Mengenal Kerja BMKG untuk Penerbangan

• Monday, 8 Jul 2019 - 17:56 WIB

Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar tentang Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)?

Apakah hanya terbayang prakiraan cuaca, info bencana, dan gempa bumi?

BMKG tak hanya berurusan tentang kebencanaan, tetapi banyak hal yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.

Salah satunya dalam dunia penerbangan. Keselamatan dan kenyamanan penumpang pesawat, khususnya saat lepas landas dan mendarat, ikut dipengaruhi oleh informasi kondisi cuaca bandar udara, yang diberikan BMKG kepada penerbang.

"Informasi itu sangat berguna bagi keselamatan penerbangan, dan ini berguna hampir di semua bandara. Meski tak ada stasiun BMKG, tetapi peralatan BMKG pasti ada, yang disebut AWOS," terang Kepala Pusat Meteorologi Penerbangan BMKG Agus Wahyu Rahardjo.

Dalam peninjauan bersama media massa di New Yogyakarta International Airport, Senin (8/7/2019),  Agus menerangkan tentang Automated Weather Observing System (AWOS) karya anak bangsa BMKG, iRMAVIA.

"Dengan alat tersebut, data diolah, menggunakan bentuk sandi, dikirim langsung ke ATC, lalu diolah ATC menjadi voice, masuk ke pilot. Hal itu dilakukan setiap setengah jam," lanjut Agus. 

Sistem pengamatan cuaca otomatis atau Automated Weather Observing System (AWOS) adalah sistem pengamatan cuaca bandara yang dapat dikonfigurasi sepenuhnya untuk memberikan informasi dan laporan real time secara terus menerus mengenai kondisi cuaca bandar udara.

AWOS digunakan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam aktifitas penerbangan berupa parameter suhu udara, kelembaban udara, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, jarak pandang dan tinggi awan. Informasi tersebut kemudian ditransmisiskan ke stasiun meteorologi penerbangan dan layanan navigasi untuk panduan tinggal landas dan lepas landas pesawat terbang.

AWOS yang terinstal di bandar-bandar udara di Indonesia diklarifikasikan sesuai dengan kelengkapan sensor yang terpasang dalam sistem tersebut.

Seluruh AWOS yang terinstalasi di Indonesia merupakan pabrikan luar negeri yang telah memiliki desain sistem sendiri sehingga sulit untuk dilakukan Pengembangan sesuai karakter bandar udara di Indonesia.

Perbedaan sistem antara AWOS yang terinstalasi menyebabkan integrasi data dan sistem sulit dilakukan karena setiap pabrikan memiliki konfigurasi sistem akuisisi, komunikasi, catu daya, dan antarmuka yang berbeda satu dengan lainnya sehingga perlu suatu penyeragaman desain system AWOS yang mudah untuk diimplementasikan untuk bandar udara sesuai karakteristik Indonesia.

Solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melakukan desain system AWOS dengan konfigurasi yang mudah dirancang dan dapat dilakukan kustomisasi jumlah sensor, media komunikasi, catu daya, dan desain tampilan.

AWOS karya SDM BMKG kini terpasang di Bandara Kulonprogo DIY dan Samarinda Kalimantan Timur.
Sistem pemantauan tersebut menjadi salah satu bukti, BMKG bekerja 24 jam 365 hari dengan didukung teknologi yang ada, memberikan beragam informasi, tak hanya terkait kebencanaan, tetapi banyak sektor lainnya, termasuk penerbangan. 

(*)