Penyebab Beras Busuk di Gudang Bulog Perlu Diusut

• Friday, 24 May 2019 - 16:02 WIB

JAKARTA - Problem beras busuk dalam jumlah ribuan ton di gudang-gudang Bulog belakangan mesti disikapi dengan tegas. Busuknya stok beras dinilai sebagai suatu indikasi adanya penyelewengan. Kebusukan dinilai dapat dicegah apabila penanganan beras di gudang Bulog tepat sesuai skema first in first out (FIFO) alias beras yang lebih dulu masuk gudang, lebih dulu juga keluar gudang.

 

Audit perlu segera dilakukan guna menelusuri bagaimana bisa beras itu dapat mengalami kondisi tak layak tersebut.

 

“Kepala gudangnya harus diperiksa khusus. Atasannya juga harus diperiksa. Jadi berantai itu. Bisa saja kelemahannya itu di pengawasan internal, yang mulai dari bawah sampai ke SPI, Satuan Pengawas Internal,” ujar Direktur Utama Perum Bulog periode 2009-2014, Sutarto Alimoeso, Kamis (23/5).

 

Sutarto mengemukakan, sebenarnya selama ini Bulog sudah memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang jelas terkait stok beras. Salah satunya diwajibkan skema FIFO. Data beras dari tiap gudang pun sebenarnya sudah bisa diakses secara online hingga ke pimpinan tertinggi. Dengan demikian, seharusnya penanganan yang tepat bisa selalu dilakukan.

 

“Bahkan tiap hari yang namanya data itu sampai ke Dirut itu ada. Online kok. Jadi tahu di gudang A ada berapa, gudang B ada berapa. Kekuatan gudang A berapa. Makanya, biasanya sebelum rusak dilakukan re-proses,” tutur pria yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) itu.

 

Ia mengakui, banyak pihak nakal di Bulog. Karena itu, kepemimpin memegang peranan sangat vital guna bisa menindak tegas penyelewengan yang terjadi. Tidak terkecuali soal kesalahan  penanganan beras hingga membuat stok beras membusuk.

 

Sutarto mencontohkan, dulu ia tidak segan memecat dan menurunkan jabatan seseorang di internal Bulog jika kedapatan melakukan penyimpangan. Total selama 5 tahun menjabat ia telah memecat 84 orang dan menurunkan lebih dari 70 orang dari jabatannya karena menemukan bukti penyelewengan. Diharapkan ketegasan yang sama dapat dilakukan saat ini dengan kondisi banyak ditemukannya beras busuk.

 

“Tindakan tegas harus, bila perlu yang bersangkutan diberhentikan dan dimasukkan ke pidana, kemudian dihukum,” ujarnya. 

 

Ia menyebutkan, guna mencegah beras busuk perlu dilakukan reproses untuk beras-beras yang sudah berusia 6 bulan. Apalagi untuk beras lokal yang dibeli saat musim hujan, umurnya lebih cepat hanya sekitar 3 bulan agar tidak busuk. Pasalnya, beras produksi kala musim hujan tidak mampu mengering sempurna karena hanya dikeringkan di lantai jemur.

 

“Idealnya itu kurang dari 3 bulan kalau untuk produksi musim penghujan. Kalau produksi musim kemarin, itu bisa sampai 6 bulan nggak apa-apa,” jelas Sutarto. 

 

Berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 38 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), disebutkan pada Pasal 3 bahwa pelepasan CBP harus dilakukan apabila telah melampaui batas waktu simpan 4 bulan. Jika lebih dari 4 bulan, beras berpotensi mengalami penurunan mutu.

 

Sutarto menyadari saat ini Bulog memang mengalami kesulitan penyaluran beras, karena tidak tersedianya gerai Bulog dan tidak digunakannya beras Bulog dalam bantuan pangan non tunai (BPNT). Karena itu ia menyarankan, Bulog mesti lebih rajin melakukan operasi pasar.

 

“Harus lebih banyak operasi pasar. Begitu harga tinggi, harus langsung operasi pasar,” ujar Sutarto.

 

Seperti diketahui, baru-baru ini ditemukan ada beras turun mutu atau busuk sebanyak 6.800 ton di Bulog Divre Sumsel dan Babel. Temuan ini diduga akibat adanya ketidakpatuhan terhadap aturan dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang berlaku.

 

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (Chips) Assyifa Szami Ilman menyebutkan, masih ditemukannya kasus ini karena permasalahan gudang penyimpanan Bulog tak pernah dianggap sebagai masalah serius.

 

“Menurut saya kalau gudang Bulog ya, itu semacam hiasan kue gitu. Jadi it’s a problem but its not the biggest problem,” ujar Ilman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (23/5).

 

Ia menambahkan faktor lain yang juga membuat kualitas beras dari Bulog rendah adalah karena kualitas gabah yang Bulog beli juga rendah.

 

Selain itu, ia akui pula bahwa Bulog saat ini semakin kesulitan menyalurkan beras. Lantaran beras Bulog untuk program beras sejahtera (rastra) semakin tidak dilirik oleh e-warung sebagai kepanjangan tangan program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

 

 “Tapi menyatakan bahwa BPNT salah juga enggak. Karena ini simply karena memang Bulog nya belum siap bersaing dengan swasta untuk menyalurkan beras ke penerima-penerima BPNT ini,” tandasnya. (ars)