Pancasila Tangkal Radikalisme di Indonesia

• Selasa, 28 Mei 2019 - 23:21 WIB

JAKARTA - Masyarakat dinilai perlu mempunyai semangat nasionalisme yang tinggi. Masyarakat sepatutnya bangga menjadi bangsa Indonesia yang berlandaskan ideologi Pancasila. Dengan begitu, persatuan dan kesatuan senantiasa kokoh.

Kasubdit Kontra Propaganda, Direktorat Pencegahan, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Sujatmiko mengatakan Pancasila menjadi alat yang ampuh untuk mengatasi radikalisme dan terorisme di Indonesia.

“Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, bila dilaksanakan dengan benar, akan mendorong masyarakat saling menghargai sesama,” katanya saat acara Forum Merdeka Barat (FMB) 9 di Kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jl Medan Merdeka Barat 9, Jakarta Pusat, Selasa (28/5).

Menurutnya, paham radikalisme dan terorisme di Indonesia mengalami pasang surut, mengikuti suasana. Ada saat-saat kritis. Salah satunya saat tensi politik yang meningkat.

“Mereka, para penganut paham radikalisme pada dasarnya tidak menghargai ajaran leluhur. Ini jelas bertentangan dengan Pancasila,” ungkapnya seperti dilaporkan Reporter Dodi Handoko.

Dijelaskannya, untuk mengatasi radikalisme dan terorisme, BNPT menerapkan pendekatan secara lunak, dengan mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersinergi.

“BNPT bersinergi dengan kementerian dan lembaga untuk bersama mengatasi radikalisme dan terorisme. BNPT tidak bisa sendirian, jadi kita harus bersama-sama untuk memerangi paham terorisme,” paparnya.

“Kami memiliki sejumlah harapan kepada masyarakat. Di antaranya agar masyarakat mempunyai rasa ikut memiliki negeri ini. Mempertebal jiwa nasionalisme serta bangga menjadi bangsa Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945,” kata Sekretaris Deputi IV Kesatuan Bangsa Kementerian Koordinator (Kemko) Politik, Hukum, dan Keamanan (Polhukam), Brigjen (Pol) Mamboying.

Menurut Mamboying, pemerintah senantiasa mengharapkan masyarakat memahami dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. “Masyarakat diharapkan juga bisa membangun persaudaraan, toleransi, kerukunan, dan harmoni di bumi pertiwi ini, sesuai semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Mamboying.

Mamboying menyatakan, masyarakat pun harus menyadari sekaligus menolak paham anti-Pancasila. Sebab, Pancasila merupakan pondasi kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat. “Pancasila sudah teruji. Pancasila, jangankan diubah, ditawar saja tidak bisa,” tegas Mamboying.

Hal senada disampaikan Kasubdit Kontra Propaganda Direktorat Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kolonel Sujatmiko. Menurut Sujatmiko, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, jika dilaksanakan dengan benar, maka akan mendorong masyarakat saling menghargai.

Sujatmiko juga mengungkap, paham radikalisme dan aksis terorisme di Tanah Air sangat bertentangan dengan Pancasila. “Para penganut paham radikalisme pada dasarnya tidak menghargai ajaran leluhur. Ini jelas bertentangan dengan Pancasila. BNPT bersinergi dengan kementerian dan lembaga untuk bersama mengatasi radikalisme dan terorisme,” kata Sujatmiko.

Sujatmiko menambahkan, BNPT tidak bisa bekerja sendirian dalam rangka mencegah dan memerangi paham radikal. “Kami manfaatkan semua saluran yang ada. Kami juga mengajak seluruh lapisan masyarakat, selain kementerian dan lembaga pemerintah,” ungkap Sujatmiko.

Sujatmiko menjelaskan, BNPT menjalankan program deradikalisasi serta kontra radikalisme. Untuk deradikalisasi, dilakukan dengan cara pencerahan bagi pihak yang terpapar. Sementara kontra radikalisme, dilaksanakan lewat kegiatan kreatif.

Misalnya seperti membentuk duta damai di dunia maya. “BNPT juga mengajak youtuber untuk bersama membuat konten kreatif. Hasilnya luar biasa. Banyak konten-konten kreatif untuk mengajak masyarakat menjauhi aksi radikalisme,” ucap Sujatmiko. (ANP)