dengan Gerakan 3K untuk mendukung anak yang memiliki alergi susu sapi agar tetap bisa tumbuh sehat dan menjadi Anak Generasi Maju.

 

Meutia Athaya, Brand Manager Allergy Care Sarihusada mengatakan, Kampanye #BundaTanggapAlergi menjadi ajakan bagi para Bunda untuk aktif mengenali sejak dini gejala dan cara mengatasi risiko alergi pada si Kecil dengan melakukan gerakan 3K, yaitu: Kenali risiko dan gejalanya, Konsultasikan ke dokter agar Si Kecil mendapat penanganan yang tepat, dan Kendalikan penyebab alergi dengan nutrisi yang tepat agar Si Kecil bisa tetap tumbuh dengan optimal. "Selain itu, kami juga menyediakan kanal informasi agar Bunda bisa saling berbagi pengalaman, tes risiko & gejala alergi, serta berkonsultasi dengan dokter spesialis alergi melalui www.alergianak.com. Kami percaya seluruh anak Indonesia, dengan dan tanpa alergi, bisa berkembang dan bertumbuh menjadi anak generasi maju, tentunya dengan edukasi serta solusi nutrisi yang tepat," ujarnya,

 

Lebih lanjut mengenai edukasi, Athaya menjelaskan bahwa pihaknya juga mengadakan beberapa aktivasi yang mudah diakses agar masyarakat lebih teredukasi mengenai alergi dan cara penanganan yang tepat. “Pertama, kami akan meluncurkan Facebook Page Soya untuk Generasi Maju dimana para Bunda bisa berbagi informasi mengenai alergi si Kecil, memperoleh informasi mengenai solusi nutrisi yang tepat bagi anak yang terkena alergi protein susu sapi. Kedua, melalui website www.alergianak.com masyarakat bisa mengenali faktor risiko alergi anak dari riwayat keluarga, gejala awal alergi, cara mengatasi alergi, serta berdiskusi langsung dengan pakar terkait alergi pada anak, serta MOBI health yang akan program edukasi yang akan menjangkau para Bunda di pelosok pulau Jawa serta Sumatera.”

 

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko alergi pada si Kecil, antara lain riwayat alergi pada keluarga, kelahiran caesar, dan polusi termasuk polusi udara dan asap rokok. Gejala umum yang sering muncul ketika alergi adalah gangguan pada kulit seperti muncul bintik- bintik merah, gangguan saluran pernapasan seperti asma, dan gangguan saluran pencernaan. Alergi pada si Kecil yang tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif, seperti obesitas, hipertensi, dan sakit jantung. Selain itu, si Kecil dengan alergi berisiko mengalami keterlambatan pertumbuhan.

 

“Apabila si Kecil sudah terindikasi memiliki alergi susu sapi, ia tetap membutuhkan alternatif sumber protein untuk pemenuhan nutrisinya. Si Kecil dengan risiko alergi masih dapat mengonsumsi alternatif susu sapi, seperti susu pertumbuhan yang mengandung formulasi khusus terhidrolisis ekstensif, asam amino, susu dengan bahan dasar kedelai/soya," tambah Prof. Budi.

 

Selain berkomitmen menyediakan edukasi nutrisi bagi para Ibu dan orang tua, Sarihusada menghadirkan salah satu solusi nutrisi bagi anak yang memiliki alergi terhadap susu sapi. Diharapkan, dengan edukasi yang tepat dan tetap terpenuhinya kebutuhan gizi seimbang, Si Kecil dengan alergi susu sapi tetap bisa tumbuh sehat dan berkembang menjadi pribadi yang tumbuh tinggi dan kuat, percaya diri, cerdas dan kreatif, mandiri, dan supel.

 

Sarihusada berkomitmen untuk mendukung pemenuhan nutrisi si Kecil, termasuk mereka yang memiliki alergi susu sapi. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2016, Sarihusada dengan Kampanye #BundaTanggapAlergi telah berhasil mengedukasi lebih dari 13 juta Ibu melalui website alergianak.com, seminar awam mengenai alergi di fasilitas kesehatan, serta menayangkan iklan layanan masyarakat. Selain itu, Sarihusada juga rutin melakukan edukasi tentang alergi ke para bidan melalui seminar, aktivitas Mini MOBI di lebih dari 10 ribu titik di Indonesia, serta edukasi melalui platform digital.

 

"Kami berharap melalui kampanye #BundaTanggapAlergi dengan Gerakan 3K, para Bunda semakin memahami mengenai alergi dan alergi susu sapi pada si Kecil, apa penyebab dan bagaimana menanganinya, dan tetap bisa mendukung kebutuhan pertumbuhan si Kecil melalui nutrisi yang tepat," tutup Athaya. (ANP)