X-Men : Dark Phoenix, Angkat Sisi Depresif Jean Grey

• Kamis, 13 Jun 2019 - 15:57 WIB

Genre: Action, sci-fi

Sutradara: Simon Kinberg

Pemeran: James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Nicholas Hoult, Sophie Turner, Tye Sheridan

Durasi: 2 jam

Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures

Mulai tayang di bioskop Indonesia: 14 Juni 2019

 

TAHUN 1992, tim superhero X-Men telah menjadi selebritas. Anak-anak didik Prof. Charles Xavier telah diterima publik. Sebagai kaum terpinggirkan, dianggap aneh, dan terkadang 'gila', X-Men bahkan sudah menjadi andalan pemerintah Amerika Serikat.

 

Salah satunya ketika X-Men bersedia menyelamatkan tim astronot, yang terjebak di pesawat ulang-alik bermasalah. Dipimpin Raven alias Mystique bersama kekasihnya, Hank atau Beast, tim X-Men memanfaatkan X-Jet, serta kemampuan spesial mereka dalam misi penyelamatan tersebut.

 

Kerjasama para mutan: Cyclops, yang sudah menjadi pacar Jean Grey; Quicksilver, Nightcrawler, dan Storm dapat membantu antariksawan. Sementara Jean sebagai mutan terkuat dengan pembacaan pikirannya, berhasil mengatasi tantangan terbesar, ketika salah satu penyintas mendekat ke sumber kecelakaan, yaitu suar matahari.

 

Jean pun berkorban, menyerap kekuatan misterius, demi keselamatan semua yang terlibat dalam perjalanan ke luar angkasa.

 

Masalahnya, Jean harus menanggung resiko akibat pengorbanannya. Di antara bintang-bintang, Jean rupanya terkena entitas kosmik misterius, yang membuatnya makin kuat dan tak terkontrol. Dia bisa menjadi sangat marah, bahkan menyakiti orang-orang yang disayanginya. Dibayang-bayangi trauma masa lalu, Jean makin membahayakan di mata teman-temannya.

 

Di sisi lain, Jean pun ingin segera terbebas dari kekuatan tersebut. Situasinya sangat dilematis, karena ulah tak terkendali Jean menyebabkan salah satu mutan yang paling dihormati, tewas seketika. Jean menjadi musuh bersama.

 

Kubu mutan yang dipimpin Magneto, yang selama ini berselisih dengan kelompok Charles Xavier, pun menganggap hal serupa. Jean tak diterima di mana-mana. Dia merasa harus menanggung semua penderitaannya sendiri, padahal dia sangat berharap adanya jawaban atas berbagai pertanyaan, tentang kekuatannya, masa lalu, dan masa lalunya.

 

Pergumulan itu membawa konflik di antara semua mutan melawan Jean, di samping usaha Jean menghadapi kekuatan dalam dirinya sendiri.

 

Pada intinya, ini adalah kisah perempuan yang berjuang menghadapi sisi jahat dalam pribadinya. Hanya aspek cinta untuk keluarganya - X-Men - yang bisa menyelamatkan jiwa Jean, bahkan seluruh dunia.

 

Sutradara yang juga penulis Dark Phoenix, Simon Kinberg menyebut, film ini sangat berbeda dari X-Men sebelumnya.

 

“Bahan sumbernya berbeda dari komik X-Men lain yang pernah dikerjakan di masa lalu. Ini lebih kompleks secara psikologis dan mudah berubah secara emosional. Emosi yang didapatnya lebih mentah daripada banyak komik X-Men lainnya,” kata Kinberg.

 

Sineas yang sudah terlibat sejak X-Men 2006: The Last Stand, Kinberg pernah menulis maupun memproduseri berbagai karya X-Men. Pada edisi 2006 tersebut, kisah Dark Phoenix sebenarnya telah diceritakan, namun lebih dari 10 tahun berlalu, saat yang tepat untuk adaptasi lebih gelap, lebih keren, lebih setia terhadap adaptasi, yang akan menjadi tanda perpisahan bagi hampir 2 dekade X-Men.

 

Secara tema dan elemen lainnya, X-MEN: DARK PHOENIX memang berbeda dari semua film X-Men sebelumnya. Begitu juga dengan tampilannya.

 

Kinberg menyatakan, "Setelah hampir dua puluh tahun membuat gaya tertentu, tiba saatnya untuk perubahan. Saya merasa nada yang lebih baik pantas untuk cerita ini, karena saya ingin menjadi lebih kuat, intim, dan personal. Pekerjaan saya adalah memastikan bahwa semua orang mengerti, kami membuat jenis film X-Men berbeda dari yang pernah dibuat sebelumnya. X-Men yang akan terasa lebih nyata, akan terasa lebih  mudah diterima oleh penonton, dan akan terasa subversif lagi."

 

Perbedaan itu membuat Dark Phoenix seolah menjadi karya X-Men yang berdiri sendiri, dengan keunikan paling kuat terasa pada karakter Jean Grey.

 

Jean terlihat seperti pasien skizofrenia, yang mulai kehilangan identitas aslinya, karena terdesak oleh kekuatan Phoenix yang membesar. Kesan depresif dan perubahan spektrum emosional yang cepat dan membahayakan, dapat dirasakan penonton terhadap mati rasanya Jean.

 

Aktris Sophie Turner memberi komentar tentang perannya, Jean Grey / Dark Phoenix. Menurutnya, sutradara Kinberg benar-benar ingin menempatkan cerita dan perjalanan Jean di garis depan karena seringkali dalam film superhero, inti dan ceritanya bisa hilang, di balik pertunjukkan besar yang luar biasa.

 

"Jean Grey / Dark Phoenix bukan penjahat, tapi dia bukan pahlawan super yang akan menyelamatkan dunia dan semuanya baik-baik saja. Dia adalah salah satu dari beberapa karakter yang sangat tersiksa dan hancur. Ada kenyataan menyakitkan baginya, dan pengalamannya mengingatkan Anda tentang penyakit mental. Tidak terlalu keren untuk dipahami orang. Tidak ada hitam atau putih bersamanya, ini adalah area yang sangat abu-abu. Ini adalah perjuangan yang sangat riil bagi banyak orang dan itulah mengapa orang-orang mencintai Jean," kata Turner.

 

Cerita X-Men pertama yang mengangkat tokoh perempuan ini, tetap menampilkan adegan-adegan perkelahian seru, baik antar X-Men, maupun dengan musuhnya dari planet lain.

 

Meski masih ada pertanyaan yang belum sempat terjawab bagi fans setia, tetapi bagi penonton awam, Dark Phoenix asyik diikuti dari awal sampai akhir.

 

Kesan melambat dan datar juga dapat dikaitkan dengan pergulatan Jean, yang memang diarahkan dalam delusi dan kekacauan berpikir. Tak cuma termarginalkan seperti mutan pada umumnya, Jean sebagai Dark Phoenix merupakan simbol utuh dari gelapnya batas antara kebaikan dan kejahatan, di luar dari kisah superhero pada umumnya. (mus)