Godzilla II: King of the Monsters

• Rabu, 29 Mei 2019 - 17:11 WIB

Genre: Action, petualangan

Sutradara: Michael Dougherty (“Trick ‘R Treat,” “Krampus”).

Pemeran: Kyle Chandler (“The Wolf of Wall Street,” “Argo”), Vera Farmiga (“Up in the Air,” “The Conjuring” films), Millie Bobby Brown (TV’s “Stranger Things”), Ken Watanabe (“The Last Samurai,” “Inception,” “Godzilla”), Zhang Ziyi (“Memoirs of a Geisha,” “Crouching Tiger, Hidden Dragon”).

Distributor: Warner Bros. Pictures

Durasi: 2 jam

Mulai tayang di bioskop Indonesia: 29 Mei 2019

Setelah Perang Dunia II, The Toho Co., Ltd. Jepang membuat tim legenda pembuatan film Jepang, untuk menciptakan monster jenis baru. Godzilla dihidupkan melalui baju rakasa lateks dan bambu, memporak-porandakan model mini kota Tokyo dengan skala 1/25, yang direkayasa secara cermat. 

65 tahun kemudian, setelah berhasil meluncurkan Monsterverse pertama lewat "Godzilla" pada tahun 2014, disutradarai oleh Gareth Edwards, dan "Kong: Skull Island" karya Jordan Vogt-Roberts tiga tahun kemudian, dengan teknologi terkini, saatnya kawanan Godzilla tampil dalam visual memukau dan audio menggelegar.

Godzilla II: King of the Monsters akan memuaskan penontonnya. Para fans berat maupun khalayak awam bakal dimanjakan dengan rangkaian adegan munculnya Godzilla, bersama Titan sejenisnya. 

Kita dapat bertemu monster raksasa dari zaman purbakala, yang dipercaya sudah lama 'tertidur' dalam perut bumi, yaitu Mothra, Rodan, dan musuh berkepala tiga Ghidorah.

Godzilla bertarung meyakinkan melawan Ghidorah, sementara Mothra dan Rodan juga siap mengacaukan kedamaian.

Eksistensi manusia kembali terancam. Pemicunya ya lagi-lagi penghuni Bumi. Kelebihan penduduk, bencana alam, wabah penyakit, menjadi alasan atas munculnya berbagai Titan.

Mereka siap mengobrak-abrik kota demi kota, dalam skala yang lebih terstruktur, sistematis dan masif dari berbagai belahan dunia, hutan belantara, kutub utara, sampai gunung berapi di Meksiko.

Ceritanya berlangsung lima tahun sejak bencana di San Francisco dalam "Godzilla". Pemerintah melalui lembaga penelitian, Monarch, sudah mampu memetakan keberadaan dan kemampuan Godzilla. 

Namun, kehadiran Godzilla belum mampu menyelamatkan umat manusia, tetapi seperti biasa, masih menjadi ancaman serius dengan akibat yang fatal. Apalagi, Godzilla kini tak sendiri.

"Ini adalah film 'popcorn', tetapi cerita Godzilla dipenuhi dengan metafora. Dan meskipun tema telah berubah selama bertahun-tahun, mereka semua meninggalkan Anda dengan peringatan yang sama: bahwa jika Anda memaksa terlalu keras terhadap alam, alam akan mendorong kembali," kata sutradara Michael Dougherty.

Sejak pertama kali diperkenalkan pada tahun 1954, sampai 'rebirth' pada tahun 2014, Godzilla selalu digambarkan lebih dari sekadar monster. Sebagai penghancur, penyelamat, icon, bahkan Raja, Godzilla telah berevolusi, menemukan dirinya dalam perubahan sosial, politik, dan ekologi selama beberapa dekade terakhir. Godzilla berubah dari bencana menjadi Samurai terakhir yang tersisa. 

Menurut sutradara Dougherty, Godzilla II: King of the Monsters bagai obor besar yang harus dibawa. "Ada tekanan besar untuk melakukannya dengan benar — untuk karakter ini, untuk pencipta mereka, untuk para penggemar, dan untuk generasi baru anak-anak yang menemukan mereka untuk pertama kalinya," terang Dougherty. 

Hadir sebagai pemimpin atau Alpha bagi makhluk sejenisnya, Godzilla siap bertarung terus-menerus, dengan sesekali diceritakan tentang mitos dan latar belakang di balik keganasannya, dalam Godzilla II: King of the Monsters.

(MAR)