Pengacara Bowo Sidik Bantah Kliennya Sebut Menteri Enggar

• Wednesday, 24 Apr 2019 - 10:49 WIB

JAKARTA - Kuasa hukum Bowo Sidik Pangarso, anggota DPR yang menjadi tersangka kasus dugaan korupsi di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini memberikan keterangan berbeda soal nama-nama pihak yang sebelumnya disebut terkait dana yang disimpan bersangkutan. Saut Edward Rajaguguk, pengacara  Bowo, mengaku belum mengetahui keterangan kliennya perihal penyebutan nama Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita terkait dengan dana yang disimpan Bowo.‎

 

‎Saut membantah kliennya menyebut nama Menteri Enggartiasto pada pemeriksaan di KPK, sebagaimana diberitakan di majalah mingguan Tempo. Pengacara ini mengaku Bowo baru menyebutkan ada menteri yang memberinya dana. Namun, mengenai nama, Bowo sendiri belum mengungkap secara detil.

 

‎‎"Saya belum tahu kalau klien kami apakah dapat uang Rp2 Milliar dari Mendag Enggartiasto. Pak Bowo hanya bilang dari salah seorang menteri, tapi dia tidak pernah sebutkan nama‎," kata Saut kepada wartawan, Selasa (23/4/2019).‎

 

KPK sendiri menyatakan masih mempelajari informasi dan keterangan yang disampaikan tersangka Bowo Sidik. Soal nama menteri, KPK tak mengulasnya. Pada pokok perkaranya, Bowo dijerat hukum lantaran diduga menerima suap atas jasa angkut pupuk dan menerima gratifikasi.

 

‎Juru Bicara KPK, Febri Diansyah menanggapi santai info yang disampaikan media mengenai Mendag dalam kasus ini. ‎Menurutnya, penyidik akan melihat kesesuaian pada sejumlah keterangan yang disampaikan, baik oleh saksi ataupun tersangka.

 

‎"Jika keterangan atau pun informasi disampaikan dalam sebuah pemeriksaan dan dituangkan dalam berita acara, tentu kami pelajari ‎informasi tersebut. Apakah berdiri sendiri ataukah ada kesesuaian dengan bukti-bukti lain" kata Febri.‎

 

Terhadap pernyataan Bowo yang menjadi polemik, pakar hukum pidana Faisal Santiago menyarankan kepada penyidik KPK untuk membuka rekening Bowo Sidik. Menurut dia, tujuannya untuk mengetahui dari mana saja aliran dana yang diterima oleh Bowo Sidik. Sekaligus ini untuk menegaskan fakta hukum sebenarnya. Hal sama diutarakan pakar hukum pidana, Chairul Huda. Sehingga, siapa pun yang memberikan uang kepada Bowo Sidik bisa terungkap.

 

“Saya pikir untuk kepentingan penyidikan membuka rekening tersangka Bowo boleh saja supaya dapat lebih jelas aliran dananya. Dan dengan itu apakah ada aliran dana dari menteri dan Ketua Golkar, atau siapapun bisa terlihat,” tandasnya.

 

Pembukaan aliran dana ke Bowo Sidik juga diserukan oleh kubu Capres Prabowo Subianto. Apalagi, disebutkan bahwa Bowo menyiapkan aliran dana Rp 8 miliar  ke dalam 400 ribu amplop dan disinyalir untuk serangan fajar pemilu.

 

“Harapan kita buka seluas-luasnya dan terang benderang. Siapa pun yang terlibat ya harus mempertanggungjawabkan, harus dihukum kalau terbukti terlibat,” kata Juru Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Moh Nizar Zahro.

 

Seperti diketahui, KPK mentersangkakan anggota Komisi VI DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso sebagai tersangka kasus dugaan suap bidang pelayaran atau sewa kapal. Bersama Bowo, Komisi antirasuah ini juga menjerat dua orang lainnya; Marketing Manager PT. Humpuss Transportasi Kimia (PT. HTK) Asty Winasti, dan pegawai PT. Inersia bernama Indung.

 

KPK mensinyalir, Bowo Sidik meminta fee kepada PT Humpuss Transportasi Kimia atas biaya angkut yang diterima sejumlah USD 2 per metric ton. Penerimaan suap ini sudah diperoleh Bowo sebanyak tujuh kali dari PT Humpuss. Dari OTT ini, penyidik menyita uang Rp 8 miliar yang diduga diterima Bowo dari PT Humpuss dan pihak lain. (ars)