Peringati Hari Pendidikan Nasional, FOI-Y Waste Kerja Bareng Atasi Kelaparan di Sekolah

• Friday, 3 May 2019 - 21:52 WIB

Jakarta- Bertepatan dengan hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019, Foodbank of Indonesia (FOI) dan Y Waste Indonesia menandatangani kesepakatan kerja bersama (MOU) untuk membantu penyediaan pangan untuk anak sekolah. Observasi yang dilakukan FOI di wilayah Jakarta dan Banten, setidaknya mengungkap fakta sekitar 40-50% anak-anak pergi ke sekolah dengan perut lapar sehingga mengganggu konsentrasi belajar serta proses belajar mengajar. Kerjasama ini bertujuan untuk menggalang makanan dari hotel, restoran dan kafe melalui tehnologi berbasis aplikasi yang segera akan diluncurkan tahun ini. Aplikasi ini akan menjadi aplikasi donor makanan yang pertama di Indonesia dan diharapkan dapat menjadi solusi mengatasi persoalan kelaparan di sekolah.

Bapak Pendidikan Nasional Indonesia, KI Hajar Dewantara pernah menjabarkan bahwa pendidikan merupakan tuntutan hidup dalam kehidupan anak-anak. Artinya adalah menuntun semua kodrat pada kekuatan anak-anak tersebut sehingga anak-anak dapat mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. Hal tersebut sangat mengena dan terkait langsung dengan tujuan pendidikan nasional kita sesuai UU no.20 Tahun  2003, yaitu mengembangkan manusia Indonesia dan mencerdaskan kehidupan bangsa; Manusia yang mempunyai takwa dan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mempunyai budi pekerti yang luhur, mandiri, kepribadian yang mantap, kesehatan rohani, dan jasmani, keterampilan dan pengetahuan, dan terakhir mempunyai rasa tanggung jawab untuk berbangsa dan bermasyarakat.

Tujuan mulia ini sudah menjadi tangungjawab kita bersama sebagai orang dewasa. Tetapi perlu diakui bahwa cita-cita Ki Hajar Dewantara  masih menemui banyak tantangan. Salah satu yang paling dekat adalah fakta bahwa kita masih berhadapan dengan kondisi anak-anak yang pergi ke sekolah dalam kondisi kelaparan di berbagai daerah di Indonesia.

Anak-anak di berbagai daerah di Indonesia sering pergi sekolah dalam kondisi lapar. Seperti yang diungkap dalam observasi yang dilakukan FOI, angka kelaparan di sekolah tingkat PAUD di wilayah Jakarta dan Banten mencapai 40-50%. Perut yang lapar dapat mengakibatkan menurunnya konsentrasi siswa saat belajar, sulit menerima pelajaran dengan baik, dan menimbulkan rasa malas, lemas, lesu, lebih emosional, gelisah, dan anemia. Hal ini tentu mengganggu proses belajar mengajar di sekolah.

Y waste dan Foodbank of Indonesia (FOI) memahami tantangan kebutuhan anak-anak yang mengalami kekurangan ini. Perkembangan teknologi digital dan program pangan FOI Mentari Bangsaku mendorong terjalinnya kolaborasi untuk mengelola makanan yang berlebih untuk disebarkan pada anak-anak yang membutuhkan.

Sungguh ironis bahwa dengan kejadian kelaparan di berbagai tempat, data yang dikutip dari The Global FoodBanking Network(GFN) juga menunjukkan ada 1,3 juta ton makanan jadi terbuang pecuma setiap tahunnya. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu dari di lima besar negara didunia dengan jumlah sampah makanan yang terbuang percuma. Potensi inilah yang mendasari kerjasama FOI & Y Waste yaitu dengan menghubungkan pihak yang memiliki kelebihan pangan dan pihak yang membutuhkan pangan. Kolaborasi Y waste dan FOI bergerak untuk menjadikan makanan berlebih sebagai bahan pangan yang bermanfaat bagi anak-anak yang kekurangan pangan. Makanan berlebihan dari berbagai sumber seperti hotel, restoran dan kafe ini bisa lebih mudah disalurkan dengan peluncuran aplikasi Y waste Indonesia.

Ian Price, founder Y Waste Australia mengatakan bahwa aplikasi ini telah berjalan dengan baik di Australia dan berharap dapat menjadi aplikasi solusi di Indonesia. Pemilihan FOI sebagai mitra Y Waste tak lepas dari pengalaman FOI sebagai bank makanan yang telah beroperasi lebih dari 4 tahun dan memiliki lebih dari 500 relawan di 17 titik wilayah operasi.  "Aplikasi ini diluncurkan dengan harapan bisa mengurangi makanan terbuang hingga 40% dan dapat membantu dunia usaha bidang pangan untuk lebih bijak mengelola left over food (makanan berlebih yang berpotensi terbuang) untuk membantu banyak orang” jelas Ian.

Pendiri Foodbank of Indonesia, M Hendro Utomo mengatakan, upaya untuk meraih keadilan pangan bagi pihak-pihak yang membutuhkan, terutama pada anak-anak   memerlukan kerjasama berbagai pihak. Baik dari pemerintah, lembaga masyarakat,

dunia usaha, media, dan akademisi. FOI tentunya menyambut baik kerjasama berbasis tehnologi aplikasi yang memungkinkan semua pihak dapat berperan mengatasi persoalan akses dan keadilan pangan. “Aplikasi Y Waste ini diharapkan dapat menjadi solusi alternatif bagi upaya kita membantu masyarakat mendapatkan akses pangan. Aplikasi Y Waste berperan penting mempercepat proses pencarian donasi pangan. Sebagai langkah awal akan membantu FOI dalam program Mentari Bangsaku yang bertujuan mengurangi angka kelaparan di sekolah, namun dapat diperluas untuk program-program lain seperti Dapur Pangan dan RED (Response to Emergancy and Disaster) FOI” Hendro menjelaskan.

Selain dapat lebih cepat mendapatkan donor makanan, menurut Esti Puji Lestari, President Director Y Waste Indonesia aplikasi ini memudahkan pendataan makanan yang akan disumbangkan, mendata jadwal pengambilan donasi makanan, dan mempermudah FOI untuk menyalurkan makanan tersebut ke berbagai titik operasi.

Upaya untuk meraih keadilan pangan bagi anak-anak yang kelaparan seperti ini memerlukan kerjasama antara berbagai pihak. Baik dari pemerintah, lembaga masyarakat, dunia usaha, media, dan akademisi. Kolaborasi Y waste dan FOI ini merupakan salah satu bentuk nyata mendorong kontribusi dunia usaha untuk turut serta terhadap gerakan membuka akses pangan yang semakin adil. Dan Aplikasi Y waste Indonesia merupakan salah satu solusi praktis untuk meraih tujuan itu. FOI dan Y waste akan terus menyempurnakan kolaborasi ini untuk  meraih keadilan pangan bagi semakin banyak masyarakat Indonesia. (ANP)