Buku 212 Undercover, Ungkap Fakta di Balik Aksi 212

• Jumat, 21 Jun 2019 - 00:00 WIB

JAKARTA – Peristiwa aksi 212 di silang Monas, Jakarta,  yang melibatkan jutaan umat Islam Indonesia menjadi catatan sejarah.  Demonstrasi besar-besaran terkait penista agama yang dilakukan Ahok alias Basuki Tjahaja Purnama terjadi di berbagai wilayah Indonesia.

Banyak kalangan mengkhawatirkan peristiwa tersebut akan melebar dan memicu konflik serta perpecahan antar umat di Indonesia. Karenanya, berbagai upaya dari ulama, tokoh dan elit negara saling meredam konflik tersebut.

Salah satu tokoh yang khawatir sekaligus menjadi peredam demo 212 agar tidak meluas kemana-mana adalah tokoh NU dari Jawa Timur bernama Sayyid Abdul Qadir Thoha Ba’aqil. Menurutnya, jika aksi besar seperti 212 tidak segera diredam maka akan merugikan negara Indonesia. Oleh karena itu, negara harus hadir untuk meredam kemarahan umat Islam tersebut.

“Jadi saya cuman punya ide yaitu ada silaturahmi, negara harus hadir yang kemudian pak presiden Jokowi hadir di tengah-tengah umat Islam di monas,” ujar Sayyid Abdul Qadir saat bedah buku berjudul 212 Undercover mengungkap fakta di balik aksi 212 di aula Gedung Joang 46 Jakarta Pusat, Jum’at (21/6/2019).

Sebagai tokoh dan pengusaha, Sayyid Abdul Qadir merasakan kekhawatiran jika aksi 212 berlanjut menjadi kekacauan. Hal itu juga yang mendasari pihaknya menyuarakan untuk umat damai dan adem ayem tidak terjadi kekisruhan. “Saya pengusaha, saya pengen tenang, bagaimana kalau keadaan runyam, gimana gaji karyawan dan seterusnya,” ujarnya

Menurut Sayyid Abdul, apapun bentuk masalahnya jika diselesaikan dengan cara dialog dan silaturrahmi akan selesai. Dan sebaliknya, jika negara mengambil jarak jauh, maka sekecil apapun masalahnya akan menjadi besar. “Alhamdulillah, setelah kehadiran presiden lambat laun masalah menjadi terurai hingga akhirnya selesai,” ungkap A’wan PWNU Kalimantan Selatan ini.

Ia menjelaskan bahwasannya sebagai warga negara Indonesia yang menginginkan ketentraman dan kenyamanan hidup, meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu yakni Bhineka tunggal ika. Masalah apapun yang memberikan manfaat besar terhadap negara maka negara harus hadir, begitu pula dengan masalah yang akan mengganggu kestabilan keamanan negara, negara harus bisa menyelesaikan masalah tersebut.

“Jangan jadikan perbedaan menjadi jurang melainkan rahmat dan keanekaragaman,” jelasnya. “Indonesia bisa maju dan bangkit, kalau tetap bersatu dalam perbedaan,” tambah Sayyid

Dalam acara lounching, Sayyid didampingi ustad Tawfiqurrahman anggota forum kewaspadaan dini masyarakat (FKDM) Kalimantan Selatan yang juga menjadi sekretaris MUI Kalimantan Selatan. Tawfiqurrahman merupakan tokoh yang menjembatani Sayyid dengan Kabinda Kalimantan Selatan Brigjen Hotman Sagala. Kolaborasi antara Sayyid dan Kabinda tertuang dalam cerita buku tersebut.

Sementara itu, dua penulis buku Sri Wulandari dan Evieta Fadjar menjelaskan, buku ini merupakan perjalanan dari sebuah ideologi yang dimiliki Sayyid tentang sikapnya terhadap wawasan kebangsaan. Sebuah fakta yang terjadi di balik peristiwa 212. “Dari Habib kami mengetahui banyak wawasan kebangsaan dan kepeduliannya pada Pancasila, UUD negara Indonesia 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI yang perlu digaungkan lagi demi keutuhan bangsa dan negara ini,” pungkas penulis.

Kedua penulis berharap dengan kehadiran buku ini, sikap nasionalis bangsa kita yang mulai terkikis bisa bangkit kembali dan terwujud kembali persatuan dan kesatuan bangsa. (ANP)